![]() |
| Saya menyadari bahwa ceramah Isra’ Mi’raj bukan sekadar rangkaian dalil dan kisah, melainkan cermin kejujuran bagi siapa pun yang hendak menyampaikannya. |
[Jombang, Pak Guru NINE] - Ada amanah yang datang bukan dalam
bentuk perintah resmi, melainkan dalam kesadaran perlahan yang tumbuh di dalam
hati. Menjelang peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW di SMAN 2 Jombang,
Kamis, 15 Januari 2025, saya mulai memahami bahwa saya sedang diarahkan untuk
memikul tugas menyampaikan ceramah. Ustadz M. Sulhan, rekan sekaligus sahabat
sesama guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, telah lebih dulu mengambil
peran memimpin dzikir tahlil dan doa. Dari situ,
tanpa perlu banyak kata, saya menangkap isyarat bahwa saya perlu bersiap—bukan
hanya secara materi, tetapi juga secara batin.
Kesadaran itu justru membuka ruang
perenungan yang tidak sederhana. Saya mendapati diri saya lebih sering diam,
menimbang, bahkan bertanya pada diri sendiri: layakkah saya berbicara tentang
perjalanan spiritual yang agung, sementara dalam kehidupan sehari-hari masih
ada banyak hal yang belum sepenuhnya tertata? Bukan karena saya menolak amanah,
tetapi karena saya menyadari bahwa ceramah Isra’ Mi’raj bukan sekadar rangkaian
dalil dan kisah, melainkan cermin kejujuran bagi siapa pun yang hendak
menyampaikannya.
Maka, alih-alih tergesa menyusun teks
ceramah yang mengawang-awang, saya memilih berjalan perlahan. Saya mulai
menyusun materi dengan satu prinsip sederhana: jika kelak kata-kata itu
disampaikan, biarlah ia lahir dari pengalaman manusiawi yang nyata. Tidak
terlalu ideal, tidak pula berpura-pura sempurna. Saya ingin Isra’ Mi’raj hadir
sebagai kisah yang dekat dengan keseharian guru dan siswa, bukan sebagai
dongeng langit yang jauh dari bumi.
Dalam proses itulah saya kembali
menempatkan Isra’ Mi’raj pada konteks sejarahnya. Peristiwa itu terjadi pada ‘Amul
Huzn, tahun kesedihan. Nabi Muhammad SAW baru saja melewati fase hidup yang
secara emosional sangat berat. Beban dakwah, kehilangan orang-orang terdekat,
dan tekanan sosial bertumpuk dalam satu masa. Justru di titik rapuh itulah
Allah memperjalankan beliau. Seakan ada pesan lembut yang menyelinap di antara
ayat dan riwayat: bahwa perjalanan spiritual sering kali dimulai saat manusia mengakui
keterbatasannya.
Renungan itu semakin dalam ketika saya
membaca ulang kisah para nabi lain yang diuji bukan hanya di ruang publik,
tetapi juga di ruang paling privat. Al-Qur’an tidak menyembunyikan fakta bahwa
perjuangan kenabian kerap bersinggungan dengan luka batin dan kegelisahan
terdalam. Gus Baha pernah menjelaskan bahwa kisah-kisah itu dihadirkan agar
manusia belajar satu hal penting: keberhasilan tidak selalu identik dengan
hasil yang segera tampak. Ada usaha yang nilainya terletak pada ketekunan dan
kesetiaan, bukan pada capaian yang kasatmata.
Dari sini, kata Subhana di awal
Surah Al-Isra’ terasa memiliki makna yang lebih luas. Maha Suci Allah—sebuah
pengakuan bahwa tidak semua hal harus tunduk pada logika manusia. Perjalanan
Nabi dalam satu malam mungkin sulit dipahami, sebagaimana banyak proses hidup
yang terasa lambat dan penuh tanda tanya. Namun, iman mengajarkan untuk tetap
melangkah di tengah gelap, percaya bahwa Allah sedang “memperjalankan”
hamba-Nya menuju titik yang lebih terang, meski arah itu belum sepenuhnya
terlihat.
Dalam rancangan materi ceramah itu pula
saya menemukan makna ketersambungan atau sanad. Nabi Muhammad SAW dipertemukan
dengan para nabi terdahulu bukan sekadar sebagai peristiwa simbolik, melainkan
sebagai penegasan bahwa perjuangan selalu memiliki mata rantai. Tidak ada
perjalanan besar yang ditempuh sendirian. Pesan ini terasa penting untuk dunia
pendidikan: bahwa guru dan siswa terikat oleh relasi nilai, bukan kesempurnaan
pribadi. Ilmu dan kebaikan mengalir justru melalui manusia-manusia yang terus
belajar memperbaiki diri.
Dan akhirnya, semua perenungan itu
bermuara pada shalat. Oleh-oleh utama dari Mi’raj. Shalat hadir bukan sebagai
beban administratif atau rutinitas kering, melainkan sebagai ruang jeda bagi
jiwa yang lelah. Tempat kembali ketika kata-kata terasa buntu dan langkah
terasa berat. Dalam shalat, manusia diajak untuk jujur sepenuhnya—tentang
lelah, tentang harap, dan tentang ketergantungan kepada Allah.
Saya masih berada di ruang sunyi ini.
Materi ceramah itu masih saya susun, saya timbang, dan saya perbaiki. Namun,
sebelum satu kata pun benar-benar terucap di mimbar, Isra’ Mi’raj telah lebih
dulu mengajarkan saya satu pelajaran penting: bahwa perjalanan menuju langit
selalu dimulai dari keberanian menatap bumi apa adanya. Dan barangkali, dari
sanalah makna sejati sebuah ceramah seharusnya berangkat.[pgn]
Nine
Adien Maulana, GPAI SMAN 2 Jombang – Sekretaris DP MUI
Kabupaten Jombang

0 Komentar