KHOTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ،
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا
أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ
لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا
نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
الْمُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا
أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ
بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ
الرَّحِيْمِ: ﴿ وَاِذَا جَاۤءَهُمْ اَمْرٌ مِّنَ الْاَمْنِ اَوِ الْخَوْفِ
اَذَاعُوْا بِهٖ ۗ وَلَوْ رَدُّوْهُ اِلَى
الرَّسُوْلِ وَاِلٰٓى اُولِى الْاَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْۢبِطُوْنَهٗ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ
اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطٰنَ اِلَّا قَلِيْلًا ٨٣ ﴾. صَدَقَ اللّٰهُ
الْعَظِيْمُ.
Hadirin Sidang Jumat yang
dimuliakan Allah,
Puji syukur senantiasa
kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang tak henti-hentinya mencurahkan nikmat sehat, iman, dan
Islam kepada kita semua. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
baginda Nabi Agung Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, teladan
terbaik kita dalam berakhlak, bermuamalah, dan bersikap di tengah
kehidupan bermasyarakat.
Mengawali khotbah pada
siang hari yang penuh berkah ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi
dan kepada jamaah sekalian: Marilah kita terus meningkatkan
ketakwaan kita kepada Allah. Takwa dalam arti yang sebenar-benarnya;
menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk
menjaga akal, hati, dan lisan kita dari hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah.
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah,
Saat ini, kita hidup di
era di mana arus informasi bergerak sangat cepat. Melalui telepon genggam yang
ada di saku kita, dunia seolah dilipat. Namun, kemudahan ini datang membawa
ujian besar bagi keimanan dan akhlak kita. Hampir setiap hari, media sosial
kita dibanjiri oleh ragam narasi dan berita.
Di dalam negeri, kita
dihadapkan pada ramainya kritik, sinisme, dan berita miring tentang kebijakan
pemerintah, misalnya terkait program Makan Bergizi Gratis. Di ranah global,
layar handphone kita dijejali dengan berita-berita ketegangan
perang, seperti konflik antara Iran melawan Israel yang juga menyeret Amerika
Serikat. Seringkali, informasi tersebut dibumbui dengan narasi yang
menakut-nakuti, memprovokasi, dan menciptakan pesimisme serta ketakutan massal.
Sayangnya, banyak di
antara kita yang tanpa sadar langsung menekan tombol 'share',
'forward', atau membagikan berita tersebut ke grup-grup
keluarga dan sahabat tanpa memeriksa kebenarannya.
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Bagaimana Al-Quran
memandu kita menghadapi hal ini? Jauh sebelum ada grup WhatsApp atau media sosial lainnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan peringatan tegas
kepada kita. Mari kita tadabburi firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 83 yang
khatib bacakan di awal tadi:
"Apabila datang kepada
mereka suatu berita tentang keamanan (kemenangan) atau ketakutan (kekalahan),
mereka menyebarluaskannya. Padahal, seandainya mereka menyerahkannya kepada
Rasul dan ululamri (pemegang kekuasaan) di antara mereka, tentulah orang-orang
yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi)
dari mereka... Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu,
tentulah engkau mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja."
Dalam Tafsir Kementerian Agama, dijelaskan asbabun nuzul dan
makna mendalam ayat ini. Pada zaman Nabi, orang-orang yang lemah imannya dan
orang-orang munafik sangat gemar menyiarkan desas-desus, membocorkan rahasia
negara, dan menyebar isu ketakutan di tengah masyarakat (terutama di masa perang).
Tujuannya satu: mengacaukan keadaan dan menebar kepanikan.
Hari ini, sifat munafik
itu bisa jadi menempel pada jari-jemari kita jika kita ikut-ikutan menyebar
berita provokatif yang kita sendiri tidak tahu kebenarannya.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Dari ayat ke-83 Surat
An-Nisa ini, setidaknya ada tiga pelajaran penting
yang menjadi pedoman akhlak kita dalam menerima dan menyebarkan informasi:
Pertama, Jangan Mudah
Menyebarkan Berita Sensitif.
Jika kita menerima kabar
yang berpotensi memicu kepanikan, ketakutan, atau amarah publik (seperti
ancaman krisis, perang, atau hoaks kebijakan), tahanlah jari kita. Biarkan berita provokatif itu berhenti di handphone kita.
Jangan jadikan diri kita agen penyebar keresahan. Rasulullah ﷺ memberikan peringatan
keras dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Muslim:
كَفَى بِالْمَرْءِ
كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
"Cukuplah seseorang
dikatakan sebagai pendusta, apabila dia menceritakan (menyebarkan) segala hal
yang dia dengar." (HR. Muslim).
Kedua, Kembalikan kepada
Otoritas Resmi (Ulil Amri).
Agama mengajarkan
hierarki dan kedisiplinan informasi. Ayat tadi menegaskan, serahkan kepastian
berita itu kepada ululamri, yaitu pemerintah, aparat keamanan, atau ahli di
bidangnya. Pemerintah memiliki data yang lengkap, pertimbangan yang matang, dan
perhitungan untung-rugi bagi keselamatan rakyatnya. Tidak semua informasi harus
dikonsumsi mentah-mentah oleh publik. Biarkan pihak yang berwenang memberikan
keterangan resmi yang valid, akurat, dan menenangkan, agar masyarakat tidak
terjebak dalam kegaduhan yang tidak perlu.
Ketiga, Waspadai Tipu Daya
Setan.
Di ujung ayat tadi, Allah
mengingatkan, "Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu,
tentulah engkau mengikuti setan...". Ini adalah isyarat yang
terang benderang bahwa kebiasaan membuat hoaks, menyebar fitnah, nyinyir, dan
menciptakan provokasi di media sosial adalah pekerjaan setan.
Setan selalu ingin melihat umat manusia terpecah belah, saling benci, dan hidup
dalam kecemasan. Maka, memohonlah perlindungan kepada Allah setiap kali kita
membuka media sosial agar hati kita dijaga dari keinginan untuk pamer keburukan
atau menyebar kebencian.
Hadirin Sidang Jumat yang
mulia,
Sebagai penutup di
khotbah pertama ini, mari kita biasakan prinsip: Saring Sebelum Sharing.
Tanyakan pada diri sendiri sebelum membagikan sebuah informasi: Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini akan membawa
kedamaian atau justru perpecahan?
Semoga Allah SWT
senantiasa memberikan kita kedewasaan dalam bersikap, kejernihan dalam
berpikir, dan menjaga lisan serta jari-jemari kita dari hal-hal yang
mendatangkan dosa. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ
مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا
وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ
هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHOTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ
حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ
وَالْبَشَرِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا
عِبَادَ اللّٰهِ، اِتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ
وَمَا بَطَنَ. وَاحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ
وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ
بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ
تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ
عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي
الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ،
اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ
وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ
اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى
عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.
*Materi khotbah ini disusun oleh Nine Adien Maulana berdasarkan kajian tafsir QS. Annisa [4]: 83 yang disampaikan oleh Dr. KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi, Lc. MA dalam Musycam DP MUI Kecamatan Perak pada Ahad, 8 Maret 2026 di Pendopo Kecamatan Perak, Jombang.
.jpg)
0 Komentar