![]() |
| Sekolah adalah taman tempat berseminya ilmu pengetahuan dan akhlak, bukan panggung untuk menunjukkan kekuasaan atau ajang adu kekuatan. |
KHOTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللّٰهِ وَنَهَانَا عَنِ
التَّفَرُّقِ وَالْخِلَافِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ
لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ،
فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا
تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ
كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ
اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: ﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا
يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ ﴾
صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيْمُ.
Jamaah Sidang Jumat yang
dimuliakan Allah,
Puji syukur senantiasa kita panjatkan
ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala atas limpahan
nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga pada siang hari yang penuh berkah
ini kita dapat berkumpul di masjid yang mulia ini. Salawat serta salam semoga
senantiasa tercurah kepada teladan umat manusia, Baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beserta keluarga,
sahabat, dan umatnya yang setia hingga akhir zaman.
Mengawali khotbah pada hari yang sayyidul aiyyam ini, khatib senantiasa berwasiat kepada
diri pribadi dan jamaah sekalian: Marilah kita terus meningkatkan
ketakwaan kita kepada Allah. Bukti nyata dari ketakwaan bukan
sekadar panjangnya ibadah shalat dan bacaan Al-Qur'an kita di masjid, melainkan
juga bagaimana ibadah tersebut memantul menjadi akhlak yang mulia, kedamaian,
dan keharmonisan di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan di
lingkungan pendidikan kita.
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah,
Saat ini, kita berada pada momen tahun
ajaran baru, sebuah momen di mana anak-anak kita, generasi penerus bangsa,
kembali memasuki gerbang sekolah. Kedatangan siswa-siswi baru seyogianya
disambut dengan senyum ukhuwah dan bimbingan. Namun, hari ini kita dihadapkan
pada realitas sosial yang memprihatinkan. Konteks sosial dan pendidikan kita
sering kali dicemari oleh isu perundungan (bullying), budaya
pamer kekayaan (flexing), dan senioritas yang
sangat berlebihan (toksik).
Berapa banyak anak-anak yang berangkat
ke sekolah dengan hati berdebar bukan karena semangat belajar, melainkan karena
takut diintimidasi? Berapa banyak adik kelas yang menjadi korban kekerasan
verbal dan fisik hanya karena dalih "tradisi turun-temurun"?
Oleh karena itu, momen ini adalah waktu
yang sangat tepat bagi kita semua—baik sebagai orang tua, guru, maupun para
pelajar (khususnya kakak kelas di kelas XI dan XII)—untuk mereset budaya
sekolah menjadi lebih Islami, ramah, dan memanusiakan manusia.
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Untuk mewujudkan ekosistem sekolah yang
aman dan penuh persaudaraan, ada dua hal penting yang harus kita sadari dan
tanamkan kepada generasi kita:
Pertama, Memutus Rantai
Senioritas yang Toksik.
Sekolah adalah taman tempat berseminya
ilmu pengetahuan dan akhlak, bukan panggung untuk menunjukkan kekuasaan atau
ajang adu kekuatan. Kedatangan adik kelas bukanlah sasaran empuk untuk
melampiaskan ego dan mempraktikkan perundungan. Sebaliknya, menjadi kakak kelas
atau "senior" adalah amanah untuk membimbing, mengayomi, dan menjadi
teladan yang baik.
Agama kita secara tegas melarang keras
segala bentuk perundungan, baik itu merendahkan, menghina, maupun memanggil
dengan sebutan yang menyakiti hati. Allah SWT memperingatkan kita dalam Surat
Al-Hujurat ayat 11:
﴿ يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا
خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا
مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ
بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ
فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ١١ ﴾
"Wahai orang-orang yang
beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi
mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)...
Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil
dengan gelar-gelar yang buruk..." Ayat ini adalah deklarasi Al-Qur'an
anti-verbal bullying. Menghina bentuk fisik, merendahkan
asal usul sekolah dasar atau menengah pertama sang adik kelas, adalah perbuatan
fasik yang diancam oleh Allah sebagai kezaliman.
Kedua, Menjadikan Sekolah
sebagai Rumah Aman
Sekolah harus kita kembalikan pada hakikatnya sebagai rumah ukhuwah islamiyah (persaudaraan Islam) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). Di rumah ini, tidak
boleh ada diskriminasi hanya karena latar belakang ekonomi keluarga. Tidak
perlu ada yang pamer kekayaan (flexing) untuk
diakui, karena di mata Allah, kemuliaan tidak diukur dari merk sepatu atau
jenis kendaraan, melainkan dari kebersihan hati dan budi pekerti.
Rasulullah ﷺ mendefinisikan seorang muslim sejati bukan
sekadar dari syahadatnya, melainkan dari keamanan yang dirasakan orang lain di
sekitarnya. Dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim,
Baginda Nabi ﷺ
bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ
الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
"Seorang muslim adalah
orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan
Muslim).
Hadis ini sangat relevan. Selamat dari lisannya berarti tidak ada ejekan, tidak
ada caci maki di dunia nyata maupun cyberbullying di
media sosial. Selamat dari tangannya berarti tidak ada pemukulan,
tidak ada pemalakan, dan tidak ada kekerasan fisik di lingkungan sekolah.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Sejalan dengan dalil Al-Qur'an dan
Hadis di atas, ulama besar yang juga pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH.
Hasyim Asy'ari, dalam kitab beliau yang sangat masyhur, Adabul 'Alim wal Muta'allim, memberikan panduan yang
otoritatif. Beliau menegaskan bahwa seorang penuntut ilmu (muta'allim) wajib membersihkan hatinya dari akhlak yang
tercela seperti kesombongan, kedengkian, dan permusuhan.
KH. Hasyim Asy'ari mengingatkan bahwa
ilmu yang dipelajari tidak akan membawa keberkahan (manfaat)
jika di dalam dada pelajarnya masih ada sifat merendahkan orang lain. Beliau
mengajarkan agar antarsesama penuntut ilmu senantiasa berkasih sayang, saling
menghormati, dan bersikap tawadhu' (rendah hati). Ilmu tidak akan pernah
bersatu dengan kesombongan, ibarat air yang tidak akan pernah mengalir ke
tempat yang lebih tinggi.
Jamaah Sidang Jumat yang mulia,
Sebagai penutup, mari kita awasi,
bimbing, dan doakan anak-anak kita. Mari kita ciptakan kultur damai, menanamkan
pada diri mereka bahwa menjadi kuat tidak harus menindas, dan menjadi hebat
tidak harus merendahkan orang lain. Kita putus rantai perundungan dan balas
dendam angkatan. Jadikan sekolah dan madrasah kita sebagai taman surga tempat
ilmu bersemi dan akhlak mulia bertumbuh.
Semoga Allah SWT menjaga anak-anak
kita, melembutkan hati mereka, dan menjadikan generasi penerus bangsa ini
sebagai generasi yang cerdas akalnya, mulia akhlaknya, dan selamat hidupnya di
dunia maupun di akhirat. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ
هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHOTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا
كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ
اللّٰهِ، اِتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا
بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ،
وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ
قَائِلًا عَلِيْمًا: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ
عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ
الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.
Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang-Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

0 Komentar