[Jombang, Pak Guru NINE] - Selasa, 3 November 2026, menjadi salah
satu momen yang sederhana, tetapi cukup berkesan bagi saya sebagai orang tua.
Pukul 08.30–09.30 WIB, saya menghadiri undangan dari SD Islam Roushon Fikr
Jombang untuk mendampingi anak saya, Wacana Bawana, siswa kelas VI
Mandiri, mempresentasikan hasil proyek pembelajaran Matematika yang diasuh oleh
Ustadzah Dwi Ratna Dewi.
Sebenarnya, saya datang sedikit
terlambat. Bukan karena kurang antusias, tetapi karena pagi itu saya masih
harus menunaikan tugas mengajar murid-murid di sekolah tempat saya bertugas.
Setelah menyelesaikan kewajiban tersebut, saya segera menuju SD Islam Roushon
Fikr. Setibanya di kelas VI Mandiri, saya
dipersilakan duduk. Tidak lama kemudian, Ustadzah Ratna memanggil Wacana untuk
maju dan mempresentasikan hasil karya sekaligus pengalaman belajarnya.
Di hadapan saya, Wacana mulai
menjelaskan proyek yang telah dikerjakannya. Dengan bahasa sederhana, ia
menerangkan bagaimana konsep perhitungan rasio dalam Matematika diterapkan
untuk membuat maket atau miniatur ruang kelas beserta berbagai isinya. Maket
tersebut dibuat menggunakan bahan dasar styrofoam yang dipotong, dirangkai,
ditempel, kemudian dicat hingga menyerupai bentuk ruang kelas yang sebenarnya.
Ia menjelaskan prosesnya secara
bertahap, mulai dari menentukan ukuran, menghitung perbandingan, memotong
material sesuai ukuran yang telah direncanakan, merakit bagian-bagian maket,
menempelkan setiap komponen, hingga melakukan pengecatan. Presentasinya memang
sederhana. Tidak ada penjelasan yang terlalu rumit, istilah-istilah matematis
yang berlebihan, ataupun gaya berbicara yang dibuat-buat. Namun, justru dari
kesederhanaan itulah saya menangkap sesuatu yang menarik: Wacana tidak sekadar
menghafal rumus rasio, tetapi telah memahami bagaimana konsep tersebut bekerja dalam
kehidupan nyata.
Bagi saya, inilah salah satu
keberhasilan penting dalam sebuah proses pembelajaran. Anak tidak hanya
mengetahui jawaban dari sebuah soal, tetapi juga memahami mengapa dan bagaimana
suatu konsep digunakan untuk menyelesaikan persoalan konkret.
Matematika yang selama ini mungkin
dianggap sebagian anak sebagai kumpulan angka, rumus, dan operasi hitung,
ternyata dapat hadir dalam bentuk sebuah miniatur kelas.
Setelah Wacana selesai mempresentasikan
karyanya, saya mengetahui bahwa ia merupakan murid terakhir yang mendapatkan
giliran. Selanjutnya, Ustadzah Ratna menjelaskan rangkaian proses pembelajaran
berbasis proyek yang telah dilaksanakan sejak Agustus 2026. Artinya, kegiatan
tersebut bukanlah pekerjaan yang diselesaikan dalam satu atau dua kali
pertemuan, melainkan sebuah proses panjang yang dirancang secara bertahap.
Prosesnya dimulai dengan memberikan
pemahaman konseptual tentang perhitungan rasio. Setelah murid memahami materi
dasarnya, mereka diajak merancang sebuah proyek yang memungkinkan konsep
tersebut diterapkan secara realistis. Selanjutnya, disiapkan berbagai material
dan bahan yang dibutuhkan. Pengerjaan dilakukan secara bertahap dengan
memanfaatkan waktu yang tersedia, termasuk pada jam istirahat murid. Setelah
proyek selesai, anak-anak diberikan kesempatan berlatih menyampaikan hasil
pekerjaannya sebelum akhirnya melakukan presentasi di hadapan orang tua
masing-masing.
Jika diperhatikan, ada banyak
pengalaman belajar yang sesungguhnya sedang dibangun melalui kegiatan tersebut.
Anak-anak belajar Matematika, tetapi pada saat bersamaan juga belajar
merencanakan pekerjaan, mengukur, menghitung, memecahkan masalah, menggunakan
peralatan, mengelola waktu, bekerja secara sistematis, dan mengomunikasikan
hasil pemikirannya.
Inilah kekayaan pembelajaran yang tidak
selalu dapat diperoleh hanya dengan membaca buku atau mengerjakan soal-soal
latihan.
Dalam perspektif pendidikan, pendekatan
semacam ini sejalan dengan pembelajaran berbasis proyek atau Project-Based
Learning (PjBL). Murid ditempatkan bukan sekadar sebagai penerima informasi,
melainkan sebagai subjek aktif yang membangun pemahamannya melalui pengalaman.
Pengetahuan tidak berhenti pada apa yang disampaikan guru, tetapi berkembang
melalui proses mencoba, mengalami, menemukan, dan mempresentasikan.
Ada satu hal yang menurut saya sangat
penting dari kegiatan ini: pembelajaran menjadi lebih bermakna ketika anak
dapat menghubungkan apa yang dipelajari di kelas dengan kehidupan sehari-hari.
Rasio, misalnya, bukan sekadar
perbandingan dua bilangan yang harus dihitung dengan rumus tertentu. Rasio
dapat digunakan untuk menentukan ukuran miniatur, memperkirakan kebutuhan
bahan, membandingkan panjang dan lebar, serta memastikan bahwa setiap bagian
memiliki proporsi yang sesuai. Dengan demikian, anak memperoleh pemahaman bahwa
Matematika bukan sekadar mata pelajaran yang harus dituntaskan, melainkan ilmu
yang memiliki manfaat nyata dalam kehidupan.
Sebagai seorang guru, saya tentu
mendapatkan banyak inspirasi dari pengalaman sederhana tersebut. Apa yang
dilakukan Ustadzah Ratna memperlihatkan bahwa kreativitas guru memiliki peran
penting dalam menghadirkan pembelajaran yang menarik, kontekstual, dan dekat
dengan dunia anak. Guru tidak harus selalu menghadirkan sesuatu yang mahal,
rumit, atau menggunakan teknologi canggih. Dengan memahami tujuan pembelajaran,
mengenali karakteristik murid, dan mengembangkan kreativitas, materi yang
tampak abstrak pun dapat dihadirkan menjadi pengalaman yang konkret.
Tentu saja, setiap guru memiliki
kondisi, kapasitas, fasilitas, dan karakteristik murid yang berbeda. Karena
itu, model pembelajaran proyek tidak harus ditiru persis dalam bentuk yang
sama. Yang lebih penting adalah mengambil esensinya, kemudian mengembangkannya
sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Guru Matematika dapat membuat
proyek miniatur, guru IPA dapat mengajak murid melakukan eksperimen, guru IPS
dapat mengembangkan proyek pemetaan lingkungan, dan guru Pendidikan Agama Islam
dapat menghadirkan proyek yang menghubungkan nilai-nilai keislaman dengan
praktik kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, pendidikan bukan
semata-mata tentang seberapa banyak materi yang berhasil disampaikan guru atau
seberapa tinggi nilai yang diperoleh murid dalam ujian. Pendidikan juga tentang
seberapa jauh pengetahuan mampu membentuk keterampilan, sikap, karakter, dan
kemampuan anak menghadapi kehidupan. [pgn]
Nine Adien Maulana, orang tua wali Wacana Bawana kelas VI Mandiri.

0 Komentar