[Pacarpeluk, Pak Guru NINE] - Pagi itu, Ahad, 26 Juli 2026, udara
terasa lebih sejuk
dari biasanya. Diiringi langkah yang dipenuhi rona antusiasme, saya dan istri
melangkah memasuki kediaman KH. Ilham Rohim di Morosunggingan, Peterongan. Hari
itu menjadi momen istimewa, sebab untuk pertama kalinya kami duduk bersama
dalam majelis pengajian manasik haji. Sebenarnya, ini adalah pertemuan kedua.
Karena satu dan lain hal terkait informasi, kami terpaksa absen pada pertemuan
perdana sepekan sebelumnya. Namun, hal itu sama sekali tidak menyurutkan
semangat kami. Duduk di tengah mayoritas jamaah yang diprediksi akan menyambut
panggilan Baitullah pada tahun 2027, ada getar haru dan harapan yang menyatu di
udara.
Pengajian
ini tidak sekadar rutinitas pembacaan doa. Dipandu langsung oleh KH. Ilham
Rohim, yang juga menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Haji
dan Umroh
Kabupaten Jombang, majelis ini membuka cakrawala berpikir yang sama sekali
baru. Beliau menyajikan narasi ibadah haji bukan sekadar dogma yang kaku,
melainkan sebuah perjalanan logis, realistis, dan sangat manusiawi.
Beliau
membuka pemahaman kami dengan membedah anatomi ibadah haji. Selama ini, banyak
yang membayangkan haji semata-mata sebagai rentetan ritual ibadah murni yang
berat dan menguras air mata. Namun, KH. Ilham menyegarkan perspektif kami:
rangkaian haji sejatinya berporos pada tiga aktivitas utama. Pertama, tentu
saja Ibadah itu sendiri. Kedua, Ziarah ke tempat-tempat monumental dan bersejarah.
Ketiga—dan ini yang sering dilupakan—adalah Rekreasi ke objek wisata. Pendekatan ini sangat masuk
akal. Bukankah Allah menciptakan perjalanan ini agar hamba-Nya juga mensyukuri
keindahan, meresapi sejarah peradaban, dan me-refresh jiwa dari kepenatan duniawi? Haji adalah ibadah
yang holistik; ia membahagiakan ruh sekaligus menyenangkan pikiran.
Namun,
kebahagiaan itu harus dikelola dengan ilmu. Untuk menyempurnakan praktik haji,
KH. Ilham menanamkan sebuah kerangka berpikir sederhana yang sangat rasional.
Kita hanya perlu selalu bertanya pada diri sendiri tentang tiga hal: Di mana kita berada? Sedang melakukan apa? Dan kapan waktu
pelaksanaannya? Tiga pertanyaan dasar inilah yang menjadi
"kompas navigasi" agar jamaah tidak kebingungan di Tanah Suci.
Kerangka ruang dan waktu (dimensi where dan when) dalam ibadah haji adalah mutlak. Padang Arafah,
misalnya, hanyalah hamparan pasir biasa jika kita berada di sana di luar
tanggal 9 Dzulhijjah. Ketiga pertanyaan inilah yang akan menjadi silabus utama
untuk dikupas tuntas pada pertemuan-pertemuan majelis berikutnya.
Lebih
jauh ke dalam ranah spiritual, beliau mengingatkan sebuah fondasi penting.
Segala bentuk amal shalih, tak terkecuali ibadah haji, ibarat sebuah bangunan
yang membutuhkan empat pilar utama agar berdiri kokoh: Niat, Ilmu, Sabar, dan Ikhlas. Niat adalah arah, ilmu
adalah peta jalan, sabar adalah bekal saat menghadapi rintangan, dan ikhlas
adalah kunci yang membuka pintu penerimaan di sisi Allah. Tanpa salah satu dari
keempatnya, perjalanan sejauh apa pun hanya akan berakhir sebagai kelelahan
fisik belaka.
Doa Unik
Berbicara
soal fisik, ada satu momen yang terekam sangat kuat dalam memori saya pagi itu.
Di tengah keseriusan materi, KH. Ilham mengajarkan sebuah doa dengan redaksi
bahasa Jawa yang terdengar jenaka, namun sesungguhnya memuat argumen yang
sangat faktual dan tak terbantahkan. Doa itu berbunyi: "Allaahumma mangan enak, Allaahumma turu enak, Allaahumma
mlaku enak, Allaahumma ibadah enak." (Ya Allah, berilah
hamba makan yang enak, tidur yang nyenyak, jalan yang kuat, dan ibadah yang
nikmat).
Banyak
jamaah yang tersenyum mendengar doa ini, namun mari kita cerna logikanya.
Ibadah haji adalah ibadah fisik ekstrem yang menuntut aktivitas jalan kaki
dalam jarak tempuh yang sangat jauh. Bagaimana mungkin seseorang bisa beribadah
dengan nikmat (ibadah enak) jika fisiknya sakit karena kurang gizi (tidak mangan enak) atau kelelahan akut karena kurang
istirahat (tidak turu enak)? Doa ini adalah bentuk kejujuran
seorang hamba yang menyadari batas kemanusiaannya. Karena itulah, sebagai
bentuk ikhtiar logis (persiapan mlaku enak),
KH. Ilham memersuasi seluruh calon jamaah untuk mulai mendisiplinkan diri
melatih fisik lewat olahraga atau jalan kaki secara rutin sejak saat ini. Haji
bukan sekadar persiapan dana, tetapi juga kesiapan raga.
Bertawasul Al-Fatihah
Sebagai
pamungkas yang menyentuh relung hati, KH. Ilham membagikan sebuah ijazah (amalan) berharga dari salah seorang guru
beliau. Dalam perjalanan haji, gesekan dan masalah hampir pasti terjadi—entah
itu kelelahan, tersesat, atau urusan teknis lainnya. Jika menemui kebuntuan,
beliau berpesan: bacakan dan hadiahkan surah Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad
SAW, Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, dan Siti Hajar.
Mengapa
mereka? Metafora yang digunakan sungguh indah: mereka berempat ibarat Steering Committee (Panitia Pengarah) sekaligus
perintis dari seluruh syariat ibadah haji. Lewat Al-Fatihah, kita tidak sekadar
meminta jalan keluar, tetapi kita sedang "mengetuk pintu" para
pemilik sejarah, menyambungkan batin kita dengan keikhlasan Siti Hajar saat
berlari di Safa-Marwah, kepasrahan Ismail, ketaatan Ibrahim, dan kesempurnaan
syariat yang dibawa Rasulullah SAW.
Ketika
jam menunjukkan pukul 09.30 WIB, majelis pun ditutup. Saya dan istri melangkah
pulang dengan dada yang penuh. Kami menyadari satu hal penting hari itu: ibadah
haji kami sesungguhnya tidak dimulai tahun depan saat pesawat lepas landas
menuju Jeddah. Ibadah haji kami telah dimulai detik ini—dimulai dari meluruskan
niat, mempelajari ilmunya, menyiapkan fisiknya, dan merajut kesabaran di setiap
langkah persiapannya.[pgn]
Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang – Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

0 Komentar