Khotbah Jumat: Seni Bersyukur Merayakan Takdir dan Keunikan Setiap Anak

 

Tataplah wajah mereka saat terlelap, dan sadarilah bahwa mereka adalah hadiah terbaik dari langit. Hentikan membanding-bandingkan mereka dengan anak orang lain. Maafkan kekurangan mereka, dukung kelebihan mereka, arahkan masa depan mereka, dan iringi setiap langkah mereka dengan doa yang tiada henti.

KHOTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَوْلَادَ زِيْنَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَأَمَانَةً فِيْ أَعْنَاقِنَا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الَّذِيْ خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَأُسْوَةً لِلْمُرَبِّيْنَ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin Jemaah Sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Dari atas mimbar yang mulia ini, khatib senantiasa mengingatkan diri khatib pribadi dan jemaah sekalian untuk terus memupuk ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk takwa dalam menjalankan amanah terbesar yang Allah titipkan di dalam rumah kita, yakni anak-anak dan keturunan kita.

Ma'asyiral Muslimin, Rahimakumullah,

Anak adalah kepingan hati, penyejuk mata, dan ladang pahala yang tak terputus. Namun, dalam perjalanan membesarkan mereka, kita sebagai orang tua sering kali dihadapkan pada ujian kesabaran dan keikhlasan. Hari ini, mari kita renungkan sebuah tema penting dalam tarbiyah (pendidikan) keluarga kita, yakni: Seni Bersyukur dalam Merayakan Takdir dan Keunikan Setiap Anak.

Pertama: Menyadari Fitrah dan Keunikan Anak

Jemaah yang dirahmati Allah, sering kali kita terjebak pada keinginan untuk mencetak anak-anak kita dalam satu cetakan yang sama. Kita ingin mereka semua memiliki nilai akademik yang sempurna, menempuh jalur pendidikan yang persis seperti yang kita bayangkan, atau memiliki profesi yang sama suksesnya menurut standar tetangga dan masyarakat.

Padahal, Allah SWT Yang Maha Mengatur Rezeki, menciptakan setiap anak dengan keunikan, potensi, dan takdir jalan hidup yang berbeda-beda. Tugas utama kita bukanlah memaksakan keseragaman, melainkan merawat fitrah dan mengarahkan potensi kebaikan mereka. Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin memberikan penjelasan yang sangat indah mengenai hal ini. Beliau berkata: "Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang suci adalah permata yang sangat berharga, bersih dari segala ukiran dan gambaran. Ia siap menerima ukiran apa pun dan cenderung kepada apa saja yang diarahkan kepadanya."

Artinya, arahkanlah anak sesuai kecenderungannya yang positif. Jika ia berbakat dalam keterampilan, dukunglah. Jika ia berbakat dalam ilmu agama, bimbinglah. Keberhasilan seorang anak tidak diukur dari seberapa mirip ia dengan standar orang lain, tetapi dari seberapa optimal ia menjadi hamba Allah yang bermanfaat di jalannya sendiri.

Kedua: Syukur di Atas Ekspektasi

Hadirin sekalian, sebagai manusia biasa, wajar jika orang tua memiliki ekspektasi atau harapan yang tinggi terhadap anak. Namun, kekecewaan demi kekecewaan sering kali menghampiri manakala realitas jalan hidup anak ternyata berbelok dari apa yang kita rencanakan.

Misalnya, kita berharap anak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, namun ternyata ia memiliki kemandirian dan tekad kuat untuk langsung bekerja mencari nafkah. Di sinilah letak ujian keikhlasan kita. Bersyukur berarti kita mau menurunkan ego dan menerima ketetapan Allah atas pilihan hidup anak.

Ulama besar, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Tuhfatul Maudud mengingatkan bahwa orang tua harus memperhatikan bakat alami anaknya. Memaksa anak mempelajari atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan bakat alaminya—selama itu dalam koridor yang halal—justru akan merusak potensi anak tersebut.

Apabila pilihan anak adalah sesuatu yang halal, sesuatu yang membawanya pada kemandirian dan kebaikan, maka tugas kita adalah bersyukur dan mendukungnya. Jangan sampai ekspektasi kita yang berlebihan justru memutus kebahagiaan dan rasa percaya diri anak. Biarkan ia mengepakkan sayapnya di atas jalan rezeki yang telah Allah gariskan.

Ketiga: Doa Sebagai Pengawal Takdir

Jemaah Jumat yang berbahagia,

Setangguh apa pun ikhtiar kita dalam mendidik, menasihati, dan membimbing anak, kita dibatasi oleh ruang, waktu, dan kemampuan. Kita tidak bisa mengawasi mereka dua puluh empat jam. Kita tidak bisa memastikan hati mereka selalu teguh di tengah badai pergaulan zaman ini.

Lalu, apa senjata terakhir dan paling ampuh yang dimiliki orang tua? Senjata itu adalah doa. Doa orang tua, khususnya doa seorang ibu dan ayah untuk anaknya, adalah panah yang tak pernah meleset. Doa adalah pengawal takdir yang tak kasat mata, yang akan memastikan setiap kepakan sayap anak selalu berada dalam perlindungan, petunjuk, dan keberkahan Allah SWT.

Allah SWT telah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang teramat agung di dalam Al-Qur'an, agar kita senantiasa memohon keturunan yang menyejukkan hati. Mari kita jadikan doa ini sebagai wirid harian kita sesudah salat. Allah berfirman dalam Surah Al-Furqan ayat 74:

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Qurrata a'yun atau penyejuk mata di sini, menurut Tafsir Ibnu Katsir, bukanlah semata-mata anak yang tampan, cantik, atau kaya raya. Melainkan anak yang taat kepada Allah, yang berbakti kepada orang tua, dan yang mandiri dalam menjaga kehormatan agamanya. Itulah kebahagiaan hakiki yang mendinginkan pandangan dan menyejukkan dada setiap orang tua.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Sebagai penutup khotbah ini, mari kita ubah cara pandang kita terhadap anak-anak kita. Tataplah wajah mereka saat terlelap, dan sadarilah bahwa mereka adalah hadiah terbaik dari langit. Hentikan membanding-bandingkan mereka dengan anak orang lain. Maafkan kekurangan mereka, dukung kelebihan mereka, arahkan masa depan mereka, dan iringi setiap langkah mereka dengan doa yang tiada henti.

Semoga Allah SWT menjaga anak-anak kita, menjauhkan mereka dari segala fitnah zaman, menjadikannya generasi yang tangguh, mandiri, dan kelak menjadi amal jariyah yang menerangi alam kubur kita. Amin, Amin, Ya Rabbal 'Alamin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالِاعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللّٰهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ. فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبُوْ بَكْرٍ، وَعُمَر، وَعُثْمَان، وَعَلِيّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَوْلَادَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاحْفَظْهُمْ مِنْ شَرِّ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْهُمُ الْعِلْمَ النَّافِعَ، وَالرِّزْقَ الْوَاسِعَ الْحَلَالَ، وَالْأَخْلَاقَ الْكَرِيْمَةَ.

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً، وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

 

Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang-Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

Posting Komentar

0 Komentar