Khutbah Idul Adha 1447 H: Penyembelihan Ego di Era Narsisme Digital

 

Mari kita jadikan pisau kurban hari ini tidak hanya memutus urat nadi kambing atau sapi, tetapi juga memutus urat kesombongan di dalam hati kita.

Khutbah I

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ يَوْمَ الْأَضْحَى عِيدًا وَمَوْسِمًا لِلْخَيْرَاتِ وَالطَّاعَاتِ، وَتَكْفِيرِ الذُّنُوْبِ وَالرَّفْعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا الْفَوْزَ يَوْمَ الْمَقَامَاتِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، خَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَإِمَامُ الْمُتَّقِينَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، إِنِّي أُوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللهِ، الْقَائِلِ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ: يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Shalat Idul Adha yang Dirahmati Allah,

Di pagi hari yang agung ini, diiringi gema takbir yang bersahutan menggetarkan relung jiwa, marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT. Selanjutnya, di hari yang mulia ini, saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah SWT. Takwa yang sesungguhnya, takwa yang tumbuh dari hati, jiwa, dan amal saleh yang ikhlas.

Hadirin yang Dimuliakan Allah,

Hari raya Idul Adha tidak sekadar hari raya biasa. Ia merupakan peringatan tentang kesabaran paling tinggi, ketika taat pada perintah Allah harus rela mengorbankan hal yang paling dicintai.

Dalam berbagai kitab tarikh dan tafsir, kita menemukan rekam jejak kedermawanan luar biasa dari Khalilullah, Nabi Ibrahim Alaihissalam. Beliau adalah sosok yang sangat gemar berkurban demi mendekatkan diri kepada Allah. Suatu ketika, sejarah mencatat beliau menyembelih 1.000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta semata-mata karena Allah.

Masyarakat dan bahkan para malaikat pun terpana melihat besarnya pengorbanan tersebut. Namun, apa jawaban Nabi Ibrahim? Beliau dengan penuh ketawadhuan berkata: "Segala sesuatu yang aku kurbankan ini belum ada apa-apanya demi cintaku kepada Allah. Bahkan, jika aku memiliki seorang anak laki-laki, aku tidak akan ragu untuk menyembelihnya jika itu adalah perintah Allah."

Ucapan ini bukanlah bualan. Bertahun-tahun kemudian, Allah mengabulkan doanya dengan mengaruniakan seorang anak yang sangat dinanti-nantikan, yaitu Ismail. Namun, saat cinta kebapakan itu sedang mekar-mekarnya, ujian terberat itu datang. Allah menagih janji Ibrahim. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Ismail. Disembelih oleh tangannya sendiri, di hadapan matanya, dan dengan kesadaran penuh sebagai bentuk patuh pada perintah-Nya.

Dialog luar biasa antara ayah dan anak ini diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai salah satu kisah kesabaran yang sangat luar biasa untuk kita teladani bersama. Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya: "Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.'" (QS Ash-Shaffat, [37]: 102).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

Jamaah Shalat Idul Adha yang Berbahagia,

Mari kita bawa keteladanan ini ke masa kini, ke era di mana kita hidup. Hari ini, kita hidup di era narsisme digital. Sebuah era di mana nilai seseorang sering kali diukur dari seberapa banyak harta yang dipamerkan, seberapa tinggi jabatan yang disandang, dan seberapa banyak followers serta likes yang didapatkan di media sosial.

Bagi Nabi Ibrahim, Ismail adalah penantian panjang, permata hati, dan kebanggaan terbesarnya. Di masa kini, "Ismail" kita mungkin bukanlah anak kandung kita. "Ismail" kita hari ini adalah ego kita. "Ismail" kita adalah citra diri palsu di media sosial, kekayaan yang membuat kita merasa lebih mulia dari tetangga kita, atau jabatan yang membuat kita merendahkan orang lain.

Kurban bukan tentang pamer kekayaan, melainkan tentang kesiapan melepaskan apa yang paling dicintai demi ketaatan kepada Allah. Ketika kita berkurban di era ini, apakah kita benar-benar menyembelih ego kita, atau kita sekadar menjadikannya konten (flexing) agar dilihat sebagai orang yang dermawan, agamis, dan kaya raya?

Rasulullah SAW telah memperingatkan kita tentang hal ini:

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

"Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian, melainkan Allah melihat pada hati dan amal kalian." (HR. Muslim)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Hadirin Rahimakumullah,

Pelajaran kedua dari kisah ini adalah tentang ketaatan di atas opini publik. Saat Nabi Ibrahim membawa Ismail untuk disembelih, setan datang menggoda, mencoba memengaruhi logika dan perasaan sang Ayah. Masyarakat mungkin akan mencapnya sebagai ayah yang kejam. Tapi Nabi Ibrahim tidak peduli apa kata orang saat menjalankan perintah Allah.

Ini adalah kritik tajam bagi kita saat ini. Berapa sering kita menabrak syariat Allah hanya karena takut kehilangan dukungan manusia? Berapa sering kita berbuat riya', pamer, dan menyombongkan diri hanya karena haus akan validasi (pengakuan) di media sosial? Kita sering kali lebih takut kehilangan followers atau di-bully oleh netizen, daripada ketakutan kehilangan rida dan rahmat dari Allah SWT.

Keteladanan ini bukanlah ajakan agar orang tua bisa meminta apa pun pada anaknya, atau agar anak selalu menuruti tanpa berpikir. Karena pelajaran besarnya adalah tentang kesungguhan iman ketika perintah dari Allah datang dengan jelas, dan pengorbanan terhadap ego pribadi ketika kebenaran sudah nyata.

Idul Adha tahun 1447 H ini harus menjadi momentum transformasi batin. Mari kita jadikan pisau kurban hari ini tidak hanya memutus urat nadi kambing atau sapi, tetapi juga memutus urat kesombongan di dalam hati kita. Mari kita sembelih ego kita yang sombong, kita tebas rasa tamak dan dengki, dan kita gantikan dengan ketundukan, keikhlasan, dan ketakwaan yang sejati. Jangan sampai ibadah setahun sekali ini hanya berhenti menjadi tontonan, tanpa pernah menjadi tuntunan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berserah diri kepada-Nya dalam segala keadaan, dan semoga ibadah kita diterima sebagaimana Allah menerima pengorbanan Ibrahim dan Ismail.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ جَمِيعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِينَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ


Khutbah II

اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيَّاً وَحِينَ تُظْهِرُونَ اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي شَرَعَ لِعِبَادِهِ الْأُضْحِيَةَ تَذْكِرَةً بِفِدَاءِ خَلِيلِهِ، وَجَعَلَ أَيَّامَ النَّحْرِ مَوَاسِمَ قُرْبَاتٍ وَرَفْعَاتٍ فِي سَبِيلِهِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيبُهُ وَخَلِيْلُهُ اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ، وَدَعَا بِدَعْوَتِهِ، وَتَأَسَّى بِسُنَّتِهِ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. فَانْظُرُوا أَنَّ أَعْظَمَ الْقُرْبَاتِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ مَا قُدَّمَ فِيهَا مِنْ دَمِ يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُهُ، وَمَا طَابَ فِيهَا مِنْ نَفْسٍ تُرِيدُ رِضَاهُ فَأَكْرِمُوا هَذِهِ الْمَوَاسِمَ، فَإِنَّهَا أَيَّامُ رَحْمَةٍ وَنَفَحَاتٍ وَتَجَلَّيَاتٍ مِنْ عِنْدِهِ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اللَّهُمَّ صَلَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.


*Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang – Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang


Posting Komentar

0 Komentar