![]() |
| Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak pembaca melihat realitas aktual dan faktual dari apa yang kami alami dalam realisasi MBG di SMAN 2 Jombang. |
[Jombang, Pak Guru NINE] - Sebagai seorang Aparatur
Sipil Negara (ASN) yang mengabdi sebagai Guru
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAIBP) di SMAN 2 Jombang, saya
menyadari betul posisi saya. Di satu sisi, saya adalah bagian dari instrumen
negara yang memiliki kewajiban moral untuk mendukung serta menyukseskan
kebijakan pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun di
sisi lain, bersama dengan murid-murid di kelas, saya juga berdiri sebagai salah
satu dari puluhan juta penerima manfaat langsung dari program berskala raksasa
ini.
Tentu, saya tidak hidup
dalam ruang hampa yang kedap kritik. Saya tidak menafikan adanya hiruk-pikuk
pro dan kontra yang mengiringi jalannya program ini. Berita mengenai kasus
keracunan massal atau sajian menu yang dianggap kurang layak di beberapa daerah
memang sempat mewarnai lini masa kita. Namun, mari kita melihatnya dengan
kacamata yang lebih jernih dan proporsional. Setiap program baru berskala
nasional pasti memiliki ruang untuk trial and error.
Kasus-kasus tersebut nyatanya cepat ditangani, dievaluasi, dan diperbaiki oleh
pihak terkait.
Jika ada penyimpangan
fatal yang berujung pidana, biarlah aparat penegak hukum yang bekerja. Jika ada
kendala teknis operasional, biarlah Badan Gizi Nasional (BGN) dan Satuan
Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang membenahinya. Tugas kami di garda depan satuan pendidikan sederhana
saja: memastikan hak MBG
murid tersampaikan, dan jika ada yang tidak layak, kami akan langsung menempuh
prosedur pelaporan resmi melalui sekolah. Faktanya, hingga detik esai ini
ditulis, program MBG terus bergulir dengan perbaikan demi perbaikan yang nyata.
Melalui tulisan ini, saya
ingin mengajak pembaca melihat realitas aktual
dan faktual dari apa yang kami alami. Di SMAN 2 Jombang, Rabu, 4 Maret 2026 adalah momen pertama kalinya
kami menerima distribusi MBG yang disuplai langsung oleh SPPG Pulo Lor Jombang.
Hingga esai ini ditulis, tidak ada kendala
berarti yang kami temui. Makanan yang disajikan sangat baik, pantas, dan
memenuhi standar gizi. Menunya pun dirancang sedemikian rupa agar relevan
dengan lidah Generasi Z. Sebuah variasi rasa yang kadang memaksa kami—para guru
dari generasi yang berbeda—untuk sedikit berkompromi dan menyesuaikan diri
dengan selera kekinian mereka.
Program ini juga adaptif.
Memasuki bulan suci Ramadan 1447 H, format MBG menyesuaikan diri dengan
kearifan lokal berpuasa. Kami menerima paket makanan dan minuman kemasan yang
tahan lama untuk dibawa pulang sebagai bekal berbuka. Pasca-Ramadan, kami kembali menerima
sajian makanan siap santap dalam wadah tatakan khas SPPG, yang dinikmati
murid-murid dengan penuh canda tawa di bangku kelas masing-masing.
Apakah semuanya sempurna
tanpa cela? Tentu ada saja kekurangan kecil yang masih sangat wajar. Suatu
hari, kami mendapati porsi nasi yang disajikan agak kurang tanak—kemungkinan
karena keburu diangkat dari perapian dapur umum yang sibuk. Andai ditunggu
sedikit lebih lama, teksturnya pasti akan jauh lebih pulen dan sempurna. Namun,
hal-hal minor semacam ini sama sekali tidak mengurangi nilai manfaatnya.
Buktinya, saat saya melakukan survei kecil-kecilan di kelas, jawaban
murid-murid begitu kompak dan melegakan, “Enak, Pak! Bagus dan sangat layak!”
Mendengar respons positif
tersebut, insting saya sebagai Guru PAIBP pun tergerak. Ini adalah momentum
terbaik untuk mengajarkan nilai kesadaran etis dan rasa syukur. “Anak-anak,”
pesan saya kepada mereka, “Silakan buat konten di media sosial kalian.
Sampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah RI, BGN, SPPG Pulo Lor beserta
seluruh timnya, dan jangan lupa Tim Penyalur MBG SMAN 2 Jombang yang
dikomandani langsung oleh Bapak Waka Humas!”
Langkah ini bukan sekadar
glorifikasi, melainkan sebuah tanggung jawab moral. Siapa pun yang telah menerima
kebaikan sepatutnya mengucapkan terima kasih. Lebih dari itu, ungkapan syukur
yang disuarakan di ruang publik digital akan menjadi penyeimbang informasi yang
sangat objektif. Kita tahu, selama ini media sosial kerap kali didominasi oleh
narasi minor dan nyinyiran kritis yang mengaburkan berjuta kebaikan yang sedang
terjadi di lapangan.
Rasa optimisme ini
semakin menebal ketika di kesempatan lain, saya sedang melakukan siaran live di TikTok melalui akun @pakgurunine. Tiba-tiba,
seorang alumnus SMAN 2 Jombang yang kini tengah berjuang di program studi Ilmu
Gizi sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta bergabung ke dalam ruang obrolan.
Dengan penuh harap, mahasiswi itu memohon doa restu, “Pak Nine, doakan tahun depan saya
lulus ya, supaya saya bisa mengabdi menjadi ahli gizi di salah satu SPPG.”
Percakapan singkat itu
menyadarkan saya pada satu kesimpulan besar. Jika selama ini kita memandang MBG
hanya dari lensa mikro—yaitu perut siswa yang kenyang di sekolah—maka kita
kehilangan gambaran besarnya. Program MBG sejatinya adalah sebuah desain makro ekonomi yang menggerakkan
sektor produktif paling dasar di negeri ini.
Melalui desentralisasi
dapur umum, program ini menciptakan efek domino (multiplier effect)
yang luar biasa. Pertama, dari sisi ketenagakerjaan, SPPG telah
membuka keran lapangan kerja berskala masif. Setiap titik SPPG
menyerap puluhan tenaga kerja lokal: juru masak, ahli gizi, tenaga pengemas,
petugas kebersihan, hingga kurir distribusi.
Kedua,
program ini memompa darah segar bagi ekonomi pertanian dan peternakan. SPPG
hadir sebagai captive market atau pasar pasti bagi para petani.
Masalah klasik anjloknya harga saat panen raya kini teratasi karena hasil bumi
diserap secara harian dengan harga wajar. Di saat yang sama, standar gizi yang
mewajibkan protein hewani menjadi jaminan rantai pasok bagi para peternak
lokal. Lahan-lahan tidur pun kembali digarap karena adanya kepastian permintaan
dari dapur umum terdekat.
Ketiga,
terjadi pemberdayaan luar biasa di sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Anggaran negara tidak lagi menguap ke korporasi raksasa di pusat, melainkan
berputar langsung di kantong-kantong ekonomi daerah. Produsen tahu, tempe,
bumbu racikan, hingga perajin kemasan dan alat makan mendapatkan pesanan dalam
jumlah besar secara kontinu. Perputaran uang (local loop economy)
ini secara nyata mendongkrak daya beli masyarakat setempat.
Pada akhirnya, dari balik
senampan makanan bergizi yang tersaji di meja murid-murid SMAN 2 Jombang, kita
melihat wajah Indonesia yang sedang bergerak maju. SPPG bukan sekadar bangunan
dapur tempat menanak nasi; ia adalah mesin penggerak wilayah yang beroperasi
berkat peluh para petani, peternak, dan pelaku UKM local menuju kemakmuran.[pgn]
Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang

0 Komentar