![]() |
| Esai ini ditulis sebagai ungkapan apresiatif atas peringatan 66 tahun kelahiran SMA Negeri 2 Jombang yang dirayakan dalam PERSADA BLAST 2026 pada Senin, 11 Mei 2026 di GOR MERDEKA Jombang. |
[Jombang, Pak Guru NINE] - Jika ada satu tempat di mana saya bisa
merasakan denyut masa lalu berdetak seirama dengan gemuruh ambisi masa depan,
maka SMA Negeri 2 Jombang lah tempatnya. Hari ini, Senin, 11 Mei 2026, saya
berdiri di tengah udara GOR Merdeka Jombang yang terasa bergetar hebat. Ribuan
pasang mata menatap takjub, sorak-sorai menggema bersahutan, dan tata cahaya
panggung yang megah menjadi saksi bisu perayaan hari jadi sekolah kita yang
ke-66.
Sebagai bagian dari keluarga besar
sekolah ini, menyaksikan acara yang kita kenal dengan nama PERSADA BLAST ini
selalu menghadirkan keharuan tersendiri. Ini bukan sekadar perayaan ulang tahun
biasa, melainkan sebuah manifestasi ledakan kreativitas anak-anak didik kita.
Namun, untuk benar-benar meresapi betapa megahnya perayaan hari ini, saya
selalu mengajak diri saya—dan juga Anda—untuk sejenak melangkah mundur,
menelusuri lorong waktu, dan membaca kembali lembar-lembar sejarah yang telah
membentuk karakter tangguh almamater tercinta ini.
Kisah panjang ini bermula pada
pertengahan tahun 1960. Tepat pada tanggal 16 Juli 1960, melalui Surat
Keputusan Menteri Pendidikan, Pengadjaran, dan Kebudajaan RI Nomor
328/SK/B/III/, institusi pendidikan ini resmi dilahirkan. Tentu saja, di
masa-masa awalnya, nama yang disandang belumlah seperti yang kita banggakan
sekarang. Sekolah kita lahir dengan nama SMA/B, yang kemudian berproses dan
bertumbuh menjadi Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan (SMPP).
Tiga belas tahun mengarungi dunia
pendidikan, sebuah tonggak sejarah yang sangat monumental terukir. Pada tanggal
19 Desember 1973, gedung sekolah ini diresmikan secara langsung oleh tokoh
besar bangsa, Wakil Presiden Republik Indonesia kala itu, Sri Sultan
Hamengkubuwono IX. Kehadiran beliau memberikan tuah dan magis tersendiri,
sebuah restu dari bumi keraton yang kelak menjadi ruh dari identitas sekolah
kita. Seiring bergulirnya waktu dan dinamika kebijakan pendidikan nasional,
pada 9 Agustus 1985 turunlah SK yang menjadi landasan hukum perubahan nama
sekolah. Setelah melalui masa transisi yang mendewasakan, barulah pada 23
November 1985, nama SMA Negeri 2 Jombang berkibar dan digunakan secara sah
dalam seluruh kegiatan operasionalnya hingga detik ini.
Perjalanan panjang dari sebuah SMA/B
menjadi SMAN 2 Jombang adalah jejak yang terlalu berharga jika hanya kita
simpan rapat-rapat dalam laci arsip. Oleh karena itu, setiap tanggal 16 Juli,
semangat kelahiran tersebut selalu kita hidupkan kembali. Semangat membara
inilah yang kemudian melahirkan PERSADA BLAST—sebuah akronim manis dari Pesta
Rakyat SMADA. Diinisiasi dan dieksekusi dengan sangat brilian oleh anak-anak
hebat di OSIS dan MPK, program unggulan tahunan ini menjadi kanvas raksasa bagi
seluruh ekstrakurikuler sekolah. Di panggung PERSADA BLAST yang megah itu, saya
melihat bakat-bakat muda meramu harmoni, menerjemahkan tema besar ke dalam
pertunjukan teatrikal, musik, dan tari yang memukau. Bahkan, tak jarang mereka
berhasil menghadirkan bintang tamu artis atau grup band dari ibukota untuk
menyempurnakan euforia kita bersama.
Namun, di tengah segala gemerlap
prestasi dan kemeriahan selebrasi itu, saya ingat betul pernah ada sebuah ruang
kosong di hati warga sekolah. Mundur ke tahun 2015, sebuah kegelisahan positif
muncul dari ruang-ruang kelas dan ruang guru. SMAN 2 Jombang, yang telah
menjadi sekolah favorit dan kebanggaan masyarakat Jombang, dirasa belum
memiliki sebuah sesanti—sebuah semboyan khas yang mampu merangkum
seluruh filosofi dan sejarah panjangnya. Dorongan kuat datang dari anak-anak
didik kita sendiri, salah satunya Bagus Raditya Parakitri, yang saat itu begitu
menghendaki sebuah identitas kolektif yang berakar kuat.
Kegelisahan luhur itu pun bermuara pada
sosok rekan sejawat saya, Bapak Siswono, seorang guru Bahasa Jawa yang
keilmuannya sangat kita hormati. Dalam sebuah obrolan yang hangat dan sarat
makna kala itu, saya berkesempatan menggali langsung dari beliau bagaimana
proses kreatif itu terjadi. Alih-alih mencari kata-kata serapan asing yang
sekadar terdengar modern, Pak Siswono justru mengajak kita menyelam ke dasar
kearifan lokal. Beliau merujuk pada Sengkalan, sebuah tradisi linguistik
Jawa di mana angka tahun disembunyikan dengan sangat indah di balik kalimat
bernilai numerik—sebuah kejeniusan masa lalu yang di kancah global dipelajari
sebagai Kronogram.
Melalui perenungan dan penelitian yang
mendalam, Pak Siswono menemukan empat kata magis dari bahasa Jawa Periode
Tengahan: Kadya (seperti), Sangga (menyangga), Dwara
(pintu gerbang), dan Nagara (negara). Jika dirangkai, kalimat "Kadya
Sangga Dwara Nagara" ini bukan hanya memancarkan makna "Seperti
Menyangga Pintu Gerbang Negara", tetapi juga memuat kode sengkalan
yang luar biasa presisi. Kadya bernilai 3, Sangga bernilai 7, Dwara
bernilai 9, dan Nagara bernilai 1. Jika dibaca dari belakang, deretan
angka tersebut menunjuk tepat pada tahun 1973—tahun keramat peresmian gedung
sekolah kita oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Agar sesanti yang sarat makna
ini lebih mudah diresapi dan dipekikkan oleh jiwa-jiwa muda yang dinamis di
lapangan, rekan guru kita yang lain, Ibu Koniamuryani, dengan persetujuan Pak
Siswono, menyingkatnya menjadi satu lema yang kini menggelegar di dada kita: KASADWANA
(Ka-Sa-Dwa-Na).
Sebagai pendidik, bagi saya Kasadwana
bukan sekadar susunan huruf yang kebetulan terdengar puitis. Ia adalah cetak
biru visi SMAN 2 Jombang. Filosofi "Seperti Menyangga Pintu Gerbang
Negara" mengisyaratkan tugas suci kita bersama: mendidik, menanamkan
budi pekerti, dan menempa para pemuda agar kelak siap menjadi pilar-pilar kokoh
penyangga kemajuan bangsa. Mengadopsi Sengkalan di era yang serba
digital ini adalah langkah jenius yang membuktikan bahwa pendidikan modern di
SMADA tidak tercerabut dari akar budayanya. Kearifan lokal nyatanya mampu
berdampingan secara harmonis dengan visi global, memperkuat karakter anak-anak
kita agar tidak mudah goyah oleh derasnya arus zaman.
Kini, setiap kali tata cahaya panggung
PERSADA BLAST menyala terang di GOR Merdeka Jombang, dan setiap kali saya
mendengar ribuan siswa bersorak merayakan almamaternya, saya tahu roh Kasadwana
selalu hadir menyertai mereka. Semboyan itu telah melebur menjadi kebanggaan
tak ternilai. Dari rahim sejarah tahun 1960, peresmian 1973, hingga kemeriahan
di tahun 2026 ini, SMA Negeri 2 Jombang terus membuktikan bahwa kita bukan
sekadar pabrik pencetak angka di atas rapor. Kita adalah gerbang utama yang
sedang mempersiapkan para penyangga masa depan Indonesia. Semoga segala ikhtiar
mulia di dalamnya senantiasa diguyur barokah oleh Allah SWT. Aamiin.
Nine Adien Maulana Guru PAIBP SMAN 2 Jombang

0 Komentar