[Jombang, Pak Guru NINE] - Senin, 1 Juni
2026, bukanlah sekadar tanggal merah di kalender bagi keluarga kami. Tentu,
seluruh penjuru negeri merayakannya sebagai Hari Lahir Pancasila, namun bagi
saya dan istri, hari itu menjelma menjadi sebuah mozaik kesyukuran yang begitu
personal dan mendalam. Di tengah heningnya doa dan riuhnya dinamika kehidupan,
kami merenungi sebuah hakikat pengasuhan melalui jejak langkah ketiga buah hati
kami: Caraka Shankara, Taliya Kayana, dan Wacana Bawana. Membesarkan mereka
seolah membaca tiga buku dengan genre yang sama sekali berbeda. Namun, dari
ketiganya, kami belajar satu benang merah yang kuat: tugas sejati orang tua
bukanlah mencetak anak menjadi duplikat harapan kita, melainkan menjadi
pendamping teguh bagi takdir dan pilihan hidup mereka.
Sweet Seventeen
Mari kita mulai dari halaman milik anak kedua kami, Taliya
Kayana. Tepat pada peringatan ke-81 tahun lahirnya Pancasila, ia genap berusia
tujuh belas tahun—sebuah fase "Sweet Seventeen" yang menjadi gerbang
penegasan kedewasaannya. Saat ini, Taliya tengah merajut mimpinya di kelas X
MAN 2 Kota Malang. Jarak geografis antara Jombang dan Malang memaksa saya dan
istri untuk berkompromi menahan rindu. Kami merayakan hari istimewanya hanya
melalui untaian doa di sambungan telepon dan sedikit tambahan uang saku bulan Juni,
agar ia bisa berbagi kebahagiaan bertasyakuran bersama kawan-kawannya di Ma’had
Al-Qolam.
Namun, rezeki
kebahagiaan selalu punya cara untuk hadir. Melalui kebaikan kakak kandung saya,
Neng Ririn Eva Hidayati, kasih sayang keluarga tetap tersampaikan secara utuh.
Neng Ririn menyempatkan diri datang menjenguk Taliya dengan membawa kue
bertuliskan "Happy Birthday Meme"
lengkap dengan lilin angka 17. Meme—panggilan kesayangan paripurna karena mata
sipitnya saat bayi—kini telah tumbuh menjadi gadis remaja dengan visi yang
tajam.
Dinamika Taliya
selama di Malang adalah dinamika seorang pembelajar yang berapi-api.
Bunga-bunga semangat kompetisinya mekar dengan indah, bahkan visinya untuk
studi lanjut sudah melampaui batas kota asalnya. "Yah, besok kalau kuliah,
aku ingin ke luar Malang. Bisa ke UGM atau ke UI," ucapnya suatu ketika.
Secara manusiawi, ego idealisme saya dan istri tentu menginginkan ia tetap
dekat dengan kami, mungkin melanjutkan ke UB atau UM. Namun, bukankah mengekang
sayap burung yang sedang belajar terbang adalah sebuah kesalahan?
Kami merestui visi besarnya itu, sembari tetap menjaga
pijakannya agar logis dan terarah. "Di kelas X dan XI ini, sampean fokus
saja belajar dan meraih prestasi yang menunjang," pesan saya. Bahkan,
untuk kecintaannya pada sastra dan cipta puisi, saya menyarankan agar itu
dijadikan oase hiburan lewat ekstrakurikuler teater, bukan semata ambisi yang
membebani. Usia 17 tahun baginya adalah penegasan kesiapan menghadapi
tantangan, dan bagi kami, ini adalah alarm untuk terus memfasilitasi
cita-citanya tanpa mendominasi.
Menurunkan Ego Idealitas
Jika Taliya
mengajarkan kami tentang merawat semangat akademik, anak sulung kami, Caraka
Shankara, baru saja lulus dari SMAN 2 Jombang dan memberikan kami pelajaran
berharga tentang seni berdamai dengan realitas. Tiga tahun masa SMA Caraka
adalah lintasan emosi yang tak jarang membuat jantung kami berdegup kencang,
menuntun kami untuk bersandar lebih kuat kepada Allah SWT dengan linangan air
mata. Di ujung lintasan itu, ia memberikan keputusan yang tak kalah mendebarkan:
ia memilih untuk langsung bekerja alih-alih melanjutkan studi ke perguruan
tinggi.
Secara ideal,
orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya menyandang status mahasiswa?
Kami pun awalnya merasakan riak kekecewaan. Namun, di sinilah letak argumentasi
logis dalam mendidik anak. Memaksakan kehendak agar ia kuliah saat ia belum
memiliki komitmen batin, justru berpotensi melahirkan petaka—baik secara
finansial, psikologis, maupun sosial. Di sisi lain, jika ia tidak kuliah dan
tidak mau bekerja, masalah yang timbul akan jauh lebih merusak.
Oleh karena itu,
kami memilih menurunkan ego idealitas demi merangkul realitas yang positif.
Caraka memiliki komitmen yang kuat untuk bekerja. Setelah sempat merasakan
kerasnya lapangan sebagai operator pemasangan videotron di Jombang, Pamekasan,
hingga Ngawi bersama kawan sekelasnya, Mohammad Farrel Arfiansyah, jalan
rezekinya semakin benderang. Berbekal Surat Keterangan Lulus dan beberapa
sertifikat juara Pencak Silat, Caraka memberanikan diri melamar ke PT Roman Ceramic
International di Ngoro Industrial Park (NIP), Mojokerto. Rangkaian tes pada 21
Mei 2026 berhasil dilaluinya hingga dinyatakan lulus dan diterima. Ia pun resmi mengikuti orientasi pada 28 Mei, dan
Selasa, 2 Juni 2026, menjadi hari pertamanya bekerja sebagai pemagang. Ini
adalah "universitas kehidupan" bagi Caraka—tempat ia belajar menjadi
pribadi yang lebih tertib, mandiri, dan dewasa. Kami memfasilitasinya dengan
ikhlas, sembari terus memupuk harapan agar kelak, kesadaran intelektualnya akan
memanggilnya kembali menuju bangku kuliah.
Kedewasaan dan Tanggung Jawab
Di sudut lain,
nikmat kesyukuran juga mengalir deras dari si bungsu, Wacana Bawana, yang
bersiap melangkah ke kelas VI. Agustus 2026 nanti, atas kemauan dan
keberaniannya sendiri, ia sudah siap untuk menunaikan syariat khitan. Jika
diukur semata dari trofi akademik, prestasinya mungkin belum mencapai momentum
keemasannya. Namun, apakah kecerdasan dan keberhasilan anak hanya bertumpu pada
deretan angka di buku rapor? Tentu tidak.
Wacana
menunjukkan lompatan kedewasaan yang sering luput dari radar pendidikan formal:
tanggung jawab harian dan kesadaran diri. Ia menyadari kelemahannya dalam
beberapa mata pelajaran dan secara proaktif meminta pendampingan belajar. Yang
jauh lebih membanggakan, ibadah wajib sehari-harinya terjaga dengan baik. Ia
juga tak segan turun tangan meringankan beban pekerjaan rumah tangga—menyapu
lantai, merapikan ruangan, hingga membantu membelikan sesuatu. Bukankah
karakter yang tangguh, adab yang baik, serta kesadaran membantu orang tua
adalah prestasi kehidupan yang sesungguhnya? Ini adalah nikmat luar biasa yang
tak bisa ditukar dengan medali kejuaraan apa pun.
Ketiga kisah ini
membuktikan bahwa setiap anak adalah mahakarya Tuhan yang membawa linimasanya
masing-masing. Mereka tidak untuk dibanding-bandingkan, apalagi dipaksakan
masuk ke dalam satu cetakan ekspektasi yang seragam. Pada akhirnya, perjalanan
kami mengiringi mereka adalah sebuah proses belajar yang tak pernah usai. Tugas
kami bukanlah menarik busur agar anak-anak melesat ke satu sasaran ambisi kami,
melainkan memastikan busur itu kuat, dan memastikan doa kami selalu menjadi
pelindung di setiap kepakan sayap mereka. Semoga Allah SWT senantiasa
memudahkan jalan Caraka, Taliya, dan Wacana, mengantarkan mereka pada masa
depan yang tidak hanya cemerlang, tetapi juga penuh dengan kebaikan dan
keberkahan yang hakiki.[pgn]
Nine Adien Maulana, ayah Caraka Shankara, Taliya Kayana dan Wacana Bawana
.jpg)
0 Komentar