Saat Suara Rakyat Menggema, Mari Bijak Menyikapinya!

 

Doa ini ditulis dan dipanjatkan sebagai ungkapan kelemahan hamba yang menginginkan kedamaian di negeri ini.

[Pacarpeluk, Pak Guru NINE] - Ketika saya masuk sebagai mahasiswa baru di IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 1998, suasana kampus kala itu dipenuhi semangat reformasi. Para aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi (KMPD) begitu dominan, mereka menjadi penggerak diskusi-diskusi kritis hingga orator utama dalam demonstrasi. Salah satu ciri khas dari masa orientasi mahasiswa baru adalah diperkenalkannya lagu-lagu perjuangan, seperti Darah Juang. Lagu ini wajib kami hafalkan dan nyanyikan setiap hari selama OSPEK, sehingga nadanya begitu melekat di telinga hingga kini.

Namun, berbeda dengan Darah Juang, saya waktu itu kurang familiar dengan lagu Buruh Tani. Lagu ini biasanya lebih populer di kalangan aktivis pergerakan mahasiswa, sementara saya yang tidak terlalu sering ikut turun ke jalan, lebih akrab dengan Darah Juang. Menariknya, setelah lebih dari dua dekade berlalu, kini saya kembali mendengar Buruh Tani dinyanyikan, bukan hanya oleh mahasiswa baru di kampus, tetapi juga dalam berbagai kegiatan masyarakat—mulai dari karnaval Agustusan, lomba desa, hingga jalan sehat.

Fenomena ini memberi isyarat penting. Lagu-lagu perjuangan yang dahulu menjadi simbol eksklusif mahasiswa kini bergema di tengah masyarakat luas. Artinya, kesadaran kritis terhadap ketidakadilan, keresahan atas beban hidup, serta dorongan untuk memperjuangkan perubahan tidak lagi menjadi milik kelompok tertentu, melainkan telah menyebar di berbagai lapisan masyarakat.

Namun, di sinilah letak persoalan yang harus kita cermati. Kebangkitan semangat perlawanan ini ibarat pisau bermata dua. Ia bisa menjadi energi positif yang mendorong perubahan menuju keadilan dan kesejahteraan. Tetapi, di sisi lain, jika digerakkan dengan motif yang salah atau diprovokasi oleh pihak-pihak yang hanya mencari keuntungan politik sesaat, ia bisa menjelma menjadi kerusuhan, perpecahan, bahkan kehancuran tatanan sosial.

Oleh karena itu, semua pihak perlu bijak membaca fenomena ini. Pertama-tama, para pemimpin politik dan pemegang kebijakan harus segera melakukan introspeksi. Jangan sampai kebijakan yang dibuat hanya memperberat beban rakyat. Hindari gaya hidup hedonis yang mengiris perasaan masyarakat yang sedang kesulitan mencari nafkah. Sebaliknya, tunjukkan keteladanan, keberpihakan, dan keseriusan dalam memperjuangkan hajat hidup rakyat banyak.

Kedua, para ulama, kyai, dan pemuka agama memiliki peran besar dalam menjaga kesejukan suasana. Di tengah masyarakat yang sedang gelisah, mereka hendaknya menyuarakan ketenangan, bukan malah menambah api dengan narasi-narasi provokatif. Agama seharusnya menjadi penuntun menuju kedamaian, bukan bahan bakar konflik.

Ketiga, masyarakat sipil, termasuk para akademisi, guru, aktivis, dan media, juga harus berperan sebagai penjernih suasana. Alih-alih hanya menyebarkan keresahan, kita bisa mendorong diskusi sehat, pendidikan politik yang mencerahkan, serta gerakan sosial yang konstruktif.

Di sini, ada satu prinsip dalam ushul fiqh yang sangat relevan: dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih—menghindari kerusakan harus lebih diutamakan daripada mengejar kebaikan. Artinya, sebaik apapun tujuan sebuah aksi, jika cara yang ditempuh menimbulkan kerusakan yang lebih besar, maka tujuan itu kehilangan nilai mulianya.

Kita bisa melihat makna ini tercermin dalam dua lagu perjuangan yang kini kembali menggema: Darah Juang dan Buruh Tani.

Darah Juang, yang diciptakan oleh John Tobing bersama rekan-rekannya pada awal 1990-an, lahir dari keprihatinan mendalam melihat rakyat yang hidup di tanah subur namun tetap miskin dan terpinggirkan. Lagu ini menjadi simbol perlawanan kaum muda untuk menyuarakan keadilan. Semangatnya adalah harapan agar rakyat terbebas dari penindasan.

Sementara itu, Buruh Tani, karya Safi’i Kemamang yang merekam suara kelompok yang paling rentan: buruh, petani, mahasiswa, dan rakyat miskin kota. Lagu ini mengajak mereka bersatu untuk merebut demokrasi, membayangkan hari esok yang lebih sejahtera tanpa tirani. Ada semangat perlawanan, tapi juga optimisme bahwa perubahan mungkin dicapai bila rakyat bergandengan tangan.

Dua lagu ini sebenarnya adalah cermin keresahan yang terus berulang dalam sejarah bangsa. Dari masa Orde Baru hingga era sekarang, persoalan ketidakadilan sosial dan kesenjangan ekonomi tetap menjadi luka yang dirasakan banyak orang. Maka, tidak heran jika lagu-lagu itu kembali populer, karena pesan yang dikandungnya masih relevan dengan realitas hari ini.

Tetapi kita harus belajar dari sejarah. Reformasi 1998 misalnya, memang berhasil meruntuhkan rezim otoriter, tetapi juga menyisakan luka berupa kerusuhan, kekerasan, dan kekacauan sosial. Jangan sampai sejarah kelam itu terulang. Perubahan yang kita inginkan seharusnya ditempuh dengan cara-cara yang damai, elegan, dan beradab.

Di sinilah pentingnya mengambil sikap terbaik. Lagu perjuangan boleh kita nyanyikan sebagai pengingat akan tanggung jawab sosial. Kesadaran kritis boleh terus kita pelihara sebagai bentuk kewaspadaan. Tetapi yang lebih utama adalah bagaimana kita menyalurkan semangat itu untuk membangun, bukan merusak; untuk menyatukan, bukan memecah belah.

Kita bisa mulai dari hal-hal kecil: berdiskusi sehat tanpa saling menuding, memperjuangkan aspirasi lewat jalur demokratis, menyalurkan kritik dengan solusi, serta mendukung kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyat. Dengan begitu, energi kolektif masyarakat tidak berhenti pada nyanyian atau kemarahan, tetapi berubah menjadi kekuatan nyata untuk membangun kehidupan yang lebih harmonis dan adil.

Akhirnya, fenomena menguatnya kembali lagu-lagu perjuangan seperti Darah Juang dan Buruh Tani adalah alarm bagi kita semua. Alarm bahwa ada keresahan yang nyata di tengah masyarakat. Jangan biarkan alarm itu berubah menjadi sirine kerusuhan. Mari kita dengarkan dengan hati, lalu menjawabnya dengan sikap yang bijak dan bertanggung jawab. Karena keharmonisan masyarakat adalah harta yang terlalu mahal untuk dikorbankan.[pgn]

Nine Adien Maulana, GPAI SMAN 2 Jombang - Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

Posting Komentar

0 Komentar