Muraqabah: Benteng Terakhir di Tengah Badai Korupsi

 

Kejahatan itu merajalela karena hilangnya sebuah fondasi spiritual yang bernama Muraqabah—yakni kesadaran penuh bahwa diri kita senantiasa diawasi oleh Allah SWT.

KHOTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُوْرُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْعَلِيُّ الْغَفُوْرُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الشَّكُوْرُ الصَّبُوْرُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ هُمْ مَصَابِيْحُ النُّوْرِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mengawali khotbah pada siang hari yang penuh barakah ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada hadirin sekalian: marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa dalam arti yang sesungguhnya. Menjalankan segala perintah-Nya di mana pun kita berada, dan menjauhi segala larangan-Nya, baik saat di keramaian maupun saat kita bersendirian.

Sidang Jumat yang mulia,

Hari-hari ini, dada kita sesak. Telinga kita, mata kita, dan ruang-ruang keluarga kita dijejali dengan berita yang memilukan. Kita menyaksikan orang-orang yang seharusnya menjadi penjaga keadilan, para pemangku kebijakan, hingga para penegak hukum, justru jatuh dan terjerat dalam lembah nista bernama korupsi.

Sungguh, realitas ini memunculkan sebuah dilema yang amat berat, terutama bagi para orang tua dan pendidik. Di satu sisi, di ruang-ruang kelas dan di rumah, kita berjuang keras menanamkan nilai kejujuran, menyosialisasikan literasi antikorupsi kepada anak-anak dan murid-murid kita. Namun di sisi lain, di luar sana, mereka disuguhi tontonan para petinggi yang tanpa rasa malu mengkhianati amanah. Bagaimana mungkin anak-anak kita bisa belajar integritas jika krisis keteladanan ini terus dibiarkan?

Hadirin yang dirahmati Allah,

Kenyataan pahit ini membuktikan satu hal: kita sedang mengalami krisis pengawasan yang akut. Hukum buatan manusia dan aparat penegaknya, sehebat apa pun sistemnya, memiliki celah. CCTV memiliki blind spot atau titik buta. Laporan keuangan bisa dimanipulasi. Bahkan, saksi dan hakim pun di dunia ini bisa disuap.

Namun, ketahuilah bahwa kejahatan terbesar, termasuk mentalitas koruptif, terjadi bukan semata-mata karena lemahnya sistem hukum negara. Kejahatan itu merajalela karena hilangnya sebuah fondasi spiritual yang bernama Muraqabah—yakni kesadaran penuh bahwa diri kita senantiasa diawasi oleh Allah SWT.

Kita harus menggeser paradigma kita. Rasa takut tidak boleh lagi hanya disandarkan pada hukum manusia yang bisa direkayasa, melainkan harus berupa ketundukan mutlak pada hukum Allah Yang Maha Melihat. Allah SWT dengan tegas mengingatkan kita dalam Surah Al-Mujadilah ayat 7, sebagaimana yang khatib bacakan di awal tadi:

"Tidakkah engkau perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada pembicaraan antara lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada..."

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Konsep Muraqabah ini adalah inti dari derajat keimanan tertinggi, yaitu Ihsan. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim, ketika Malaikat Jibril bertanya kepada Rasulullah SAW tentang apa itu Ihsan, Nabi menjawab:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. Muslim).

Mentalitas koruptif tidak datang tiba-tiba dengan merampok uang negara miliaran rupiah. Tidak, hadirin. Korupsi selalu dimulai dari hal-hal kecil. Ia berakar dari menormalisasi ketidakjujuran saat kita merasa tidak ada manusia yang melihat. Ia bermula dari seorang murid yang terbiasa menyontek saat ujian. Ia bermula dari kebiasaan mengambil barang milik teman yang bukan haknya. Ia bermula dari kita yang gemar memanipulasi daftar hadir dan waktu kerja.

Jika hal-hal kecil ini dibiarkan tanpa adanya teguran dan muraqabah, maka ia akan tumbuh menjadi monster keserakahan saat seseorang diberikan kekuasaan.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Tentu, kesadaran muraqabah pada tataran individu harus dibarengi dengan ketegasan dari para pemimpin negara. Kita mendesak penegakan hukum yang berkeadilan, tanpa tebang pilih. Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali dalam kitabnya menegaskan sebuah prinsip kausalitas yang sangat relevan dengan kondisi kita:

"Rusaknya rakyat adalah karena rusaknya para penguasa, dan rusaknya penguasa adalah karena rusaknya para ulama, dan rusaknya ulama adalah karena cinta pada harta dan kedudukan."

Hukum harus ditegakkan di dunia. Namun, jika pun ada koruptor yang berhasil lolos dari pengadilan dunia karena kelihaiannya menyuap dan merekayasa pasal, ingatkanlah mereka tentang satu pengadilan yang pasti terjadi: Pengadilan Yaumul Hisab.

Di pengadilan akhirat kelak, tidak ada lagi pengacara yang bisa membela. Tidak ada lagi hakim yang bisa disuap. Mulut-mulut yang pandai bersilat lidah akan dikunci rapat. Sebagai gantinya, tangan-tangan yang pernah menerima suap akan berbicara, dan kaki-kaki yang melangkah menuju tempat maksiat akan memberikan kesaksian di hadapan Allah SWT.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan Muraqabah sebagai benteng pertahanan terakhir kita. Mari kita mulai dari diri kita sendiri, keluarga kita, dan anak-anak didik kita. Ajarkan kepada mereka bahwa meski tidak ada polisi, tidak ada guru, tidak ada atasan yang mengawasi, ada Allah Yang Maha Menatap.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing hati kita, menjaga lisan dan perbuatan kita dari memakan harta yang haram, serta menganugerahkan pemimpin dan penegak hukum yang adil, jujur, dan amanah bagi bangsa ini. Amin ya Rabbal 'Alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang-Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

Posting Komentar

0 Komentar