Khotbah Jumat : Harmoni Kodrat dan Kiprah dalam Kesetaraan

 

Naskah Khotbah Jumat ini disusun berdasarkan inspirasi peringatan hari Kartini pada 21 April 2026.

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin Sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian: marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa dalam arti yang sesungguhnya, yakni menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, berbekal ilmu dan pemahaman agama yang mendalam (tafaqquh fiddin).

Di bulan April ini, bangsa kita sering kali mengenang kiprah para pahlawan perempuan, khususnya menjelang tanggal 21 April. Momen ini adalah waktu yang sangat tepat bagi kita, umat Islam, untuk merenungkan kembali bagaimana pandangan objektif dan komprehensif agama kita dalam memuliakan perempuan.

Islam datang membebaskan manusia dari tradisi jahiliyah yang merendahkan martabat perempuan. Namun dewasa ini, muncul berbagai pemikiran dari luar yang mencoba membenturkan relasi antara laki-laki dan perempuan. Seolah-olah, laki-laki dan perempuan harus senantiasa berkompetisi, bersaing, dan berhadap-hadapan. Padahal, pandangan semacam ini justru merusak tatanan keluarga dan peradaban yang dibangun atas dasar kasih sayang.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Al-Qur'an dengan sangat indah meletakkan dasar kesetaraan laki-laki dan perempuan bukan sebagai pesaing, melainkan sebagai mitra strategis yang saling melengkapi. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 71:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong (mitra/pelindung) bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar..."

Ayat ini adalah fondasi teologis yang meruntuhkan pandangan patriarki yang menindas, sekaligus menolak feminisme ekstrem yang mengarah pada permusuhan gender. Laki-laki dan perempuan beriman memiliki tugas dan kapasitas sosial yang setara dalam membangun masyarakat: menggerakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Namun, kesetaraan sosial dan intelektual ini sama sekali tidak boleh mengabaikan kodrat biologis yang merupakan sunnatullah. Laki-laki tidak akan pernah bisa mengandung, melahirkan, dan menyusui. Itulah hak prerogatif dan keistimewaan luar biasa yang Allah titipkan hanya pada rahim perempuan.

Secara rasional dan empiris, mari kita renungkan. Kehidupan manusia di bumi ini akan punah tanpa adanya fungsi reproduksi yang mulia ini. Karena beratnya tugas biologis inilah, Allah mengangkat derajat ibu tiga tingkat lebih tinggi dibandingkan ayah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW ketika ditanya oleh seorang sahabat tentang siapa yang paling berhak dihormati:

قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أَبُوكَ

“Ibumu,” (sahabat bertanya lagi) “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu,” “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu,” “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadirin yang berbahagia,

Menjalani takdir dan kodrat sebagai perempuan—menjadi ibu dan pengelola rumah tangga—bukanlah sebuah pengekangan intelektual. Justru di sinilah letak peran paling fundamental bagi peradaban. Pepatah Arab mengatakan: Al-Ummu madrasatul ula, idza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq. Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya. Jika engkau mempersiapkannya dengan baik, maka engkau sedang mempersiapkan bangsa yang berakar kuat dan baik.

Secara logis, bagaimana mungkin lahir anak-anak yang cerdas, beradab, dan tangguh secara mental, jika mereka dididik oleh ibu yang dibiarkan bodoh atau direndahkan martabatnya? Inilah sebabnya, menuntut ilmu dan berpendidikan tinggi adalah fardhu 'ain bagi laki-laki maupun perempuan, demi mencetak generasi khairu ummah (umat terbaik).

Dalam sejarah Nusantara, kiprah para muslimah kita membuktikan kebenaran ini secara empiris. Para pahlawan seperti Cut Nyak Dien, Laksamana Malahayati, hingga R.A. Kartini dan Dewi Sartika, berhasil menyeimbangkan kemuliaan kodrat mereka dengan kontribusi sosial yang luar biasa.

Cut Nyak Dien turun ke medan perang memimpin pasukan, bahu-membahu bersama suaminya, Teuku Umar, demi menegakkan tauhid di bumi Aceh. Kartini tidak mengangkat senjata, namun penanya menembus batas-batas kebodohan feodalisme, menuntut ilmu, mendalami tafsir Al-Qur'an bersama Kyai Sholeh Darat, hingga ia menemukan cahaya: Minaz-Zulumati Ilan-Nuur (Dari kegelapan menuju cahaya). Mereka menjadi bukti empiris bahwa seorang muslimah bisa memiliki nalar yang tajam, kritis, dan berdaya dalam ranah publik, tanpa kehilangan adab, kelembutan, dan ketundukannya pada syariat.

Hadirin Sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Oleh karena itu, jangan sampai kita sebagai Muslim Nusantara kehilangan jati diri. Kita tidak perlu silau dengan narasi-narasi emansipasi dari luar yang sering kali mencabut akar spiritualitas. Islam telah menyediakan konsep keseimbangan yang sempurna.

Tugas kita hari ini, terutama bagi para ayah, suami, dan laki-laki pada umumnya, adalah menciptakan ruang yang aman dan memuliakan bagi para perempuan di sekitar kita. Dukung anak-anak perempuan kita untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Jadilah mitra yang baik bagi istri-istri kita dalam mendidik anak dan mengurus keluarga. Posisikan mereka sebagai rekan diskusi yang setara, bukan sebagai abdi yang hanya menerima perintah.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua, agar kita mampu membangun tatanan keluarga dan masyarakat yang dihiasi dengan harmoni, saling menghormati, dan dipenuhi oleh keberkahan rahmatan lil 'alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ: أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

*Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang – Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang


Posting Komentar

0 Komentar