Peci, Christiano, dan Toleransi

 

Dengan spontan saya melepas peci saya lalu memasangkannya ke kepala Christiano, lalu Sultan pun memotret kami. 

[Jombang, Pak Guru NINE] - Toleransi tidak selalu lahir dari pidato panjang tentang keberagaman. Terkadang, ia tumbuh dari ruang kelas, percakapan sederhana, dan sebuah peci yang berpindah dari kepala seorang guru ke kepala muridnya.

Tahun pelajaran 2026/2027 menjadi salah satu kesempatan berharga bagi saya untuk belajar bersama dengan murid-murid tentang makna keberagaman di ruang kelas XI-1 SMA Negeri 2 Jombang. Di kelas itu, ada tiga orang murid yang beragama Kristen. Salah satunya adalah Christiano Alexander Wiyono. Ia beragama Kristen, sedangkan saya mengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAIBP). Karena perbedaan agama tersebut, tentu saya tidak mengajarnya dalam kapasitas sebagai guru agama Kristen. Namun, perbedaan itu sama sekali tidak menjadi penghalang bagi kami untuk berinteraksi, berdiskusi, dan belajar bersama.

Jadwal pelajaran Pendidikan Agama Kristen yang diampu Pak Benyamin Balo tidak bersamaan dengan jadwal PAIBP saya. Karena itu, Christiano dan teman-temannya memiliki pilihan untuk belajar mandiri di perpustakaan atau tetap berada di kelas bersama teman-temannya ketika saya mengajar. Sebelum memulai pembelajaran, saya mempersilakan mereka memilih tempat belajar yang nyaman bagi mereka.

Ketiganya memilih tetap berada di kelas. Saya menyambut pilihan tersebut dengan senang hati. Selama mereka mengikuti kegiatan dengan tertib dan tidak mengganggu proses pembelajaran, tidak ada alasan bagi saya untuk melarang mereka. Bahkan, saya membuka kesempatan kepada mereka untuk mengajukan pertanyaan tentang berbagai hal yang ingin diketahui dari perspektif Islam.

Bagi saya, ruang kelas bukan sekadar tempat menyampaikan materi pelajaran. Ruang kelas juga merupakan tempat menumbuhkan rasa ingin tahu, membangun persahabatan, dan merawat kemanusiaan. Ketika seorang murid bersedia mendengarkan penjelasan tentang agama lain, sesungguhnya ia sedang memperluas cakrawala pengetahuannya. Ia tidak harus mengubah keyakinannya untuk memahami keyakinan orang lain.

Christiano sendiri merupakan murid yang cukup aktif. Dalam beberapa kesempatan, ia mengajukan pertanyaan ketika saya menyampaikan materi. Pertanyaannya terkadang disampaikan dengan bahasa yang polos dan lugas. Justru di situlah letak keistimewaannya. Ia tidak selalu berusaha menyembunyikan rasa ingin tahunya di balik kalimat-kalimat yang rumit. Ia bertanya karena ingin mengetahui sesuatu, dan tugas guru adalah menyambut rasa ingin tahu itu dengan jawaban yang baik.

Dalam kesempatan lain, saya mengajak Christiano menjadi narasumber dalam sebuah talkshow tentang Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyambut ajakan tersebut dengan penuh semangat. Bahkan, ia mengajak teman sebangkunya, Sultan Ade Nugraha, untuk turut menjadi narasumber. Keduanya kemudian berbagi pengalaman tentang pelaksanaan MBG di SMA Negeri 2 Jombang.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa kesempatan untuk berpartisipasi tidak seharusnya dibatasi oleh identitas agama, suku, ataupun latar belakang keluarga. Selama seorang murid memiliki pengalaman, gagasan, dan kesediaan untuk berbagi, ia layak memperoleh ruang untuk menyampaikan pandangannya.

Christiano adalah bagian dari generasi muda Indonesia yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat majemuk. Sebagai warga negara Indonesia keturunan Tionghoa, ia membawa identitas keluarga dan budaya yang menjadi bagian dari kekayaan bangsa. Namun, di sekolah, ia bukan semata-mata murid keturunan Tionghoa atau murid beragama Kristen. Ia juga seorang pelajar yang memiliki potensi, rasa ingin tahu, dan kesempatan yang sama untuk berkembang.

Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi ketika saya menjelaskan hubungan antara agama dan budaya. Saat itu, saya mengenakan peci nasional yang lazim dipakai dalam berbagai kegiatan keagamaan maupun kenegaraan. Saya kemudian melepas peci tersebut dan memasangkannya di kepala Christiano.

Sambil tersenyum, saya menjelaskan bahwa tidak ada masalah bagi seorang pemeluk agama Kristen untuk mengenakan peci. Peci bukanlah benda yang hanya boleh dipakai oleh umat Islam. Bahkan, saya mengatakan bahwa Christiano mungkin akan terlihat cocok ketika mengenakannya.

Tentu saja, tindakan sederhana itu bukan sekadar upaya membuat suasana kelas menjadi menyenangkan. Ada pelajaran yang ingin saya sampaikan: sebuah benda dapat memiliki makna budaya yang berbeda bagi orang-orang yang hidup dalam masyarakat yang sama.

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, peci hitam berkembang menjadi simbol kebangsaan dan perjuangan. Tokoh-tokoh pergerakan nasional mengenakannya sebagai bagian dari identitas perjuangan melawan kolonialisme. Seiring waktu, peci juga semakin lekat dengan umat Islam karena banyak digunakan ketika melaksanakan salat dan berbagai kegiatan keagamaan.

Proses tersebut memperlihatkan bagaimana agama dan budaya dapat saling berinteraksi. Sebuah benda yang memiliki makna kebangsaan dapat pula memperoleh makna keagamaan karena kebiasaan masyarakat. Namun, kedekatan budaya itu tidak serta-merta menjadikan benda tersebut sebagai milik eksklusif satu kelompok.

Hal serupa dapat kita jumpai dalam berbagai aspek kehidupan. Bahasa, pakaian, makanan, seni, dan tradisi berkembang melalui perjumpaan antarmanusia. Ada unsur budaya yang dipengaruhi agama, ada pula tradisi yang tumbuh dari sejarah dan kebiasaan masyarakat. Memahami hubungan tersebut membantu kita membedakan antara ajaran agama, ekspresi budaya, dan identitas kebangsaan.

Dalam konteks inilah, mengenakan peci pada kepala Christiano menjadi simbol kecil tentang Indonesia yang kita cita-citakan. Indonesia bukanlah bangsa yang menuntut semua warganya memiliki identitas yang seragam. Indonesia adalah rumah bersama tempat setiap orang dapat mempertahankan keyakinannya sekaligus menghormati keyakinan orang lain.

Toleransi, tentu saja, bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama atau menganggap semua keyakinan sama. Toleransi justru mengajarkan kita untuk tetap teguh pada keyakinan masing-masing tanpa merendahkan martabat orang lain. Kita boleh berbeda dalam beribadah, tetapi tetap dapat bekerja sama, bersahabat, dan berkontribusi bagi kehidupan bersama.

Sebagai guru, saya menyadari bahwa pendidikan toleransi tidak cukup diajarkan melalui definisi di buku pelajaran. Murid perlu menyaksikan dan mengalami bagaimana perbedaan diperlakukan secara adil dalam kehidupan sehari-hari. Ketika mereka diberi kesempatan bertanya, dilibatkan dalam kegiatan, dan diterima tanpa prasangka, mereka belajar bahwa penghormatan bukan sekadar slogan.[pgn]

Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang

Posting Komentar

0 Komentar