![]() |
| Untuk memancing nalar kritis, Pak Zul melempar sebuah pertanyaan membumi, sebuah realitas pasar yang jarang dianalisis mendalam oleh remaja: "Mengapa harga cabai bisa mahal pada musim penghujan ini?" |
[Jombang, Pak Guru NINE] - Siang itu,
di tengah rutinitas harian, sebuah pesan WhatsApp meluncur cepat ke layar gawai
saya, membawa debar kegembiraan yang menular. Pengirimnya adalah Taliya Kayana,
anak kedua saya. "Yah, Taliya dapat hadiah tablet dari Pak
Menteri!" tulisnya dengan antusiasme yang seolah menembus ruang
obrolan maya. Sebagai orang tua, dada ini seketika dipenuhi rasa haru. Di balik
layar kaca tersebut, tersimpan sebuah cerita berharga yang baru saja terukir di
aula utama MAN 2 Kota Malang pada Selasa (24/2) pagi.
Hari itu, madrasah tempat
Taliya menimba ilmu tengah melangsungkan agenda penting. Menteri Koordinator
Bidang Pangan Republik Indonesia, Dr. (H.C.) H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M.,
melakukan kunjungan kerja dalam rangka sosialisasi ketahanan pangan. Kunjungan
yang turut didampingi jajaran penting—mulai dari Wali Kota Malang, Kepala
Kemenag Kota Malang, hingga Kapolresta Malang Kota—tersebut rupanya jauh dari
kesan protokoler yang kaku. Aula utama madrasah justru disulap menjadi ruang
dialog interaktif yang hangat, memantik semangat ratusan siswa.
Dalam pemaparannya, Pak
Zul—sapaan akrab sang menteri—menitikberatkan pada satu fondasi peradaban:
kualitas manusia. Beliau menegaskan bahwa fisik yang kuat dan otak yang cerdas
sangat bergantung pada asupan gizi yang seimbang. Menariknya, beliau juga
sangat mengapresiasi keistimewaan pendidikan di madrasah. Perpaduan harmonis
antara ilmu agama dan pengetahuan umum diyakini mampu menjadi kawah
candradimuka yang melahirkan generasi tangguh, berilmu, dan tidak mudah putus
asa.
Puncak dari segala
inspirasi pagi itu terjadi pada sesi dialog interaktif. Untuk memancing nalar
kritis, Pak Zul melempar sebuah pertanyaan membumi, sebuah realitas pasar yang
jarang dianalisis mendalam oleh remaja: "Mengapa harga cabai bisa
mahal pada musim penghujan ini?"
Di sinilah keberanian dan
kejernihan berpikir diuji. Taliya Kayana mengacungkan tangan, berani mengambil
peluang. Alih-alih menjawab dengan teori buku teks yang rumit, Taliya merangkai
argumen logis yang berangkat dari realitas alam. "Jika hujan terus-terusan
kan cabai rentan busuk, sehingga persediaannya menjadi berkurang atau bahkan
langka. Karena persediaan terbatas sedangkan permintaan banyak, maka harga
cabai pun menjadi mahal," urai Taliya dengan lugas.
Jawaban ini sungguh
merepresentasikan pemahaman yang matang tentang hukum ekonomi dasar—hukum
penawaran dan permintaan—yang disintesiskan secara apik dengan kondisi
agroklimatologi. Taliya membuktikan bahwa literasi ketahanan pangan bukan
sekadar menghafal definisi, melainkan kemampuan membaca situasi,
mengidentifikasi sebab-akibat, dan menyajikannya dalam argumentasi yang
rasional.
Tentu saja, keberanian
Taliya tidak berdiri sendiri. Bersama empat orang temannya yang lain, mereka
sukses menunjukkan nyali untuk maju dan menjawab tantangan sang menteri.
Sebagai apresiasi atas keberanian, rasa percaya diri, dan nalar kritis
tersebut, Taliya dan keempat kawannya masing-masing berhak membawa pulang
hadiah sebuah komputer tablet bermerek Advan.
Pemberian tablet ini
memiliki makna filosofis yang jauh lebih besar dari sekadar perangkat elektronik.
Ia adalah bentuk afirmasi konkret dari pesan Pak Zul hari itu: bahwa siswa
harus berani bermimpi besar, berani tampil, dan pantang takut gagal. Kelima
siswa ini telah mengeksekusi pesan tersebut dengan sempurna, membuktikan bahwa
keberanian bersuara adalah kunci untuk membuka pintu-pintu peluang.
Kunjungan kerja yang
ditutup dengan penyerahan vandel penghargaan dan sesi foto bersama itu
meninggalkan jejak kebanggaan yang mendalam. Momen ini adalah refleksi nyata
betapa pentingnya sinergi antara pemerintah dan lembaga pendidikan. Kehadiran
sosok pemimpin di tengah-tengah siswa berhasil menjadi katalisator motivasi
yang luar biasa.
Pada akhirnya, kisah dari
sepotong cabai di musim penghujan ini bukan hanya tentang fluktuasi harga
pasar. Ini adalah kisah tentang harapan. Harapan bahwa dari rahim madrasah,
akan terus lahir generasi penerus yang cerdas merespons dinamika zaman, peka
terhadap isu ketahanan pangan, dan memiliki pondasi karakter yang kokoh. Hari
ini, Taliya dan kawan-kawannya telah memulainya dengan satu langkah kecil yang
berani.[pgn]

0 Komentar