Dari Teks ke Live: Menjemput Makna di Ruang Digital

 

Ini adalah TERAS edisi perdana sekaligus menjadi launching talkshow virtual di live instagram @pakgurunine.

[Sidoarjo, Pak Guru NINE] - Perubahan zaman sering kali datang tanpa mengetuk pintu. Ia hadir diam-diam, lalu tiba-tiba menguasai ruang hidup kita. Begitulah pengalaman saya dengan media sosial. Pada mulanya, Facebook dengan akun Abacaraka adalah ruang paling nyaman. Di sana saya bisa menulis panjang, bertutur, dan merawat nalar melalui teks naratif. Instagram terasa asing, bahkan canggung, karena menuntut kekuatan visual yang belum saya kuasai. Saat itu, dunia grafis bukan bahasa saya.

Namun sebagai guru, saya belajar satu hal penting: kenyamanan pribadi tidak boleh mengalahkan kebutuhan pedagogis. Ketika saya menyadari mayoritas murid saya lebih aktif di Instagram, saya paham bahwa saya harus mendekat ke dunia mereka. Bukan untuk ikut-ikutan, tetapi untuk menghadirkan pendidikan di ruang yang akrab bagi mereka. Dari titik itulah proses belajar saya dimulai—mengenal fitur, memahami algoritma, dan perlahan berani memosting konten grafis, terlebih setelah Canva membuka jalan bagi guru-guru seperti saya untuk belajar desain secara mandiri.

Perlahan, Instagram tak lagi terasa asing. Bahkan, saya menghubungkannya dengan akun Facebook agar keduanya sama-sama aktif. Instagram kemudian menjadi akun utama, sementara Facebook menjadi ruang kedua yang tetap hidup. Bukan soal eksistensi, melainkan soal adaptasi: mengikuti arus tanpa kehilangan arah.

Ketika saya mulai merasa mapan di Instagram, realitas lain muncul. Murid-murid saya ternyata jauh lebih lekat dengan TikTok. Awalnya, TikTok bagi saya hanyalah etalase belanja digital. Saya menggunakannya sebagai marketplace untuk mencari referensi barang, lalu membeli. Beberapa kali transaksi berhasil, tetapi peran TikTok berhenti di situ—belum menyentuh ranah edukasi.

Kesadaran itu berubah ketika saya kembali bercermin pada peran saya sebagai pendidik. Hampir semua murid saya aktif di TikTok. Maka saya bertanya pada diri sendiri: jika ruang ini begitu mereka cintai, mengapa pendidikan tidak hadir di sana? Saya pun mengajak murid-murid kelas XII-5 berdiskusi. Saya meminta saran, ide, bahkan kritik tentang bagaimana TikTok bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran. Dengan jujur saya katakan, “Suatu saat, saya ingin mengajar kalian lewat TikTok.” Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan tekad untuk berubah.

Dari eksplorasi itu, perhatian saya tertuju pada fitur Live TikTok. Pengalaman pertama melakukan siaran langsung membuka mata saya. Dalam waktu singkat, banyak pengguna bergabung dan berinteraksi. Live TikTok terasa cair, spontan, dan dialogis. Ada denyut kehidupan yang tidak saya temukan di unggahan statis. Dari situlah lahir gagasan membuat talkshow virtual dengan memanfaatkan fitur Live TikTok mode Komal—kolaborasi massal yang memungkinkan banyak orang hadir dan berinteraksi dalam satu layar.

Saya merancang sebuah mata acara bernama OASE (Obrolan Asyik Seputar Empati). Edisi perdana direncanakan menghadirkan Aisyah Wahyu Al-Amin, murid saya kelas XII-10 yang juga anggota Parlemen Remaja DPR RI. Namun, rencana tidak selalu berjalan mulus. Gangguan teknis membuat Live TikTok itu gagal terlaksana. Alih-alih berhenti, saya memilih berbelok. Acara tersebut saya pindahkan ke Live Instagram dengan nama baru: TERAS (Temu Rasa dan Spiritualitas). Dari satu kegagalan, justru lahir dua ruang dialog.

TERAS edisi perdana berlangsung pada Sabtu malam, 27 Desember 2025, mengangkat tema “Suara Muda, Aksi Nyata”. Kami berbagi kisah tentang perjuangan, konsistensi, dan dinamika meraih prestasi. Respons publik sangat positif. Dukungan dari teman dan kolega mengalir, sekaligus menguatkan keyakinan saya bahwa ruang digital bisa menjadi ruang edukasi yang bermakna. Ke depan, TERAS dirancang menghadirkan narasumber dari Komisi Fatwa DP MUI Kabupaten Jombang untuk membincang fatwa secara ringan, dialogis, namun mencerahkan.

Sementara itu, OASE di Live TikTok terus dipersiapkan. Sambil menunggu kesiapan narasumber utama, saya rutin berlatih melalui Live TikTok terkonsep. Hasil penelitian saya tentang fenomena trend make up glowing di sekolah saya sajikan secara bertahap, episode demi episode. Tanpa terasa, Live TikTok saya menjadi ramai. Interaksi tumbuh, dialog mengalir, dan saya tak pernah kehabisan bahan untuk berbincang ringan tetapi berbobot.

Pengalaman ini mengantarkan saya pada gagasan pembelajaran yang lebih progresif: memanfaatkan Live TikTok sebagai media pembelajaran dengan model debat murid. Saya membayangkan dua kelompok—pro dan kontra—beradu argumen atas sebuah mosi, dengan saya sebagai pemandu. Fitur Komal dengan tampilan kisi memungkinkan interaksi massal yang dinamis dan kritis. Agar suasana tetap cair, saya bahkan menyiapkan perangkat karaoke. Pendidikan, bagi saya, tidak harus kaku; ia bisa serius sekaligus menghibur.

Pada akhirnya, perjalanan dari Facebook ke Instagram, lalu ke TikTok, adalah perjalanan belajar menjadi guru zaman ini. Guru yang mau belajar, berani berubah, dan terus bertumbuh. Sebab pendidikan yang hidup adalah pendidikan yang hadir di ruang zaman—menyapa, mendengar, dan menyalakan harapan.[pgn]

Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang – Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

Posting Komentar

0 Komentar