[Jombang, Pak Guru NINE] - Menjelang kelulusan Caraka
Shankara, anak sulung kami, dari SMA Negeri 2 Jombang, institusi tempat saya
juga mengabdi di sana, sebuah diskursus menarik hadir di ruang keluarga kami. Ketika
sebagian besar remaja seusianya berlomba memperebutkan kursi Perguruan Tinggi Negeri melalui SNBP dan SNBT
sebagai validasi kesuksesan, Caraka justru mengutarakan niat yang berbeda. Ia
ingin menunda kuliah dan langsung terjun ke dunia kerja. Sebagai orang tua,
insting pertama mungkin adalah mengarahkan anak ke jalur yang "aman"
dan normatif. Namun, saya mencoba mencermati fenomena ini
dengan kacamata yang lebih jernih. Pilihan untuk mandiri secara ekonomi di usia
muda bukanlah sebuah kemunduran akademis, melainkan sebuah bentuk akselerasi
kedewasaan. Kita sering lupa bahwa pendidikan tinggi bisa menyusul kapan saja,
tetapi momentum kemauan keras seorang anak untuk menceburkan diri ke dalam
kerasnya realitas kehidupan adalah kurikulum eksklusif yang tak semua remaja
berani mengambilnya.
Skenario Tuhan
Perjalanan untuk
mewujudkan niat tersebut ternyata dirajut dengan sangat indah oleh takdir Allah
SWT, melalui pertemuan-pertemuan yang mengalir tanpa rekayasa. Semuanya bermula
dari hal yang sangat lekat dengan keseharian kita: media sosial. Berkat
konten-konten yang saya unggah di TikTok, seorang pengusaha pemilik jejaring
dapur mitra SPPG tertarik untuk bertemu. Perjumpaan santai di sebuah rumah
makan di Jombang itu membuka pintu peluang pertama. Saat saya menyodorkan nama
Caraka untuk mengisi lowongan kerja yang ada, beliau tidak hanya menyambut
baik, tetapi juga memberikan wejangan agar kelak Caraka tetap mengintegrasikan ilmu praktisnya dengan bangku kuliah di
Jombang. Pesan ini disambut antusias oleh Caraka. Tak berselang lama, tawaran
lain pun datang dari adik ipar yang bergerak di bidang properti bangunan dan instalasi listrik. Di
titik persimpangan ini, nalar dan keikhlasan kami sebagai orang
tua bekerja penuh: dukungan total harus diberikan, selama anak menunjukkan
keseriusan dan tanggung jawab atas keputusannya.
Namun, kejutan takdir
yang sesungguhnya datang dari arah yang sama sekali tak terduga. Seorang murid
saya, alumnus SMAN 2 Jombang
entah lulus tahun berapa, tiba-tiba bertamu ke rumah. Niat awalnya adalah mencari
informasi prosedur Penerimaan Murid Baru untuk keponakannya sekaligus
berkonsultasi mengenai rencana pernikahannya. Dalam obrolan hangat pembuka
perjumpaan, terkuaklah sebuah fakta penting: ia kini bertugas di bagian HRD PT
Roman Ceramic International di kawasan Ngoro Industrial Park, Mojokerto.
Bagaikan gayung
bersambut, saya langsung menanyakan ketersediaan lowongan. Keterkejutannya saat
mengetahui bahwa lowongan itu untuk anak gurunya sendiri, menjadi momen yang
tepat bagi saya untuk memaparkan argumentasi logis. Saya jelaskan kepadanya
bahwa setiap anak memiliki passion dan garis
waktunya sendiri. Caraka mungkin tidak mewarisi minat akademis yang kental
seperti saya saat ini, dan itu wajar. Ia butuh pembuktian diri. Sore itu juga, Caraka yang
baru saja pulang dari main dan akan berangkat ikut kerja
memasang videotron di SMAN 3 Jombang bersama rekannya, langsung saya pertemukan
dengan sang alumni. Sebuah tindak nyata segera
dieksekusi: kesepakatan lisan terjalin, berkas-berkas lamaran dirapikan, dan
pada 18 Mei 2026, surat lamaran itu resmi meluncur ke Mojokerto.
Proses rekrutmen berjalan
cepat. Dua hari berselang, panggilan tes pemagangan datang untuk tanggal 21 Mei
2026. Di sinilah dinamika dan ego masa muda itu muncul menjadi batu sandungan
kecil. Alih-alih beristirahat cukup untuk menempuh perjalanan darat
Jombang-Mojokerto yang memakan waktu nyaris dua jam, Caraka justru begadang semalam suntuk.
Sebagai seorang ayah, kecemasan mengiringi kepergiannya pagi itu. Usai ia
berpamitan kepada kakek dan neneknya, saya merapal doa dan bertawasul melalui
sedekah di kaleng infaq LAZISNU
yang ada di dalam kamar. Permintaan saya kepada Allah sangat spesifik: memohon
penjagaan untuk anak saya yang fisiknya pasti melemah akibat kurang tidur.
Kecelakaan
Firasat orang tua
ternyata adalah alarm yang paling akurat. Malam harinya, saat saya terpaksa
meninggalkan dzikir tahlil di masjid karena melihat rentetan panggilan tak
terjawab di ponsel, kabar mengejutkan itu datang. Caraka mengalami kecelakaan
di perempatan Sentul,
Tembelang. Dengan perasaan campur aduk, kami bergegas menjemputnya dan
membawanya ke Klinik Pratama Madinah, yang kemudian merujuknya ke RS Al-Aziz
Tembelang untuk prosedur rontgen. Di ruang UGD, melihatnya sempat tertidur
pulas di sela-sela pemeriksaan medis, hipotesis saya terbukti: kecelakaan ini tidak bisa dilepaskan dari
kelelahan dan mengantuknya
akibat kurang tidur.
Namun, di balik setiap
musibah selalu ada bentuk apresiasi dari langit bagi mereka yang
mau berpikir dan mengambil hikmah. Hasil
rontgen menyatakan ia bersih dari cedera dalam dan patah tulang; ia hanya
mengalami luka lecet. Dan yang paling menggetarkan hati, di tengah rintih
kesakitan itu, Caraka membawa kabar bahagia: ia dinyatakan lulus tes kerja!
Alhamdulillah
Kami sekeluarga
menjadikan peristiwa ini sebagai bahan refleksi yang teramat
dalam. Kecelakaan itu adalah skenario tamparan kasih sayang dari Tuhan. Sebuah
pendidikan kilat bagi Caraka bahwa dunia kerja menuntut lebih dari sekadar
semangat; ia menuntut manajemen diri, kedisiplinan, dan tanggung jawab atas
raga sendiri.
Kini, buah dari keputusan
berani itu mulai terlihat nyata. Pada 1 Juni 2026, saya dan Bapak mengantarnya
memasuki kamar kos barunya di Mojokerto. Keesokan harinya, 2 Juni 2026, Caraka
resmi berdiri di bagian Pres PT Roman
Ceramic International. Menakjubkannya, tuntutan profesionalisme telah
mengubahnya. Ancaman pemotongan gaji akibat keterlambatan sukses memaksanya untuk
bisa bangun pagi dan menunaikan shalat Shubuh secara mandiri—sebuah habituasi
positif yang mungkin sulit dicapai jika ia hanya berada di zona nyaman.
Pada akhirnya, kisah
Caraka adalah bukti bahwa tidak ada jalan tunggal menuju kesuksesan. Menunda
kuliah demi bekerja bukanlah sebuah kekalahan, melainkan strategi mematangkan
diri di "kampus" kehidupan yang sesungguhnya. Kami sangat bersyukur
atas episode ini dan terus menengadahkan doa, semoga pengalaman ini menjadi
fondasi baja baginya, sebelum kelak ia kembali melangkah merengkuh gelar
pendidikan tinggi dengan kedewasaan yang paripurna. Amin.[pgn]
Nine Adien Maulana, ayah Caraka Shankara, Taliya Kayana dan Wacana Bawana

0 Komentar