![]() |
| Sungguh indah adab Nabi kita. Bila makanan itu kurang lezat, atau mungkin lauknya kurang sesuai dengan selera, beliau diam. Beliau tinggalkan tanpa keluar satu pun kata hinaan. |
KHOTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلهِ. اَلْحَمْدُ لِلهِ
الَّذِيْ خَلَقَ الْأَشْيَاءَ وَقَدَّرَهَا تَقْدِيْرًا، وَوَسَّعَ عَلَى
عِبَادِهِ فَضْلًا وَخَيْرًا كَثِيْرًا. اَلَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ
الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَرَزَقَنَا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَأَمَرَنَا
بِالشُّكْرِ عَلَى هَذِهِ الْإِنْعَامِ، وَنَهَانَا عَنِ الْكُفْرَانِ
وَالإِسْرَافِ وَالْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ بِالْآثَامِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ السَّلَامُ، ذُو الْجَلَالِ
وَالْإِكْرَامِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ، صَاحِبُ الْخُلُقِ الْعَظِيْمِ وَالْأَدَبِ التَّامِّ، خَيْرُ مَنْ
شَكَرَ رَبَّهُ وَعَظَّمَ النِّعَمَ عَلَى التَّمَامِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ
الطَّاهِرِيْنَ، وَصَحَابَتِهِ الْأَخْيَارِ الْمُنْتَجَبِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا
النَّاسُ، يَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. اِتَّقُوا
اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى
نِعَمِهِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ. فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَنَجَا
الْمُخْلِصُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ
الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ. وَقَالَ تَعَالَى فِي
آيَةٍ أُخْرَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا
رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ. صَدَقَ
اللهُ الْعَظِيْمُ.
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Puji syukur senantiasa kita panjatkan
ke hadirat Allah SWT, Dzat yang tiada henti mengalirkan rezeki kepada kita,
mulai dari udara yang kita hirup hingga sebulir nasi yang menguatkan tubuh kita
untuk beribadah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan
kita, Nabi Muhammad SAW, teladan sempurna dalam berakhlak dan beradab, termasuk
adab terhadap hal-hal yang mungkin oleh sebagian orang dianggap remeh, yakni
adab terhadap makanan.
Melalui mimbar yang mulia ini, khatib
berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada hadirin sekalian: marilah kita
tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Ketakwaan yang tidak hanya berwujud
pada rajinnya shalat dan puasa, tetapi juga mewujud pada akhlak mulia dalam
kehidupan sehari-hari.
Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia,
Akhir-akhir ini, ruang publik dan media
sosial kita dihiasi oleh sebuah fenomena yang sangat menyayat hati. Kita
melihat ada sebagian saudara kita yang secara sengaja mengumpat, mencela,
membuang, bahkan menginjak-injak makanan dari program pemerintah, yakni Makan
Bergizi Gratis (MBG).
Jamaah sekalian, mari kita dudukkan
perkara ini dengan kejernihan akal dan kebersihan hati. Sebagai warga negara
yang merdeka, kita sah-sah saja dan boleh tidak
sependapat dengan sebuah kebijakan politik. Kita boleh mengkritik program MBG
dari sisi anggaran, mekanisme, atau kelayakannya. Itu adalah ranah pikiran dan
kebijakan.
Akan tetapi, manakala
"program" itu telah menjelma wujud menjadi sekotak nasi, sepotong
ayam, sayur, atau segelas susu yang tersaji di depan mata kita, maka statusnya
telah berubah. Ia bukan lagi sekadar urusan politik atau kebijakan pemerintah.
Ia adalah makanan. Ia adalah rezeki. Ia adalah nikmat dari Allah SWT. Dan ketika kita berhadapan
dengan makanan, kita sebagai seorang Muslim langsung terikat oleh adab dan
syariat yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Bagaimana adab Rasulullah terhadap makanan?
Apakah beliau pernah mencelanya jika dirasa kurang enak? Mari kita renungkan
hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim berikut ini:
مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ
تَرَكَهُ
"Rasulullah SAW tidak pernah mencela
makanan sekalipun. Jika beliau berselera (suka), beliau memakannya. Dan jika
beliau tidak suka, beliau meninggalkannya." (HR. Bukhari dan
Muslim)
Sungguh indah adab Nabi kita. Bila
makanan itu kurang lezat, atau mungkin lauknya kurang sesuai dengan selera,
beliau diam. Beliau tinggalkan tanpa keluar satu pun kata hinaan. Mengapa?
Karena mencela makanan sama halnya dengan mencela Dzat yang menciptakan rezeki
tersebut. Jika hari ini ada yang membuang dan menginjak-injak makanan yang
sudah matang dan layak makan, sungguh ia telah mencoreng wajah peradaban dan
melanggar sunnah nabinya sendiri.
Bahkan, saking berharganya makanan,
Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk memungut makanan yang jatuh.
إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ
فَلْيَأْخُذْهَا، فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا، وَلَا
يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ
"Jika suapan makanan salah seorang dari
kalian jatuh, ambillah kembali, lalu buang bagian yang kotor dan makanlah
bagian yang bersih. Jangan dibiarkan untuk setan." (HR. Muslim)
Jamaah sekalian, sebutir nasi yang
jatuh ke tikar saja disunnahkan untuk diambil karena di sanalah mungkin letak
keberkahannya. Lalu, akal sehat mana yang bisa membenarkan tindakan sengaja
membuang sebungkus makanan bergizi ke tempat sampah, hanya karena rasa gengsi,
amarah, atau ketidaksukaan pada sebuah program?
Tindakan merusak dan membuang makanan
adalah perbuatan mubazir yang sangat dibenci oleh Allah. Allah SWT secara tegas
menyamakan pelaku mubazir dengan saudara setan:
...وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ﴿٢٦﴾ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ
كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا ﴿٢٧﴾
"...Dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu
adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada
Tuhannya."
(QS. Al-Isra: 26-27)
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Selain dalil naqli dari Al-Qur'an dan
Hadits, mari kita gunakan dalil aqli, akal
sehat dan empati kemanusiaan kita.
Pertama, secara logis dan empiris, cobalah kita tengok
kolong-kolong jembatan, panti asuhan, atau saudara-saudara kita para pekerja
kasar di jalanan. Di luar sana, ada jutaan perut yang berbunyi menahan perihnya
kelaparan. Ada ayah yang meneteskan air mata karena pulang tidak membawa uang
untuk membeli beras bagi anaknya. Di tengah realitas kemiskinan seperti ini,
membuang-buang makanan gratis yang layak konsumsi adalah wujud "kebutaan
empati" yang luar biasa kejam.
Kedua, secara rasional, pikirkanlah proses
panjang di balik makanan tersebut. Ada keringat petani yang kulitnya legam
terbakar matahari saat menanam padi. Ada jerih payah peternak yang merawat
ayam. Ada koki yang bangun di sepertiga malam untuk menanak nasi dan meracik
bumbu. Ketika seseorang menginjak-injak makanan itu, sejatinya ia sedang
menginjak-injak martabat dan keringat ribuan manusia yang bekerja keras di
baliknya.
Ketiga, makanan dari program pemerintah pada
hakikatnya dibeli dari uang rakyat. Maka, cara paling rasional dan bermanfaat
apabila kita menolak memakannya bukanlah dengan membuangnya, melainkan
memberikannya kepada tetangga yang membutuhkan, kepada musafir, atau minimal
kepada hewan peliharaan. Itulah jalan orang-orang yang berakal sehat.
Hadirin yang berbahagia,
Sebagai penutup khotbah pertama ini,
mari kita renungkan ancaman dan janji Allah terkait rasa syukur dalam Surat
Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن
شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan:
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu,
dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat
pedih."
Mari kita didik keluarga kita,
anak-anak kita, dan masyarakat di sekitar kita. Berbedalah pandangan dengan
elegan, namun tetaplah menjunjung tinggi adab kesopanan. Jangan pernah mencela
makanan. Syukuri nikmat Allah sekecil apa pun itu, agar Allah berkenan
menurunkan keberkahan-Nya untuk negeri yang kita cintai ini.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ
هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
KHOTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَثِيْرًا
كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ
تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ
الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ: أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، وَيَا قَاضِيَ
الْحَاجَاتِ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ
الْمُوَحِّدِيْنَ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ
الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
*Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang – Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang
.jpg)
0 Komentar