Menjaga Integritas di Tengah Godaan Zaman

 

Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum DP MUI Kabupaten Jombang, KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi, menyampaikan kajian Al-Qur'an tematik yang mengupas Surat Al-A'raf ayat 169. 

[Jombang, Pak Guru NINE] - Ahad, 19 Juli 2026 menjadi momentum yang penuh makna bagi keluarga besar Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) Kabupaten Jombang. Dalam suasana sejuk dan teduh di lingkungan Masjid Nurul Ihsan Kalijaring, Desa Kalikejambon, Kecamatan Tembelang, diselenggarakan kegiatan Capacity Building. Lebih dari sekadar agenda penguatan organisasi, kegiatan ini menjadi ruang perenungan untuk meneguhkan kembali arah perjuangan di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum DP MUI Kabupaten Jombang, KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi, menyampaikan kajian Al-Qur'an tematik yang mengupas Surat Al-A'raf ayat 169. Kajian tersebut mengingatkan bahwa tantangan terbesar generasi mendatang bukan semata kemajuan teknologi atau perubahan sosial, melainkan krisis nilai yang perlahan menggerus integritas manusia. Dua penyakit utama yang disoroti adalah materialisme-pragmatisme agama serta inkonsistensi moral atau standar ganda.

Al-Qur'an menggambarkan adanya generasi yang mewarisi kitab suci, tetapi lebih memilih mengejar keuntungan dunia yang sesaat. Mereka mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, namun tetap mengabaikannya demi kepentingan pribadi. Lebih ironis lagi, mereka menenangkan hati dengan keyakinan bahwa Allah pasti akan mengampuni dosa-dosa mereka. Sikap inilah yang disebut sebagai materialisme agama, yaitu ketika agama tidak lagi menjadi petunjuk hidup, melainkan sekadar pembenaran atas kepentingan duniawi.

Kisah Ashabus Sabti menjadi contoh yang sangat relevan. Allah melarang mereka menangkap ikan pada hari Sabtu sebagai bentuk ujian ketaatan. Namun, mereka mencari celah dengan memasang perangkap pada hari Jumat dan mengambil hasilnya pada hari Ahad. Secara formal mereka merasa tidak melanggar aturan, tetapi secara hakikat mereka telah mengakali hukum Allah. Mereka lebih sibuk mencari pembenaran daripada menjaga ketakwaan.

Fenomena serupa ternyata tidak hanya menjadi kisah masa lampau. Dalam kehidupan modern, praktik menghalalkan segala cara sering kali dibungkus dengan istilah-istilah yang terdengar baik. Suap berubah nama menjadi "uang terima kasih", gratifikasi dianggap sebagai bentuk penghormatan, bahkan manipulasi hukum dikemas sebagai kecerdasan mencari celah regulasi. Tidak sedikit pula yang merasa cukup menebus kesalahan dengan memperbanyak sedekah atau menyumbang kegiatan sosial, seolah amal kebaikan dapat menjadi alasan untuk melegalkan keburukan yang dilakukan. Padahal, Allah tidak menghendaki manusia mempermainkan aturan-Nya demi keuntungan sesaat.

Penyakit kedua yang dijelaskan dalam kajian tersebut adalah inkonsistensi moral. Al-Qur'an menyebutkan bahwa ketika datang lagi tawaran keuntungan yang serupa, mereka akan kembali mengambilnya. Artinya, kesalahan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus disesali, melainkan menjadi pola hidup yang terus berulang tanpa rasa bersalah.

Kisah Bal'am bin Ba'ura' menjadi pelajaran yang sangat berharga. Sebagai seorang yang memiliki ilmu dan kedudukan terhormat, ia justru tergoda oleh kekuasaan dan imbalan materi hingga menggunakan ilmunya untuk menyesatkan kebenaran. Dalam konteks kekinian, kondisi serupa dapat terjadi ketika seorang akademisi, ahli hukum, tokoh masyarakat, atau siapa pun yang semestinya berdiri di atas nilai keadilan, justru mengubah pendiriannya karena jabatan, proyek, atau keuntungan finansial. Ilmu yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi alat untuk memutarbalikkan fakta.

Fenomena tersebut menjadi peringatan bahwa ancaman terbesar bukanlah kurangnya orang pintar, melainkan hilangnya integritas dari orang-orang yang memiliki pengetahuan. Ketika ilmu kehilangan akhlak, kecerdasan justru dapat menjadi sarana untuk melakukan keburukan secara lebih rapi dan sistematis.

Lalu bagaimana Al-Qur'an menawarkan jalan keluarnya? Jawabannya telah disebutkan dalam lanjutan ayat tersebut. Pertama, berpegang teguh pada perjanjian Allah dengan terus mempelajari, memahami, dan mengamalkan Al-Qur'an. Membaca Al-Qur'an bukan sekadar melafalkan ayat-ayatnya, melainkan menjadikannya sebagai kompas moral dalam setiap keputusan kehidupan. Nilai-nilai Al-Qur'an harus hadir dalam dunia pendidikan, pemerintahan, ekonomi, keluarga, hingga kehidupan bermasyarakat.

Kedua, memprioritaskan kehidupan akhirat. Al-Qur'an menegaskan bahwa negeri akhirat jauh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Kesadaran bahwa seluruh amal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah akan melahirkan kehati-hatian dalam bertindak. Seseorang yang berorientasi akhirat tidak mudah tergoda oleh keuntungan sesaat, karena ia memahami bahwa keberhasilan sejati bukan diukur dari banyaknya harta atau tingginya jabatan, melainkan dari keridaan Allah.

Kajian ini menjadi cermin bagi kita semua. Penyakit yang dahulu menimpa Bani Israil dapat pula menjangkiti umat Islam apabila kehidupan material lebih diutamakan daripada kehidupan spiritual. Oleh karena itu, membangun generasi yang kuat tidak cukup hanya dengan meningkatkan kecerdasan intelektual. Yang jauh lebih penting adalah menanamkan kejujuran, amanah, rasa takut kepada Allah, serta keberanian mempertahankan kebenaran meskipun harus berhadapan dengan berbagai godaan dunia.

Capacity Building DP MUI Kabupaten Jombang akhirnya tidak hanya memperkuat kapasitas organisasi, tetapi juga memperkokoh kesadaran bahwa perjuangan menjaga moral bangsa harus dimulai dari diri sendiri. Sebab, masa depan yang bermartabat tidak dibangun oleh orang-orang yang pandai mencari celah, melainkan oleh mereka yang tetap teguh memegang prinsip ketika dunia menawarkan begitu banyak godaan.[pgn]

Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang – Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

Posting Komentar

0 Komentar