6 Hari Sekolah: Antara Kenyataan, Harapan, dan Solusi

 

Jika kembali ke enam hari namun kurikulum tetap padat materi, fasilitas sekolah terbatas, dan metode mengajar monoton, hasilnya tidak akan berbeda. 


[Pacarpeluk, Pak Guru NINE] - Sejak lama pendidikan di Indonesia tidak pernah lepas dari dinamika kebijakan. Salah satu isu yang kembali mencuat adalah aspirasi pemberlakuan enam hari sekolah. Padahal jauh sebelum pemerintah menetapkan lima hari sekolah melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017, sekolah-sekolah di Indonesia sudah terbiasa dengan pola belajar panjang, meski dengan karakteristik yang berbeda antara sekolah swasta dan negeri.

Sekolah swasta, terutama yang bertarif mahal, sejak lama menerapkan sistem full day school sebagai layanan unggulan. Murid belajar dari pagi hingga sore dengan fasilitas memadai, program ekstrakurikuler beragam, serta lingkungan nyaman. Pola belajar ini berlangsung Senin hingga Jumat, sedangkan Sabtu dan Ahad diliburkan penuh. Para orang tua menyambut positif sistem ini karena akhir pekan bisa dimanfaatkan untuk kebersamaan keluarga. Model ini pun selaras dengan kebutuhan masyarakat yang menginginkan sekolah modern, efektif, dan kompetitif.

Berbeda dengan sekolah negeri. Sebelum adanya kebijakan lima hari, mereka menjalankan enam hari sekolah, Senin sampai Sabtu. Walau tidak dimaksudkan sebagai full day school, praktiknya siswa tetap pulang sore karena ada tambahan pelajaran atau bimbingan intensif menjelang ujian. Sayangnya, fasilitas sekolah negeri sering kali terbatas sehingga siswa merasakan beban lebih berat dibandingkan siswa sekolah swasta. Setelah diberlakukan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017, pola enam hari dipadatkan menjadi lima hari. Tetapi jam belajar panjang tetap berlangsung, sehingga yang berubah hanya jumlah hari, bukan substansi praktik belajar.

Kebijakan lima hari sekolah sejak awal memang menimbulkan pro dan kontra. Pihak yang mendukung melihat manfaatnya: guru dan siswa mendapat dua hari istirahat penuh, orang tua bisa memanfaatkan akhir pekan untuk keluarga, dan pola ini selaras dengan ritme kerja modern. Namun sebagian orang tua merasa keberatan karena beban belajar terlalu padat sehingga anak kelelahan, sementara kegiatan sosial keagamaan yang biasanya digelar Sabtu menjadi terganggu. Meski demikian, masyarakat pada akhirnya beradaptasi. Siswa terbiasa dengan jadwal padat, guru menyesuaikan metode, dan keluarga menikmati akhir pekan bersama.

Kini, wacana kembali ke enam hari sekolah kembali menguat. Alasan yang diajukan pun mirip dengan masa lalu: beban lima hari dianggap terlalu padat, enam hari diyakini memberi ruang lebih bagi pembinaan karakter, dan sebagian masyarakat menilai pola lima hari kurang sesuai dengan budaya lokal. Akan tetapi, perlu disadari bahwa kembali ke enam hari belum tentu menjawab persoalan. Dengan diberlakukannya Tes Kemampuan Akademik (TKA) mulai tahun pelajaran 2025/2026, sekolah tetap akan memberi tambahan bimbingan sehingga siswa pulang sore. Dengan kata lain, baik lima maupun enam hari, praktik full day school tetap berlangsung.

Oleh sebab itu, persoalan mendasar bukan pada jumlah hari, melainkan pada kualitas dan makna pembelajaran. Jika kembali ke enam hari namun kurikulum tetap padat materi, fasilitas sekolah terbatas, dan metode mengajar monoton, hasilnya tidak akan berbeda. Yang perlu diperbaiki adalah kualitas pembelajaran yang memberi ruang kreativitas, eksplorasi, dan keterampilan abad 21, bukan sekadar menjejali siswa dengan materi.

Selain itu, jika full day school tetap dijalankan, fasilitas pendukung harus memadai. Siswa yang belajar hingga sore butuh kantin sehat, ruang istirahat, kegiatan ekstrakurikuler variatif, serta layanan kesehatan yang baik. Tanpa itu, sekolah hanya menjadi ruang penuh tekanan, bukan tempat tumbuhnya semangat belajar.

Peran keluarga juga sangat penting. Pendidikan karakter dan nilai-nilai moral tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada sekolah. Dengan adanya dua hari libur di akhir pekan, sebenarnya orang tua punya kesempatan memperkuat peran mereka. Jika peluang ini tidak digunakan, maka menambah atau mengurangi hari sekolah tidak akan berdampak signifikan.

Karena itu, solusi yang lebih visioner adalah memberi fleksibilitas kepada sekolah untuk menyesuaikan jumlah hari dengan kondisi lokal. Sekolah di perkotaan yang ritmenya cepat bisa memilih lima hari, sementara sekolah di daerah tertentu dapat tetap enam hari jika dianggap lebih sesuai. Yang utama adalah keduanya mengedepankan kualitas pembelajaran, kesejahteraan siswa, serta relevansi dengan kebutuhan masa depan.

Aspirasi kembali ke enam hari sekolah patut dihormati sebagai bentuk kepedulian masyarakat. Namun harus dipahami, esensi pendidikan tidak terletak pada panjang atau pendeknya jumlah hari, melainkan pada bagaimana setiap hari yang dijalani siswa bermakna bagi masa depan mereka. Kita bisa memilih lima atau enam hari, tetapi yang terpenting adalah memastikan waktu belajar di sekolah mengarah pada pembentukan generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Dengan demikian, perdebatan tentang hari sekolah sebaiknya tidak hanya berhenti pada teknis jumlah hari, melainkan diarahkan pada perbaikan kualitas sistem pendidikan secara menyeluruh. Hanya dengan cara itu, sekolah benar-benar menjadi ruang pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna, serta menjadi fondasi kuat bagi masa depan bangsa.[pgn]

Nine Adien Maulana, Direktur PGN Institute – Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

Posting Komentar

0 Komentar