![]() |
| Esai ini dimaksudkan untuk memaknai Hasil TKA 2025 yang diperoleh oleh murid-murid SMAN 2 Jombang secara obyektif dan positif. |
[Jombang, Pak Guru NINE] - Ahad siang, 4 Januari 2026 adalah momen istimewa bagi murid-murid SMAN 2 Jombang. Tepat di hari itu,
sekolah secara resmi merilis hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 yang mereka telah memperjuangkan
pada awal November 2025.
Sistem pengumumannya cukup unik dan
sangat menjaga privasi. Melalui tautan https://smadajo.sch.id/tka/, setiap murid harus
memasukkan NISN dan tanggal lahir sebagai kunci akses. Hasil
itu adalah rahasia antara murid dan layar gawai mereka masing-masing.
Namun, di era digital ini,
"rahasia" seringkali menyebar lebih cepat dari cahaya. Meski didesain
privat, gelombang kekecewaan mulai terasa. Grup-grup WhatsApp murid ramai.
Mayoritas merasa terpukul. Angka-angka yang muncul di layar mereka jauh dari
ekspektasi ideal. Rasa percaya diri mereka goyah, apalagi diperparah dengan
kabar bahwa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah lebih dulu merilis
hasil TKA Nasional yang juga menunjukkan tren "kurang
menggembirakan". Seolah-olah, ini adalah kegagalan kolektif.
Senin, 5 Januari 2025. Hari pertama
sekolah usai liburan semester seharusnya disambut dengan wajah segar. Namun,
saat saya melangkah masuk ke kelas XII-4, atmosfer terasa berat. Udara di kelas
memang panas, tapi saya tahu bukan itu penyebab utamanya. Wajah-wajah di
hadapan saya masih menyiratkan "duka" akibat angka TKA kemarin.
Mereka tampak lesu, kurang antusias.
Seolah beban akademik telah menindih semangat belajar mereka. Sebagai guru,
saya tidak bisa memaksakan materi masuk ke dalam wadah yang sedang tertutup
rapat. Saya harus mengetuk pintunya dulu.
Maka, saya menyingkirkan sejenak target
kurikulum yang kaku. Kami mengobrol santai, membicarakan hal-hal ringan,
mencoba mencairkan kebekuan. Ketika mata mereka mulai berbinar kembali, saya
mengajak mereka menyelami dua ayat suci yang menjadi materi pokok semester ini:
Q.S. Al-Qasas [28]: 85 dan Q.S. Al-Baqarah [2]: 143.
"Sesungguhnya
yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur'an, benar-benar akan
mengembalikan kamu ke tempat kembali..." (Al-Qasas: 85).
Kami merenung. Bahwa setiap upaya,
setiap lelah dalam belajar, sejatinya adalah proses "pulang" menuju
versi terbaik diri kita. Kegagalan hari ini bukanlah akhir, melainkan titik
balik untuk kembali berusaha lebih keras. Sementara itu, spirit Ummatan Wasatan
(umat pertengahan/pilihan) dalam Al-Baqarah 143 mengajarkan kita untuk menjadi
saksi, menjadi teladan, dan bersikap adil—termasuk adil dalam menilai kemampuan
diri sendiri.
Malam harinya, sebuah notifikasi dari
WAG Info Resmi SMADA mengubah drastis perspektif kami. Data berbicara lain. Apa
yang dirasa sebagai "kegagalan" oleh murid-murid, ternyata adalah
sebuah kemenangan jika diletakkan dalam konteks yang lebih luas.
Laporan analisis komprehensif TKA 2025
membuka mata kita. Benar bahwa secara nasional angka-angka akademik sedang
"jeblok", tetapi murid-murid SMAN 2 Jombang justru berdiri tegak di
atas rerata, baik tingkat Jawa Timur maupun Nasional.
Mari kita bicara data, bukan asumsi. Di
saat rata-rata nasional untuk mata pelajaran Sejarah hanya menyentuh angka
62,72, murid-murid SMAN 2 Jombang melesat dengan
rerata 90,53. Ada dominasi mutlak dengan selisih +27,81 poin! Ini bukan
kebetulan. Ini adalah bukti bahwa literasi sejarah dan wawasan kebangsaan
murid-murid kita sangat matang.
Begitu pula dengan Bahasa Inggris
Lanjut dan Bahasa Indonesia. Kita unggul belasan poin di atas rata-rata
nasional. Bahkan di mata pelajaran yang menjadi "kuburan massal" bagi
siswa se-Indonesia seperti Bahasa Inggris (rerata nasional hanya 24,93), murid
kita mampu bertahan di angka 39,07. Di zona "merah" nasional, kita
masih mampu bernapas lega.
Pertanyaan kritisnya, mengapa nilai
nasional begitu rendah? Apakah murid-murid Indonesia tiba-tiba menjadi kurang
cerdas? Jawabannya: Tidak.
Saya menduga ini
adalah fenomena Academic Culture Shock. Peralihan instrumen
soal dari tipe hafalan (LOTS) ke tipe penalaran tingkat tinggi (High Order
Thinking Skills/HOTS) dan literasi sains membuat banyak siswa di luar sana
"gegar otak". Soal TKA modern tidak lagi bertanya "Apa rumus
X?", melainkan menyajikan narasi panjang, studi kasus, dan menuntut
analisis.
Rendahnya nilai nasional pada mata
pelajaran eksakta seperti Matematika dan Fisika bukan semata karena siswa tidak
bisa berhitung, saya menduga disebabkan oleh kegagalan literasi. Murid-murid gagal memahami cerita dalam soal
sebelum sempat menggunakan rumusnya.
Di sinilah letak keunggulan murid-murid SMAN 2 Jombang. Tingginya nilai mereka pada mapel berbasis bahasa dan
penalaran (Sejarah, Sosiologi, Bahasa) membuktikan bahwa nalar kritis
murid-murid kita sudah terbentuk. Guru-guru matapelajaran itu
telah berhasil mengajarkan "cara berpikir", bukan sekadar "cara
menghafal".
Namun, esai ini bukan untuk menepuk
dada dengan sombong. Data juga menyajikan "tamparan" halus yang harus
kita waspadai.
Lihatlah mata pelajaran Kimia dan Fisika.
Meskipun SMAN 2 Jombang masih di atas rata-rata nasional,
selisihnya sangat tipis. Di Kimia, kita hanya unggul 0,65 poin dan di Fisika 2,18
poin. Dalam statistik, selisih di bawah 1 poin adalah tanda bahaya. Artinya,
dominasi kita di bidang sains murni mulai terkejar oleh sekolah-sekolah
medioker lainnya. Ini adalah peringatan dini. Kita tidak boleh
terlena.
Hasil TKA 2025 ini mengajarkan kita
satu hal: Kualitas bukan sekadar angka absolut, melainkan ketahanan
(resiliensi) di tengah standar yang semakin sulit.
Kepada murid-muridku di SMAN 2 Jombang, tegakkan kepala kalian. Jangan
biarkan angka mentah mendefinisikan harga diri kalian. Kalian telah membuktikan
diri mampu bertahan lebih baik daripada jutaan siswa lain di negeri ini.
Pertahankan nalar kritis kita di bidang
humaniora, dan mari kita "bedah ulang" fondasi sains kita. Kita perlu
memperkuat literasi numerasi agar tidak hanya jago membaca teks, tapi juga jago
menerjemahkan fenomena alam ke dalam bahasa matematika.
Mari
kita jadikan momentum ini untuk "pulang" ke jalur perjuangan yang
sesungguhnya. Hasil ini adalah peta, bukan vonis. Dan di balik angka-angka ini,
terbit asa bahwa kalian adalah generasi emas yang siap menaklukkan tantangan
masa depan.[pgn]
Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN
2 Jombang
![]() |
| Tabel perbandingan nilai rerata hasil TKA SMAN 2 Jombang dibandingkan dengan Jawa Timur dan Nasional. |


0 Komentar