Pisau Yang Tak Pernah Melukai Sang Nabi

Menggali pelajaran mendalam dan hikmah di balik peristiwa Qurban.

[Jombang, Pak Guru NINE] - Setiap kali gema takbir Idul Adha berkumandang, ruang-ruang diskusi sejarah dan teologi acap kali dihangatkan oleh satu perdebatan klasik: Siapakah sebenarnya putra yang dibaringkan Nabi Ibrahim AS di atas batu hari itu? Apakah Nabi Ismail, ataukah Nabi Ishaq?

Secara akademis, diskursus lintas tradisi ini sangatlah memikat. Dalam tradisi Islam, bersandar pada otoritas Al-Qur'an dan pandangan mayoritas mufassir terkemuka seperti Ibnu Katsir, kita meyakini dengan kokoh bahwa sosok Az-Zabih (yang disembelih) tersebut adalah Nabi Ismail AS. Argumentasinya berpijak pada fondasi yang amat logis dan objektif.

Secara kronologis dalam Surat As-Saffat ayat 100-112, kabar gembira tentang eksistensi dan kenabian Ishaq baru diturunkan setelah keseluruhan ujian penyembelihan itu selesai. Sangat tidak rasional jika yang diuji adalah Ishaq. Lebih dari itu, dalam Surat Hud ayat 71, Allah telah menjanjikan kepada Siti Sarah bahwa Ishaq kelak akan tumbuh dewasa dan memiliki keturunan bernama Ya'qub. Mustahil Tuhan memerintahkan penyembelihan seorang anak yang masa depan dan garis keturunannya telah dijamin oleh-Nya secara mutlak. Belum lagi fakta geografis serta ritual ibadah haji di Makkah—seperti Sa'i dan lempar jumrah—yang secara historis menjadi saksi bisu jejak langkah keluarga Hajar dan Ismail, bukan Ishaq yang bermukim jauh di tanah Syam.

Namun, jika kita merenung sejenak dan menyingkap lapis demi lapis narasi tersebut, perdebatan identitas ini sejatinya bukanlah hal yang paling krusial untuk diperselisihkan hari ini. Mengapa? Karena ada satu fakta sejarah yang jauh lebih agung, yang letaknya justru pada apa yang tidak terjadi.

Pada akhirnya, baik Ismail maupun Ishaq tetap bernapas leluasa. Pisau tajam di tangan Ibrahim itu tidak pernah melukai leher manusia.

Di padang pasir yang sunyi itu, Allah SWT sejatinya sedang mendeklarasikan sebuah revolusi moral terbesar bagi peradaban umat manusia. Tuhan menolak keras tradisi kuno yang menumbalkan nyawa manusia demi menyenangkan dewa-dewa. Sebagai ganti, Allah menurunkan seekor domba sembelihan yang besar. Pesan universalnya melintasi zaman, amat sangat logis dan tegas: nyawa manusia itu suci, mulia, dan tak ternilai harganya. Tuhan tidak pernah mengajarkan manusia untuk mengorbankan manusia.

Lalu, jika esensinya bukanlah ritual pengorbanan berdarah, makna budi pekerti apa yang bisa kita serap di era modern ini?

1. Menyembelih Sifat "Kebinatangan" di Palung Jiwa

Banyak yang terjebak pada pemahaman mekanis bahwa Idul Adha sebatas festival menyembelih binatang peliharaan. Padahal, setetes darah dan sekerat daging pun takkan pernah menembus langit; yang sampai kepada Sang Pencipta hanyalah murni ketakwaan kita.

Hewan qurban di hadapan kita hanyalah sebuah medium simbolik. Yang sejatinya wajib kita sembelih hari itu adalah sifat-sifat kebinatangan yang diam-diam mengerak di dalam diri kita sendiri. Bukankah acap kali manusia tampil lebih buas dari serigala saat memperebutkan kekuasaan? Lebih rakus dari tikus saat menumpuk pundi-pundi harta? Lebih abai dan dingin melihat penderitaan sesamanya? Pisau qurban adalah metafora keberanian untuk memotong habis ego, keserakahan, kesombongan, dan hawa nafsu yang merusak harmoni kehidupan. Kita menyembelih hewan qurban agar kelak kita kembali menjadi manusia seutuhnya.

2. Menenun Dialog dan Keharmonisan Keluarga

Kisah agung ini juga merekam sebuah literasi pengasuhan (parenting) yang luar biasa melintasi zaman. Mari menatap sosok Nabi Ibrahim AS. Beliau menerima titah yang paling menghancurkan hati dari Sang Pencipta. Namun, apakah beliau memaksakan kehendaknya dan mengeksekusi putranya secara otoriter? Sama sekali tidak.

Al-Qur’an merekam sebuah dialog yang sarat akan makna: "Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!"

Di era modern ini, di mana komunikasi acap kali terputus dan keluarga kehilangan kehangatannya, teladan Ibrahim sungguh menjadi oase yang menyegarkan. Beliau memposisikan putranya bukan sebagai properti yang bisa diperlakukan semena-mena, melainkan sebagai manusia merdeka yang dilatih nalar kritisnya, diajak berdialog, dan dihormati pandangannya. Di sana ada integrasi cinta, komunikasi yang jujur, dan rasa saling percaya yang mendalam antara ayah dan anak.

3. Puncak Welas Asih dan Empati Sosial

Bagi pengamat luar, prosesi qurban mungkin terkesan sebagai tindakan yang minim empati. Padahal, syariat Islam merancang ibadah ini dengan standar ihsan (welas asih) yang amat presisi dan beradab. Pisau wajib dipastikan setajam mungkin agar hewan tidak tersiksa berlama-lama. Hewan pantang direbahkan apalagi disembelih di hadapan kawanannya untuk mencegah stres dan ketakutan. Mereka diperlakukan dengan penuh kelembutan. Ini adalah wujud penghormatan mutlak kepada makhluk Tuhan.

Puncaknya, ibadah ini memanggil kita untuk melakukan tindak nyata dalam kepedulian sosial. Daging-daging itu tidak dihanguskan di atas altar pemujaan, melainkan didistribusikan kepada mereka yang papa, yang mungkin lidahnya hanya mengecap kelezatan daging setahun sekali. Idul Adha adalah perayaan pemerataan gizi, festival yang menerbitkan senyum kaum dhuafa, dan perwujudan empati kemanusiaan.

Akhirnya, Idul Adha mengajarkan sebuah tesa paripurna: bahwa cinta kepada Sang Pencipta tidak akan pernah bertentangan dengan kemanusiaan; justru cinta itulah yang menyempurnakannya. Hari Raya Qurban adalah ruang refleksi untuk selalu mengedepankan dialog penuh kasih di meja makan keluarga, membuang jauh sifat serakah, berbuat lembut kepada alam, dan merangkul sesama dengan ketulusan hati.

Di atas segalanya, peristiwa agung ini mematrikan satu hikmah abadi: bahwa pengorbanan tertinggi bukanlah tentang menghilangkan nyawa, melainkan keberanian kita untuk merelakan ego pribadi demi kebaikan yang jauh lebih besar.[pgn]

Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang-Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

Posting Komentar

0 Komentar