Catatan MUI Goes to School di SMA Islam Ngoro

 

Bagi saya, kegiatan ini bukan sekadar agenda kelembagaan atau kunjungan ke sekolah. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ikhtiar untuk mendekatkan ulama dengan generasi muda, 

[Jombang, Pak Guru NINE] - Rabu, 21 Oktober 2026, saya mendapat amanah dari Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) Kabupaten Jombang untuk melaksanakan kegiatan MUI Goes to School di SMA Islam Ngoro, Jombang. Bagi saya, kegiatan ini merupakan ikhtiar untuk mendekatkan ulama dengan generasi muda, menghadirkan edukasi keagamaan yang relevan dengan kehidupan mereka, sekaligus menanamkan kesadaran bahwa masa depan bangsa turut ditentukan oleh kualitas karakter para remajanya hari ini.

MUI Goes to School merupakan salah satu program kerja DP MUI Kabupaten Jombang untuk memberikan edukasi kepada pelajar sekaligus menyosialisasikan fatwa MUI, terutama yang berkaitan dengan persoalan aktual di tengah masyarakat. Salah satu materi yang menjadi perhatian adalah Fatwa MUI Provinsi Jawa Timur Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyalahgunaan Rokok Elektronik (Vape) sebagai Sarana Konsumsi Narkotika, Psikotropika, Zat Memabukkan, dan Zat Adiktif Terlarang.

Mengapa tema ini penting disampaikan kepada remaja? Karena tantangan generasi muda terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Sesuatu yang tampak modern, praktis, dan menjadi bagian dari pergaulan belum tentu bebas dari risiko. Rokok elektronik, misalnya, tidak cukup dipahami hanya dari bentuk perangkat atau aroma cairannya. Kita juga perlu memahami bagaimana perangkat tersebut digunakan, kandungan yang dimasukkan ke dalamnya, serta potensi penyalahgunaannya untuk mengonsumsi zat-zat terlarang.

Di sinilah edukasi menjadi sangat penting. Remaja tidak cukup hanya diberi larangan, tetapi juga perlu diajak memahami alasan di balik larangan tersebut. Pengetahuan yang baik membantu mereka mengenali risiko, mempertimbangkan konsekuensi, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Sosialisasi fatwa pun seharusnya tidak berhenti pada penyampaian ketentuan hukum, melainkan menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran, melindungi diri, dan menjaga lingkungan pergaulan.

Tentu, penjelasan tentang fatwa vape harus disampaikan secara proporsional. Fatwa tersebut berfokus pada penyalahgunaan rokok elektronik sebagai sarana konsumsi zat-zat terlarang, bukan untuk serta-merta menyimpulkan bahwa semua penggunaan vape memiliki status hukum yang sama. Ketepatan informasi sangat penting agar edukasi agama tidak menimbulkan kesalahpahaman. Menyampaikan kebenaran dengan jelas, tepat, dan bijaksana merupakan bagian dari tanggung jawab dakwah.

Kebetulan, kegiatan ini berlangsung menjelang peringatan Hari Santri Nasional 2026. Karena itu, saya menghubungkan materi presentasi dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.”. Indonesia Emas tidak cukup dibangun melalui kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, atau kecanggihan infrastruktur. Kita juga membutuhkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, sehat, dan memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsanya.

Dalam presentasi tersebut, saya mengajak para pelajar memahami peran MUI sebagai pemberi fatwa, mitra pemerintah, pelayan umat, penerus misi kenabian dalam dakwah, serta bagian dari ikhtiar pembaruan kehidupan umat. Saya juga mengaitkannya dengan nilai Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, yakni ajaran yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Nilai ini semestinya tercermin dalam sikap menghormati sesama, menjaga persaudaraan, menolak kekerasan, bijak menggunakan media sosial, serta peduli terhadap kesehatan dan lingkungan.

Saya bersyukur pihak SMA Islam Ngoro menyambut kedatangan saya dengan hangat dan menyiapkan para murid untuk mengikuti kegiatan di musala sekolah. Dengan dukungan papan panel digital yang tersedia, saya menyampaikan materi presentasi yang telah dipersiapkan. Suasana kegiatan terasa akrab dan menyenangkan. Para murid mengikuti materi dengan antusias. Ada canda, tawa, dan pertanyaan-pertanyaan yang membuat diskusi semakin dinamis.

Selama kurang lebih 90 menit, saya merasakan bahwa edukasi akan lebih bermakna ketika peserta didik tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga diberi ruang untuk bertanya, berpikir, dan menyampaikan pendapat. Suasana yang hidup bukan berarti materi kehilangan keseriusannya. Justru, pendekatan yang komunikatif dapat membantu pesan penting diterima tanpa membuat pelajar merasa sedang digurui.

Sekitar pukul 10.20 WIB, saya berpamitan meninggalkan sekolah. Dalam perjalanan keluar, saya menyaksikan para murid menikmati menu Makan Bergizi Gratis (MBG) hari itu dengan penuh sukacita. Pemandangan sederhana tersebut meninggalkan kesan tersendiri. Edukasi, perhatian terhadap kesehatan, dan pemenuhan kebutuhan gizi merupakan bagian-bagian yang saling melengkapi dalam upaya menyiapkan generasi masa depan.

Sebab, generasi unggul tidak lahir hanya dari ruang kelas atau ceramah di atas mimbar. Mereka tumbuh melalui perpaduan pengetahuan, keteladanan, lingkungan yang mendukung, kesehatan yang terjaga, dan kesempatan untuk mengembangkan potensi diri.

Pengalaman MUI Goes to School di SMA Islam Ngoro kembali mengingatkan saya bahwa membangun bangsa dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana: menyapa pelajar, berbagi pengetahuan, menjawab pertanyaan, dan menanamkan nilai kebaikan. Tidak semua perubahan harus dimulai dengan kegiatan besar. Terkadang, satu pertemuan yang hangat dapat menumbuhkan satu pemikiran baru; satu pemikiran baru dapat melahirkan keputusan yang lebih bijaksana; dan keputusan yang bijaksana, jika dilakukan bersama-sama, dapat membentuk masa depan yang lebih baik.

Santri menguatkan negeri bukan hanya melalui kenangan tentang perjuangan masa lalu, tetapi melalui tindakan nyata pada masa kini. Mari hadirkan generasi yang kuat imannya, luas ilmunya, luhur akhlaknya, sehat jasmani dan rohaninya, serta mampu menggunakan kemajuan zaman untuk kemaslahatan bersama. Dari sekolah, dari musala, dari ruang-ruang dialog yang sederhana, kita menyalakan harapan menuju Indonesia Emas.[pgn]

Nine Adien Maulana, Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

Posting Komentar

0 Komentar