[Jombang, Pak Guru NINE] - Bulan suci Ramadan bukan
sekadar tentang rutinitas menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga magrib.
Lebih dari itu, ia adalah momentum transformasi diri, ladang amal, sekaligus
panggung aksi nyata. Hal ini dibuktikan dengan sangat gemilang oleh para
pelajar pegiat Kerohanian Islam (Rohis) se-Jawa Timur. Pada Jumat, 13 Maret
2026, bertepatan dengan pertengahan Ramadan 1447 H, sebuah sejarah baru
tercipta. Inisiatif bertajuk "Gerakan Rohis Jatim
Peduli 2026" sukses digelar secara serentak di seluruh penjuru
kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Bukan sekadar seremonial
belaka, gerakan ini menjadi argumentasi logis bahwa pemuda muslim masa kini
mampu meramu kesalehan spiritual, kepekaan sosial, dan kepedulian ekologis
dalam satu tarikan napas.
Menembus batas jarak dan
ruang, gaung kebaikan ini secara resmi diluncurkan melalui sambungan virtual Zoom Meeting. Ratusan layar menyala, menyatukan
frekuensi semangat ribuan anggota Rohis dari ujung Banyuwangi hingga Ngawi.
Semarak inisiatif ini mendapat apresiasi penuh dari Kabid PAIS Kanwil Kemenag
Jawa Timur, Dr. H. Amak Burhanuddin, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau tak bisa
menyembunyikan rasa bangganya terhadap generasi muda ini.
"Ini
adalah wujud nyata dari pendidikan agama yang membumi. Gerakan serentak hari
Jumat ini—mulai dari gerakan edukasi wakaf, menanam pohon, Khotmil Qur'an,
hingga buka bersama—merupakan langkah cerdas yang sangat kami dukung," tegas
Dr. Amak. Dukungan moral dari level kementerian ini tentu menjadi bahan bakar
ekstra bagi para peserta untuk terus menebar manfaat.
Mari kita bedah anatomi
gerakan inspiratif ini. Pertama, fondasi spiritual mereka diperkuat melalui Khotmil Qur'an yang menggema serentak, dirangkai dengan
peringatan Nuzulul Qur'an. Ini bukanlah rutinitas membaca teks
suci tanpa makna, melainkan sebuah proses internalisasi nilai-nilai Al-Qur'an
sebagai kompas kehidupan remaja di tengah gempuran disrupsi digital.
Hebatnya, kesalehan itu
tak dibiarkan mandek di atas sajadah. Rohis Jatim membawa Al-Qur'an ke ranah
implementasi nyata melalui Gerakan Edukasi Wakaf.
Mengikis stigma usang bahwa wakaf adalah "ibadahnya orang tua yang sudah
mapan ekonomi", Putri Kumalasari, siswi SMAN Mojoagung Jombang, tampil
memukau mempresentasikan sosialisasi wakaf di hadapan kawan-kawan sebayanya.
Secara rasional, Putri mengajak para remaja untuk melek literasi filantropi
Islam sejak dini. Logikanya sederhana: wakaf uang tak perlu menunggu kaya. Ia
adalah passive income pahala jangka panjang yang bisa dimulai
oleh pelajar dengan menyisihkan sebagian kecil uang saku mereka.
Seolah belum cukup,
kepedulian itu direntangkan lebih lebar untuk memeluk bumi yang kita pijak. Gerakan Menanam Pohon dieksekusi secara serentak oleh
perwakilan Rohis kabupaten/kota se-Jawa Timur. Argumentasinya menghunjam: Islam
adalah ajaran rahmatan lil 'alamin. Merawat lingkungan dengan menanam
satu bibit pohon hari ini adalah mitigasi logis untuk mencegah krisis iklim di
masa depan. Rangkaian hari Jumat yang padat karya dan makna itu kemudian
ditutup dengan penuh kehangatan melalui Buka Bersama Yatim.
Sebuah rangkulan sosial yang menyadarkan kita bahwa senyum anak-anak yatim
adalah pembuka pintu-pintu keberkahan dari langit.
Melihat desain kegiatan
yang begitu komprehensif dan utuh ini, sangat wajar jika Dr. H. Mokh.
Fakhruddin Siswopranoto, M.Pd.I, selaku Ketua MGMP PAI SMAN Provinsi Jawa
Timur, memberikan dukungan penuhnya. Beliau memandang "Gerakan Rohis Jatim
Peduli 2026" di bulan suci Ramadan 1447 H ini sebagai sebuah terobosan
kreatif yang amat patut direplikasi oleh provinsi lain.
Pada akhirnya, Gerakan
Rohis Jatim Peduli 2026 telah memberikan kita sebuah tamparan edukatif yang
positif. Di tengah narasi pesimisme terhadap generasi muda yang kerap dilabeli apatis
atau individualis, anak-anak Rohis Jawa Timur maju ke depan membuktikan
sebaliknya. Mereka berhasil mengorkestrasi literasi keuangan (wakaf),
pelestarian alam (menanam pohon), kedalaman spiritual (Khotmil dan Nuzulul
Qur'an), serta empati sosial (buka bersama yatim) menjadi sebuah simfoni
peradaban.
Bukankah ini sebuah harmoni yang layak kita apresiasi, dukung, dan teladani? Jika para pelajar berseragam abu-abu saja bisa membuat gebrakan sebesar dan semulia ini, pertanyaannya kini berbalik kepada kita yang lebih dewasa: aksi nyata apa yang sudah kita siapkan untuk sesama dan semesta hari ini? [pgn]

0 Komentar