Dari Pengalaman Menjadi Literasi

 

Esai ini menjelaskan latar belakang dan alasan saya membuat konten video tiktok tentang MBG.

[Pacarpeluk, Pak Guru NINE] - Media sosial bagi saya bukan sekadar tempat mencari perhatian. Ia bisa menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, menyampaikan gagasan, sekaligus menghadirkan sudut pandang yang mungkin belum banyak didengar. Dari pemikiran sederhana itulah lahir akun TikTok Edukasi Literasi MBG (@edulite_mbg), sebuah akun yang secara khusus saya gunakan untuk menceritakan dan mengedukasi masyarakat tentang Makan Bergizi Gratis (MBG) berdasarkan pengalaman nyata yang kami alami di SMAN 2 Jombang.

Awalnya, saya tidak pernah merencanakan membuat akun khusus MBG. Saya telah memiliki akun TikTok @pakgurunine yang berkembang cukup produktif dengan beragam konten. Namun, akun tersebut sempat terkena pelanggaran pembatasan usia sehingga fitur live dinonaktifkan oleh TikTok. Berbagai upaya banding telah saya lakukan, tetapi belum membuahkan hasil.

Saya kemudian membuat akun baru dengan nama @pakguru.nine. Semula, akun ini saya siapkan untuk membagikan berbagai konten yang berkaitan dengan pembelajaran di sekolah. Beberapa konten pendidikan telah saya unggah. Namun, jangkauannya belum maksimal. Rata-rata hanya berhenti di sekitar 300-an views. Saya mencoba membuat konten dengan tema sosial, termasuk narasi tentang sound horeg. Hasilnya ternyata tidak jauh berbeda.

Sampai akhirnya MBG datang kembali ke SMAN 2 Jombang setelah hampir satu bulan tidak ada karena libur kenaikan kelas dan proses perbaikan tata kelola SPPG. Saya tertarik membuat konten review sekaligus narasi edukasi tentang MBG. Konten tersebut saya buat berdasarkan apa yang benar-benar kami lihat dan alami di sekolah, bukan berdasarkan asumsi atau cerita dari tempat lain.

Responsnya di luar dugaan.

Belum genap 24 jam, salah satu konten MBG tersebut telah memperoleh puluhan ribu views dan masuk FYP. Dari sana saya melihat bahwa masyarakat ternyata memiliki perhatian besar terhadap program MBG. Saya pun memutuskan menjadikan MBG sebagai tema utama akun tersebut.

Konten demi konten kemudian saya buat. Dalam waktu sekitar sepekan, selalu ada dua atau tiga konten yang mendapatkan jangkauan tinggi. Kolom komentar pun semakin ramai. Pertumbuhan followers berlangsung secara organik hingga dalam waktu kurang dari dua bulan telah mencapai lebih dari dua ribu orang.

Namun, pertumbuhan itu juga menghadirkan dinamika. Para followers dan penonton terpolarisasi dalam dua kelompok besar: mereka yang mendukung MBG dan mereka yang menolaknya. Mereka yang mendukung umumnya memberikan komentar dengan bahasa yang relatif santun. Sebaliknya, sebagian komentar yang kontra justru disampaikan dengan tuduhan, sindiran, bahkan fitnah menggunakan bahasa yang kasar dan sarkastis.

Saya memilih tidak melayani semua itu dengan perdebatan tertulis. Komentar-komentar tersebut justru saya jadikan bahan untuk membuat konten berikutnya. Dengan demikian, perbedaan pendapat tetap bisa menjadi bagian dari ruang diskusi. Netizen yang pro kemudian memberikan tanggapan mereka sendiri. Interaksi pun semakin tinggi.

Tetapi bagi saya, alasan utama membuat konten MBG bukanlah views, followers, apalagi popularitas.

Saya dan murid-murid SMAN 2 Jombang merupakan penerima manfaat MBG. Karena itu, ketika kami berbicara tentang MBG yang kami alami sendiri, kami memiliki posisi yang kuat untuk menceritakan fakta dalam konteks sekolah kami. Kami tidak mengklaim mengetahui seluruh pelaksanaan MBG di Indonesia. Kami hanya menceritakan apa yang kami lihat, rasakan, dan alami.

Sebagai ASN, saya juga memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menyukseskan program nasional pemerintah. Dukungan tersebut bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Justru menurut saya, dukungan yang sehat adalah dukungan yang mampu mengapresiasi kebaikan sekaligus memberikan evaluasi terhadap kekurangan dengan cara yang santun dan bermartabat.

Terlebih lagi, saya adalah guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Bagi saya, MBG bukan hanya persoalan makanan. Ada pendidikan karakter yang dapat diintegrasikan di dalamnya.

Murid belajar bertanggung jawab mengambil dan mengembalikan ompreng. Mereka belajar tertib ketika membagikan dan menikmati makanan. Mereka belajar menerapkan adab sebelum, ketika, dan sesudah makan sesuai agama dan keyakinan masing-masing. Mereka belajar bersyukur atas rezeki yang diterima. Jika tidak berselera terhadap suatu makanan, mereka belajar untuk tidak mencela, tetapi dapat memberikannya kepada teman yang masih menginginkannya.

Yang tidak kalah penting, mereka belajar satu hal yang sangat sederhana tetapi mendalam: mudah berterima kasih ketika menerima kebaikan dan tetap santun ketika menemukan kekurangan.

Saya tentu tidak menafikan adanya berbagai persoalan dalam pelaksanaan MBG di sejumlah tempat, termasuk pemberitaan mengenai penyimpangan maupun kasus kesehatan. Namun, karena hal tersebut bukan pengalaman langsung kami di SMAN 2 Jombang, saya memilih tidak berspekulasi. Persoalan yang terjadi di tempat lain semestinya ditangani oleh pihak berwenang dan aparat penegak hukum secara objektif dan adil.

Saya membatasi konten pada pengalaman kami sendiri. Di sekolah kami, memang pernah ditemukan sesuatu yang kurang layak dalam makanan. Namun, hal tersebut kami sampaikan kepada petugas SPPG untuk diperbaiki. Bagi saya, kritik tidak harus disampaikan dengan kebencian. Evaluasi tidak harus berubah menjadi penghinaan.

Setelah sekitar satu bulan menggunakan nama @pakgurunine_, saya merasa perlu memperjelas identitas akun. Tepat pada 7 September 2026, bertepatan dengan ulang tahun saya yang ke-47, saya mengumumkan perubahan nama menjadi Edukasi Literasi MBG (@edulite_mbg).

Perubahan nama ini bukan perubahan sikap. Justru sebaliknya, ini adalah penegasan arah.

Saya ingin akun ini dikenal sebagai ruang edukasi dan literasi MBG yang faktual, objektif, dan berangkat dari pengalaman nyata. Karena itu, berbagai tudingan—mulai dari disebut buzzer pemerintah, memiliki dapur MBG, hingga dianggap penjilat—saya pilih untuk tidak terlalu dipikirkan.

Saya hanya ingin konsisten pada prinsip: ceritakan yang dialami, apresiasi yang baik, evaluasi yang kurang, dan jangan menghakimi sesuatu yang tidak kita ketahui.

Menariknya, kini akun lama @pakgurunine telah pulih. Karena itu, akun tersebut kembali saya gunakan untuk mengembangkan konten pembelajaran bersama murid-murid. Sementara @edulite_mbg saya biarkan tumbuh sebagai ruang khusus untuk literasi MBG.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa media sosial tidak harus selalu menjadi arena pertengkaran. Ia bisa menjadi ruang belajar.

MBG boleh didukung, boleh pula dievaluasi. Yang penting, perbedaan sikap tidak membuat kita kehilangan akal sehat, adab, dan kejujuran.

Sebab bagi saya, literasi bukan sekadar kemampuan berbicara. Literasi adalah kemampuan untuk membedakan fakta dari asumsi, kritik dari fitnah, apresiasi dari propaganda, serta keberanian bersuara dari sekadar ikut-ikutan.

Dan dari SMAN 2 Jombang, saya memilih untuk terus bercerita tentang apa yang kami alami—bukan untuk membenarkan segala sesuatu, tetapi untuk menghadirkan sudut pandang yang berimbang.

Itulah alasan mengapa Edukasi Literasi MBG (@edulite_mbg) hadir. [pgn]

Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang

Posting Komentar

0 Komentar