Khotbah Jumat: Jangan Ada Caci Maki di Atas Nampan MBG!

 

Sungguh indah adab Nabi kita. Bila makanan itu kurang lezat, atau mungkin lauknya kurang sesuai dengan selera, beliau diam. Beliau tinggalkan tanpa keluar satu pun kata hinaan. 

KHOTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلهِ. اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْأَشْيَاءَ وَقَدَّرَهَا تَقْدِيْرًا، وَوَسَّعَ عَلَى عِبَادِهِ فَضْلًا وَخَيْرًا كَثِيْرًا. اَلَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَرَزَقَنَا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَأَمَرَنَا بِالشُّكْرِ عَلَى هَذِهِ الْإِنْعَامِ، وَنَهَانَا عَنِ الْكُفْرَانِ وَالإِسْرَافِ وَالْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ بِالْآثَامِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ السَّلَامُ، ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَاحِبُ الْخُلُقِ الْعَظِيْمِ وَالْأَدَبِ التَّامِّ، خَيْرُ مَنْ شَكَرَ رَبَّهُ وَعَظَّمَ النِّعَمَ عَلَى التَّمَامِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ، وَصَحَابَتِهِ الْأَخْيَارِ الْمُنْتَجَبِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، يَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ. فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَنَجَا الْمُخْلِصُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ. وَقَالَ تَعَالَى فِي آيَةٍ أُخْرَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Dzat yang tiada henti mengalirkan rezeki kepada kita, mulai dari udara yang kita hirup hingga sebulir nasi yang menguatkan tubuh kita untuk beribadah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, teladan sempurna dalam berakhlak dan beradab, termasuk adab terhadap hal-hal yang mungkin oleh sebagian orang dianggap remeh, yakni adab terhadap makanan.

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada hadirin sekalian: marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Ketakwaan yang tidak hanya berwujud pada rajinnya shalat dan puasa, tetapi juga mewujud pada akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia,

Akhir-akhir ini, ruang publik dan media sosial kita dihiasi oleh sebuah fenomena yang sangat menyayat hati. Kita melihat ada sebagian saudara kita yang secara sengaja mengumpat, mencela, membuang, bahkan menginjak-injak makanan dari program pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG).

Jamaah sekalian, mari kita dudukkan perkara ini dengan kejernihan akal dan kebersihan hati. Sebagai warga negara yang merdeka, kita sah-sah saja dan boleh tidak sependapat dengan sebuah kebijakan politik. Kita boleh mengkritik program MBG dari sisi anggaran, mekanisme, atau kelayakannya. Itu adalah ranah pikiran dan kebijakan.

Akan tetapi, manakala "program" itu telah menjelma wujud menjadi sekotak nasi, sepotong ayam, sayur, atau segelas susu yang tersaji di depan mata kita, maka statusnya telah berubah. Ia bukan lagi sekadar urusan politik atau kebijakan pemerintah. Ia adalah makanan. Ia adalah rezeki. Ia adalah nikmat dari Allah SWT. Dan ketika kita berhadapan dengan makanan, kita sebagai seorang Muslim langsung terikat oleh adab dan syariat yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Bagaimana adab Rasulullah terhadap makanan? Apakah beliau pernah mencelanya jika dirasa kurang enak? Mari kita renungkan hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim berikut ini:

مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

"Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan sekalipun. Jika beliau berselera (suka), beliau memakannya. Dan jika beliau tidak suka, beliau meninggalkannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sungguh indah adab Nabi kita. Bila makanan itu kurang lezat, atau mungkin lauknya kurang sesuai dengan selera, beliau diam. Beliau tinggalkan tanpa keluar satu pun kata hinaan. Mengapa? Karena mencela makanan sama halnya dengan mencela Dzat yang menciptakan rezeki tersebut. Jika hari ini ada yang membuang dan menginjak-injak makanan yang sudah matang dan layak makan, sungguh ia telah mencoreng wajah peradaban dan melanggar sunnah nabinya sendiri.

Bahkan, saking berharganya makanan, Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk memungut makanan yang jatuh.

إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا، فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا، وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ

"Jika suapan makanan salah seorang dari kalian jatuh, ambillah kembali, lalu buang bagian yang kotor dan makanlah bagian yang bersih. Jangan dibiarkan untuk setan." (HR. Muslim)

Jamaah sekalian, sebutir nasi yang jatuh ke tikar saja disunnahkan untuk diambil karena di sanalah mungkin letak keberkahannya. Lalu, akal sehat mana yang bisa membenarkan tindakan sengaja membuang sebungkus makanan bergizi ke tempat sampah, hanya karena rasa gengsi, amarah, atau ketidaksukaan pada sebuah program?

Tindakan merusak dan membuang makanan adalah perbuatan mubazir yang sangat dibenci oleh Allah. Allah SWT secara tegas menyamakan pelaku mubazir dengan saudara setan:

...وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ﴿٢٦﴾ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا ﴿٢٧﴾

"...Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra: 26-27)

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Selain dalil naqli dari Al-Qur'an dan Hadits, mari kita gunakan dalil aqli, akal sehat dan empati kemanusiaan kita.

Pertama, secara logis dan empiris, cobalah kita tengok kolong-kolong jembatan, panti asuhan, atau saudara-saudara kita para pekerja kasar di jalanan. Di luar sana, ada jutaan perut yang berbunyi menahan perihnya kelaparan. Ada ayah yang meneteskan air mata karena pulang tidak membawa uang untuk membeli beras bagi anaknya. Di tengah realitas kemiskinan seperti ini, membuang-buang makanan gratis yang layak konsumsi adalah wujud "kebutaan empati" yang luar biasa kejam.

Kedua, secara rasional, pikirkanlah proses panjang di balik makanan tersebut. Ada keringat petani yang kulitnya legam terbakar matahari saat menanam padi. Ada jerih payah peternak yang merawat ayam. Ada koki yang bangun di sepertiga malam untuk menanak nasi dan meracik bumbu. Ketika seseorang menginjak-injak makanan itu, sejatinya ia sedang menginjak-injak martabat dan keringat ribuan manusia yang bekerja keras di baliknya.

Ketiga, makanan dari program pemerintah pada hakikatnya dibeli dari uang rakyat. Maka, cara paling rasional dan bermanfaat apabila kita menolak memakannya bukanlah dengan membuangnya, melainkan memberikannya kepada tetangga yang membutuhkan, kepada musafir, atau minimal kepada hewan peliharaan. Itulah jalan orang-orang yang berakal sehat.

Hadirin yang berbahagia,

Sebagai penutup khotbah pertama ini, mari kita renungkan ancaman dan janji Allah terkait rasa syukur dalam Surat Ibrahim ayat 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."

Mari kita didik keluarga kita, anak-anak kita, dan masyarakat di sekitar kita. Berbedalah pandangan dengan elegan, namun tetaplah menjunjung tinggi adab kesopanan. Jangan pernah mencela makanan. Syukuri nikmat Allah sekecil apa pun itu, agar Allah berkenan menurunkan keberkahan-Nya untuk negeri yang kita cintai ini.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHOTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ: أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

*Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang – Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

Posting Komentar

0 Komentar