![]() |
| Inilah alasan mendasar yang terus mengetuk nurani saya untuk konsisten memproduksi konten, menulis, dan berbicara tentang realitas MBG. |
[Jombang, Pak Guru NINE] - Tiap kali saya membuka layar ponsel dan menggulir
linimasa media sosial, ada satu tema yang nyaris tak pernah absen memancing
pusaran perdebatan: program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sayangnya, ruang
digital kita belakangan ini terasa begitu pekat oleh dominasi narasi negatif.
Konten-konten bernada sarkas, sinis, dan minim nilai edukasi berseliweran,
seolah berlomba membedah kesalahan dan mencari celah kelemahan.
Sebagai
seseorang yang setiap harinya berdiri di depan kelas, menghirup udara yang sama
dengan anak-anak didik, saya merasa amat prihatin. Kebisingan di dunia maya itu
seolah menenggelamkan suara-suara nyata dari akar rumput yang merasakan
langsung dampaknya. Inilah alasan mendasar yang terus mengetuk nurani saya
untuk konsisten memproduksi konten, menulis, dan berbicara tentang realitas
MBG.
Alasan
pertama, dan yang paling esensial, adalah tentang otoritas pengalaman. Saya,
bersama murid-murid di SMAN 2 Jombang, bukanlah pengamat yang berteori dari
kejauhan; kami adalah penerima manfaat langsung. Setiap hari, kami
bersinggungan langsung dengan ompreng makanan, menghirup aroma lauk pauk yang
disajikan, dan merasakan sendiri perubahan rutinitas di sekolah. Ketika kami
memilih untuk bercerita tentang MBG, itu bukanlah asumsi kosong atau opini yang
direkayasa demi mengejar algoritma. Kami menghadirkan sebuah realitas yang
faktual dan objektif, memotret kondisi yang sebenar-benarnya terjadi di
lapangan. Jika publik mencari kebenaran tentang sebuah program, bukankah
kesaksian paling valid selalu lahir dari mereka yang mengunyah dan menelannya
sendiri?
Di
sisi lain, pijakan saya untuk terus mengawal isu ini lahir dari sebuah
kesadaran profesional. Sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), saya
memikul tanggung jawab moral yang melampaui sekadar kewajiban administratif.
Menyukseskan program nasional yang digagas oleh negara—di bawah kepemimpinan
Presiden Prabowo Subianto—adalah sebuah keniscayaan. Akan menjadi sebuah
anomali yang sangat kontraproduktif jika seorang abdi negara justru apatis,
atau bahkan bersikap sinis, terhadap kebijakan yang dirancang untuk
mengentaskan persoalan gizi generasi penerus.
Dukungan
kami terhadap program ini adalah wujud nyata dari ketaatan dan kedisiplinan
sebagai ASN. Tentu saja, kami tidak mengaminkan segalanya secara membabi buta.
Kami mengapresiasi dengan tulus setiap niat baik dan capaian positif program
ini, namun tetap memberikan evaluasi untuk perbaikan. Bedanya, evaluasi itu
kami sampaikan dengan cara-cara yang santun, proporsional, dan bermartabat,
bukan lewat hujatan.
Namun,
alasan yang paling dekat dengan denyut nadi keseharian saya ada di ruang kelas.
Sebagai seorang guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, saya memandang
MBG dengan lensa yang jauh lebih luas dari sekadar pemenuhan asupan nutrisi
harian. Bagi saya, program ini adalah sebuah laboratorium hidup yang brilian
untuk menanamkan pendidikan karakter berakhlak mulia.
Tugas
kependidikan yang saya emban menemukan momentum integrasinya yang luar biasa di
sini. MBG bukan hanya soal makan siang, melainkan arena untuk melatih tanggung
jawab, seperti ketika anak-anak harus antre mengambil dan memastikan ompreng
kembali dalam keadaan rapi kepada petugas sekolah. Ada nilai ketertiban dan
kebersamaan saat mereka membagikan jatah dengan adil dan menikmatinya bersama di
ruang kelas.
Lebih
dalam lagi, ini adalah panggung untuk mempraktikkan adab spiritual secara
nyata. Murid-murid belajar menundukkan kepala untuk berdoa sebelum dan sesudah
makan, mematuhi adab makan sesuai agama dan keyakinan masing-masing. Saya
selalu menanamkan satu prinsip sederhana: wujud tertinggi dari rasa syukur
adalah penghargaan terhadap rezeki.
Jika
suatu hari menu yang disajikan kurang sesuai dengan selera, pantang bagi mereka
untuk mencela makanan tersebut. Mereka diajarkan kepekaan sosial, di mana
makanan yang tak disentuh sebaiknya ditawarkan kepada teman yang mungkin masih
menginginkan atau lebih membutuhkan. Mereka dibimbing untuk mudah berterima
kasih atas setiap suapan gizi yang diterima, dan di saat yang sama, belajar
merumuskan evaluasi kepada petugas Satuan Pelayanan Pelajar Gizi (SPPG) dengan
bahasa yang beradab jika ditemukan kekurangan.
Dari
awal program ini bergulir hingga detik ini, dengan segala dinamikanya, kami di
sekolah berani menyatakan secara objektif: kebaikan yang dibawa oleh MBG terasa
jauh lebih besar daripada ketidaksempurnaannya. Pernahkah ada sesuatu yang
tidak layak atau di luar ekspektasi? Tentu saja pernah. Hal tersebut sangat
manusiawi dalam pelaksanaan program berskala raksasa. Namun, kekurangan itu
selalu bisa dimaklumi dan diperbaiki melalui jalur komunikasi yang semestinya.
Pada
akhirnya, berbagai tulisan dan konten yang saya bagikan adalah sebuah ikhtiar
kecil untuk merawat nalar sehat publik. Sebuah usaha untuk menyalakan lilin
optimisme di tengah pekatnya pesimisme. Melalui cerita-cerita otentik dari
ruang kelas, saya berharap kita semua mampu melihat MBG secara utuh—bukan
sekadar program pembagian ompreng makanan, melainkan investasi jangka panjang
yang tengah membentuk generasi berbadan sehat, bernalar tajam, dan berhati
mulia.[pgn]
Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang

0 Komentar