Tadzakkur Rahmani: Saat Logika Bertemu Hati Nurani

 

Tadzakkur Rahmani adalah sebuah sistem pengetahuan di mana akal tidak berdiri angkuh sendirian, dan hati tidak melayang tanpa pijakan. Ini adalah sebuah metode di mana proses "mengetahui" menjadi satu tarikan napas dengan proses "mengingat" (Tadzakkur) Sang Maha Pengasih (Ar-Rahman).


[Pacarpeluk, Pak Guru NINE] - Kita hidup di sebuah zaman yang riuh. Di era di mana informasi membanjir bak air bah, namun kebijaksanaan terasa makin kering kerontang. Jempol kita sering kali bergerak lebih cepat daripada nalar, dan komentar kita kerap meluncur lebih dulu sebelum hati sempat merenung. Di tengah kebisingan digital ini, sebuah pertanyaan purba yang berusia lebih dari 2.300 tahun kembali mengetuk pintu kesadaran kita: Bagaimana sesungguhnya manusia itu "tahu"?

Sejak masa Sokrates di Yunani Kuno hingga era Artificial Intelligence hari ini, umat manusia seolah terbelah dalam dua kutub sengketa yang tak berkesudahan. Di satu sisi, ada kaum rasionalis yang mendewakan akal sebagai satu-satunya panglima kebenaran. Di sisi lain, ada kaum empiris dan spiritualis yang meyakini bahwa rasa dan pengalaman batin adalah kunci segalanya. Seolah-olah, kita dipaksa memilih: menjadi relijius tapi tumpul logika, atau menjadi cerdas tapi kering spiritualitas.

Namun, benarkah Islam sesempit itu? Benarkah Al-Qur'an menyuruh kita mematikan "lampu akal" demi menyalakan "lilin iman"?

Jawabannya akan kita temukan dalam sebuah pertemuan istimewa di TERAS: Temu Rasa dan Spiritualitas Edisi ke-4. Kali ini, TERAS tidak sekadar mengajak Anda duduk santai, melainkan mengajak Anda menyelam ke dasar samudra ilmu melalui bedah buku mahakarya bertajuk “Epistemologi Tadzakkur Rahmani: Sistem Pengetahuan Al-Qur'an dalam Tafsir Sufistik dan Falsafi”.

Buku ini bukan sembarang bacaan. Ini adalah hasil permenungan mendalam dari seorang sahabat, intelektual muda, sekaligus saudara seperjuangan saya sesama alumni Santri Kaliwates, Dr. Piet Hizbullah Khaidir, S.Ag., M.A., yang kini mengemban amanah sebagai Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan.

Apa yang membuat buku ini—dan diskusi kita nanti—begitu penting?

Bayangkan dua raksasa pemikiran Islam duduk satu meja. Di ujung kanan, ada Ibn Arabi, sang Syaikhul Akbar yang mewakili puncak kejernihan intuisi sufi melalui Al-Futuhat al-Makkiyah. Di ujung kiri, ada Fakhr al-Din al-Razi, sang maestro tafsir rasional yang mewakili ketajaman logika melalui Mafatihul Ghayb. Selama berabad-abad, pendekatan keduanya sering dianggap berseberangan. Namun, Dr. Piet Hizbullah Khaidir, dengan ketelitian seorang akademisi dan kebeningan hati seorang santri, berhasil merajut keduanya.

Menggunakan pisau analisis fenomenologi Edmund Husserl, Dr. Piet tidak sedang mencampuradukkan minyak dan air. Ia justru menemukan benang merah yang indah dalam Al-Qur'an. Ia memperkenalkan kita pada konsep "Tadzakkur Rahmani". Sebuah istilah yang mungkin terdengar langit, namun sejatinya sangat membumi.

Tadzakkur Rahmani adalah sebuah sistem pengetahuan di mana akal tidak berdiri angkuh sendirian, dan hati tidak melayang tanpa pijakan. Ini adalah sebuah metode di mana proses "mengetahui" menjadi satu tarikan napas dengan proses "mengingat" (Tadzakkur) Sang Maha Pengasih (Ar-Rahman). Bahwa ketika kita belajar fisika, merenung filsafat, atau membaca tanda-tanda alam, kita tidak sedang menjauh dari Tuhan, melainkan sedang menelusuri jejak-jejak kasih sayang-Nya.

Buku ini hadir dengan bobot yang tak main-main. Prolognya ditulis oleh tokoh bangsa Prof. Din Syamsuddin, pengantarnya oleh cendekiawan Prof. Abdul Kadir Riyadi, dan epilognya dikunci dengan apik oleh Prof. Haedar Nashir. Bahkan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Abdul Mu'ti, menyebutnya sebagai karya yang menyamai teori-teori besar epistemologi filsafat Islam dan Barat.

Maka, kehadiran Dr. Piet di TERAS edisi mendatang bukan sekadar rutinitas talkshow. Ini adalah sebuah oase bagi kita yang lelah dengan kedangkalan berpikir. Ini adalah panggilan bagi para pendidik, pencari ilmu, dan siapa saja yang merindukan harmoni antara tajamnya pikir dan lembutnya zikir.

Kita akan mengupas tuntas 16 lafal kunci epistemologi dalam Al-Qur'an. Kita akan berdiskusi tentang bagaimana seharusnya subjek (kita) berinteraksi dengan objek pengetahuan di era modern ini. Apakah pengetahuan itu sekadar data materi fisik, ataukah ia memiliki dimensi semi-metafisik, bahkan metafisik?

Saya, Nine Adien Maulana, mengundang Anda untuk menyiapkan ruang kosong di hati dan pikiran. Simpan gawai hiburan Anda sejenak nanti. Kita akan duduk bersama di beranda virtual, menyimak paparan yang, Insya Allah, akan mengubah cara pandang kita terhadap ilmu dan kehidupan.

Kapan waktunya?

Biarlah itu menjadi misteri sejenak. Sengaja saya rahasiakan tanggal mainnya, agar rasa penasaran Anda tumbuh menjadi rindu, dan rindu itu kelak menjadi energi yang merekatkan kita dalam majelis ilmu ini. Pantau terus linimasa saya.

Mari bersiap. Karena di TERAS, kita tidak hanya bertemu muka, tapi bertemu rasa. Di Tadzakkur Rahmani, kita tidak hanya mengasah logika, tapi menata jiwa.

Sampai jumpa dalam frekuensi yang sama. Salam Literasi dan Spiritualitas. [pgn]

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Alhamdulillah menemukan bacaan yg seirama dgn suasana hati yg sering kehilangan arah ..

    BalasHapus
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)