Khotbah Jumat : Jari yang Bertakwa di Era Media Sosial

 

Islam tidak hanya mengajarkan apa yang boleh kita katakan, tetapi juga mengajarkan bagaimana kita menerima, memeriksa, dan menyampaikan informasi.

KHOTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى، وَنَهَانَا عَنِ الْفُحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْأَذَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa bukan hanya tampak ketika kita berada di masjid. Takwa juga harus tampak ketika kita berada di sekolah, di rumah, di tempat kerja, dan bahkan ketika kita sedang memegang handphone.

Sebab hari ini, salah satu ujian ketakwaan kita ada di ujung jari kita. Jempol kita bisa menjadi jalan pahala. Tetapi jempol yang tidak dijaga juga bisa menjadi jalan dosa.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Kita hidup di zaman ketika informasi bergerak begitu cepat. Satu berita dapat diterima dalam hitungan detik. Satu video dapat dilihat ribuan bahkan jutaan orang. Satu komentar dapat dibaca oleh siapa saja. Dan satu unggahan yang kita hapus sekalipun, belum tentu benar-benar hilang dari jejak digital.

Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan apa yang boleh kita katakan, tetapi juga mengajarkan bagaimana kita menerima, memeriksa, dan menyampaikan informasi.

Di sinilah pentingnya kita memahami fiqih bermedia sosial. Bukan untuk membuat kita takut menggunakan media sosial. Tetapi agar kita menjadi cerdas dalam menerima informasi, dewasa dalam berkomentar, dan bertanggung jawab dalam membagikan sesuatu.

Pertama: Tabayyun sebelum menyebarkan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum karena ketidaktahuan, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." QS. Al-Hujurat ayat 6.

Rasulullah SAW juga mengingatkan:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

"Cukuplah seseorang disebut sebagai pendusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar." HR. Muslim.

Maka jangan setiap informasi yang masuk langsung kita teruskan.

Diterima, langsung dipercaya.  Dilihat, langsung dibagikan. Didengar, langsung dikomentari.

Tidak demikian.

Orang beriman harus bertanya: Benarkah ini? Dari mana sumbernya?
Kapan kejadiannya?
Apakah konteksnya lengkap?

Sebab cepat belum tentu tepat. Viral belum tentu benar. Banyak yang membagikan belum tentu fakta.

Kedua: Berkatalah dengan qaulan sadida.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar." QS. Al-Ahzab ayat 70.

Ayat ini mengajarkan qaulan sadida: perkataan yang benar, lurus, jujur, dan bertanggung jawab.

Dalam media sosial, prinsip ini berlaku pada caption, video, judul, komentar, bahkan cara kita memotong dan menyajikan sebuah informasi.

Jangan fakta dicampur dengan asumsi. Jangan opini disampaikan seolah-olah fakta. Jangan judul dibuat sedemikian rupa sehingga orang memahami sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi.

Karena itu, biasakan mengatakan: "Ini fakta yang saya ketahui."

Kalau pendapat, katakan: "Menurut pendapat saya."

Kalau belum tahu, katakan: "Saya belum mengetahui kebenarannya."

Kalimat sederhana seperti itu adalah bentuk kedewasaan.

Sebab orang yang berilmu tidak malu mengatakan tidak tahu, dan orang yang bertakwa tidak memaksakan opini menjadi fakta.

Ketiga: Jauhi ghibah, namimah, dan fitnah.

Allah SWT mengingatkan:

وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

"Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik." QS. Al-Hujurat ayat 12.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

"Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba." HR. Bukhari dan Muslim.

Jamaah rahimakumullah,

Media sosial jangan menjadi tempat kita membuka aib, mempermalukan orang, mengadu domba, atau membunuh karakter seseorang.

Ada kalanya sesuatu yang kita tulis memang benar. Tetapi tidak semua yang benar harus diumbar. Ada perbedaan antara menyampaikan kebenaran untuk kemaslahatan dan menyebarkan keburukan untuk menjatuhkan seseorang.

Maka sebelum menulis komentar, tanyakan kepada diri sendiri: Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah ini bermanfaat?
Apakah jika orang yang saya bicarakan berada di depan saya, saya berani mengatakannya dengan cara yang sama?

Jika jawabannya tidak, mungkin pilihan terbaik adalah diam.

Keempat: Jangan tajassus, hormati privasi.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain." QS. Al-Hujurat ayat 12.

Di era digital, jangan merasa semua kehidupan orang lain adalah konsumsi publik. Jangan mencari-cari kesalahan. Jangan menyebarkan data pribadi. Jangan membagikan foto, video, percakapan, atau informasi seseorang tanpa mempertimbangkan hak dan kehormatannya.

Privasi adalah amanah. Apa yang kita ketahui tentang seseorang bukan berarti semuanya boleh kita sebarkan.

Kelima: Ingat mas'uliyyah dan jejak digital.

Allah SWT berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat  pengawas yang selalu hadir." QS. Qaf ayat 18.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." HR. Bukhari dan Muslim.

Hadits ini sangat relevan dengan kehidupan kita di media sosial. Sebelum mengetik, berpikirlah. Sebelum mengunggah, periksalah. Sebelum membagikan, pertimbangkan akibatnya. Sebelum berkomentar, ingatlah bahwa di balik akun itu ada manusia yang memiliki hati dan kehormatan.

Dan yang paling penting: Di balik layar yang kita sentuh, ada Allah SWT yang selalu mengawasi.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Maka marilah kita bertakwa bukan hanya ketika shalat kita tegak, tetapi juga ketika jempol kita bergerak.

Semoga Allah menjadikan lisan kita lisan yang baik, tulisan kita tulisan yang bermanfaat, unggahan kita unggahan yang membawa maslahat, dan media sosial kita menjadi jalan menuju ridha Allah SWT.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ أَخْلَاقَنَا، وَطَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا وَقُلُوْبَنَا وَأَعْمَالَنَا.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ أَلْسِنَتَنَا نَاطِقَةً بِالْحَقِّ، وَأَقْلَامَنَا وَكِتَابَاتِنَا نَافِعَةً، وَاجْعَلْ مَا نَنْشُرُهُ فِي وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ سَبَبًا لِلْخَيْرِ وَالْمَحَبَّةِ وَالسَّلَامِ، وَلَا تَجْعَلْهُ سَبَبًا لِلْفِتْنَةِ وَالْعَدَاوَةِ وَالْفَسَادِ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا، وَاهْدِهِمْ إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَوَفِّقْهُمْ فِي دِرَاسَتِهِمْ، وَاجْعَلْهُمْ جِيْلًا صَالِحًا، مُتَعَلِّمًا، مُهَذَّبًا، نَافِعًا لِلدِّيْنِ وَالْوَطَنِ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ عُلَمَاءَنَا وَمَشَايِخَنَا وَمُعَلِّمِيْنَا وَمُرَبِّيْنَا، وَبَارِكْ فِي أَعْمَالِهِمْ وَأَعْمَارِهِمْ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.


Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang


Posting Komentar

0 Komentar