[Jombang, Pak Guru NINE] - Dunia pendidikan kita
sering kali terjebak dalam dikotomi yang kaku: antara tatap muka yang dianggap
sakral dan daring (online)
yang dianggap sekadar pelarian. Ketika pemerintah sempat
menggulirkan wacana kebijakan satu hari sekolah daring dalam sepekan, riuh
rendah perdebatan pun tak terelakkan. Kini, meskipun di bulan April 2026 ini
pemerintah memutuskan untuk tidak jadi melaksanakannya, saya berdiri di sudut
yang berbeda. Sebagai seorang pendidik yang setiap hari beradu tatap dengan
binar mata para murid, saya justru melihat kebijakan ini sebagai peluang emas
yang terlewatkan.
Ada alasan mendalam
mengapa "satu hari daring" bukan sekadar soal efisiensi teknis,
melainkan sebuah investasi mentalitas bagi ekosistem pendidikan kita.
Poin pertama yang
melandasi dukungan saya adalah kepercayaan atau husnudhon terhadap
otoritas. Kebijakan ini kabarnya dirancang untuk penghematan konsumsi nasional terhadap Bahan Bakar Minyak sebagai dampak
perang Iran vs Israel dan Amerika Serikat. Tentu, sebagai guru,
kapasitas saya bukan untuk membedah angka-angka makroekonomi. Namun, saya
percaya bahwa ketika pemerintah melakukan kalkulasi matang, ada niat baik untuk
menyehatkan napas ekonomi bangsa.
Jika dengan meliburkan
perjalanan ke sekolah selama satu hari saja dalam seminggu dapat memberikan
dampak signifikan pada efisiensi energi dan sumber daya nasional, mengapa kita
harus berkeberatan? Pendidikan tidak hidup di ruang hampa; ia adalah bagian
dari tubuh besar negara. Jika tubuh besar ini ingin berhemat demi ketahanan
jangka panjang, sektor pendidikan sudah sewajarnya ikut memberikan kontribusi
yang logis.
Menepis
Hantu "Learning Loss"
Ketakutan terbesar para
kritikus biasanya bermuara pada satu istilah: learning loss atau
hilangnya pengetahuan. Namun, mari kita bersikap proporsional. Kebijakan ini
direncanakan hanya satu hari dalam sepekan, tepatnya di hari Jumat.
Senin hingga Kamis,
pembelajaran tetap berjalan seperti biasa. Ruang kelas tetap menjadi saksi
dialektika guru dan murid. Secara matematis dan pedagogis, kekhawatiran akan
penurunan kemampuan akademik yang drastis rasanya terlalu dibesar-besarkan.
Satu hari daring tidak akan menghapus fondasi pengetahuan yang dibangun selama
empat hari tatap muka yang intensif. Sebaliknya, satu hari ini justru bisa
menjadi jeda yang kontemplatif.
Mengapa hari Jumat sangat
ideal? Mari kita bedah anatomi waktu sekolah kita. Selama ini, Senin hingga
Kamis adalah waktu "tempur" bagi pembelajaran intrakurikuler sesuai
kurikulum. Jadwal padat, materi menumpuk, dan konsentrasi diuji.
Sementara itu, hari Jumat
secara tradisional telah menjadi hari yang lebih lentur. Kita memiliki Jumat
Sehat dengan senamnya, Jumat Religi dengan kegiatan keagamaannya, hingga Jumat
Bersih untuk menjaga marwah lingkungan sekolah. Di siang hari, kita memberikan
ruang bagi ibadah shalat Jumat, disusul kegiatan ekstrakurikuler seperti
Pramuka dan yang lain.
Jika kegiatan-kegiatan
ini dikonversi ke dalam moda daring dengan penugasan yang kreatif, murid tidak
akan kehilangan esensinya. Mereka bisa melakukan olahraga mandiri di rumah,
melaporkan refleksi ibadah melalui jurnal digital, atau melakukan aksi
kebersihan di lingkungan rumah mereka sendiri. Ini adalah bentuk nyata dari
pendidikan karakter yang tidak terbatas pada pagar sekolah.
Jujur saja, pasca pandemi
Covid-19, ada tren "kembali ke zona nyaman" di kalangan pendidik.
Setelah sempat dipaksa mengakrabi Zoom, Google Classroom, dan berbagai piranti
digital, banyak guru yang kembali ke metode konvensional sepenuhnya saat
sekolah dibuka kembali. Padahal, murid-murid kita adalah digital native yang bernapas dalam ekosistem teknologi.
Andai sekolah daring satu
hari ini diterapkan, pemerintah secara tidak langsung memberikan "tekanan
positif" bagi para guru. Kepala sekolah dan dinas pendidikan memiliki
alasan yang sah dan kuat untuk mewajibkan peningkatan kapasitas digital guru.
Kita tidak ingin ada kesenjangan antara guru yang masih "analog"
dengan murid yang sudah "super digital".
Satu hari daring dalam
sepekan akan memaksa kita, para pendidik, untuk terus mengasah taji dalam
memanfaatkan perangkat teknologi. Ini bukan soal kecanggihan alat, melainkan
soal relevansi cara mengajar dengan zaman yang dihadapi murid.
Adaptasi
Baru dan Harapan
Bulan April sebenarnya
adalah momentum yang tepat. Di penghujung tahun pelajaran 2025/2026 ini, materi
pokok biasanya sudah hampir tuntas. Murid-murid sedang bersiap menghadapi
Asesmen Sumatif Akhir Tahun. Memperkenalkan ritme daring di masa ini tidak akan
mengganggu stabilitas akademik. Justru, ini menjadi masa transisi yang manis
sebelum mereka memasuki liburan panjang.
Dengan blended learning (pembelajaran campuran), murid akan
mendapatkan pengalaman belajar yang lebih kaya. Mereka belajar mandiri di rumah
pada hari Jumat, mengelola waktu, dan menavigasi informasi digital, namun tetap
memiliki bimbingan langsung di hari-hari lainnya. Ini adalah simulasi dunia
kerja masa depan yang semakin fleksibel dan berbasis teknologi.
Meski April 2026 ini
pemerintah menyatakan kebijakan ini belum akan dilaksanakan, dukungan saya
tidak surut. Saya melihat satu hari daring sebagai jembatan peradaban. Ia
adalah titik temu antara penghematan nasional, efisiensi waktu, pengembangan
karakter mandiri murid, dan pemutakhiran kompetensi guru.
Pendidikan tidak boleh
alergi terhadap perubahan. Jika satu hari dalam seminggu kita bisa memberikan
kesempatan bagi guru untuk berinovasi di ruang virtual dan bagi murid untuk
mengeksplorasi kemandirian, bukankah itu sebuah kemajuan?
Semoga ke depannya,
wacana ini tidak hanya dipandang dari sudut pandang kesulitan teknis, tetapi
dari visi besar tentang bagaimana kita menyiapkan generasi yang tangguh, baik
di ruang kelas nyata maupun di luasnya jagat digital. Karena pada akhirnya,
pendidikan bukan tentang di mana kita duduk, tapi tentang sejauh mana pikiran
kita mampu melompat.[pgn]
Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang – Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

0 Komentar