[Jombang, Pak Guru NINE] - Kamis, 12 Maret 2026,
pukul 20.15 WIB, akan menjadi momen yang sangat emosional dan penuh refleksi
bagi saya. Malam itu, saya dijadwalkan hadir kembali ke sebuah tempat yang
menyimpan banyak kenangan magis: SMAN Ploso. Undangan untuk mengisi materi
Pondok Ramadan 1447 H ini bukan sekadar rutinitas tugas biasa, melainkan sebuah
napak tilas kehidupan. SMAN Ploso adalah kawah candradimuka pertama saya. Di
sanalah, pada rentang tahun 2006 hingga 2012, saya menjejakkan kaki pertama
kali sebagai guru Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dari gerbang SMAN Ploso itu,
perjalanan panjang saya membentang—berpindah tugas ke SMPN 1 Kabuh, lalu
merajut cerita di SMPN 1 Jombang, melangkah ke SMKN 3 Jombang, hingga akhirnya
berlabuh mengabdi di SMAN 2 Jombang sampai hari ini.
Empat belas tahun berlalu
sejak saya mengemasi buku-buku dari meja guru SMAN Ploso. Wajah-wajah murid di
bangku kelas tentu sudah berganti, dan yang lebih esensial, peradaban tempat
mereka tumbuh telah berubah secara drastis. Jika dulu saya mengajar di era di
mana kapur, papan tulis, dan interaksi tatap muka menjadi senjata utama, kini
saya akan berhadapan dengan Generasi Z—generasi yang lahir dan bernapas di
tengah kepungan algoritma. Oleh karena itu, materi yang akan saya bawakan nanti
malam sangat relevan dengan denyut nadi keseharian mereka: "Dakwah Digital
Gen Z".
Mengapa ruang siber harus
menjadi medan dakwah kita saat ini? Mari kita letakkan fondasinya pada
argumentasi logis berbasis fakta. Indonesia, sebagai negara dengan populasi
terbanyak keempat di dunia, memiliki penganut agama Islam sebanyak 87%,
pengguna internet aktif sebesar 73%, dan pengguna media sosial mencapai 61%. Yang
paling mencengangkan, penetrasi pengguna telepon genggam untuk akses internet
menembus angka 125%. Ini berarti, satu orang bisa memiliki lebih dari satu
gawai mobile untuk terhubung ke dunia maya. Mayoritas pengakses internet
ini menggunakan telepon genggamnya, dan porsi terbesar waktu mereka dihabiskan
untuk berselancar di media sosial.
Kondisi demografis yang masif
ini adalah ladang yang sangat ideal untuk berdakwah dalam upaya mencapai pasar
umat secara luas. Mimbar masjid dan ruang kelas kini telah berevolusi menjadi
layar sentuh sebesar telapak tangan. Hanya dengan gawai mungil itu, seseorang
sudah dapat mencari tafsir, mendengarkan ceramah, hingga memproduksi dan
menyebarkan konten dakwahnya sendiri dalam hitungan detik.
Namun, berdakwah di dunia maya
tidak bisa asal meramu kata dan dalil. Platform media sosial memiliki peran
krusial dalam membentuk aktivitas dakwah Islam, terutama di kalangan muslim
muda. Setiap platform memiliki "bahasa" dan pasarnya sendiri;
misalnya, Twitter menggunakan dasar teks yang lebih memfasilitasi diskusi
logis, sementara Instagram dan TikTok sangat bertumpu pada interaksi visual
yang estetis. Di sinilah letak revolusi dakwah digital: semua orang berpotensi
menjadi pendakwah asalkan memiliki kemampuan desain visual, pengetahuan pasar,
dan strategi komunikasi yang memadai. Estetika visual, kemampuan komunikasi,
dan strategi pemasaran adalah kunci utama keberhasilan dakwah saat ini. Kita
tidak lagi melulu berbicara tentang konten apa yang harus
dikomunikasikan, tetapi juga bagaimana cara mengomunikasikannya agar
relevan. Dengan rumus Hook yang menarik, Value yang membumi, dan Call
to Action yang interaktif (seperti menyisipkan elemen gamifikasi), pesan
agama bisa tersampaikan tanpa harus menggurui.
Di balik kemegahan dan
kecepatan teknologi, tingkat kemudahan akses informasi ini ibarat pedang
bermata dua. Jika di era analog orang disebut cerdas karena memiliki banyak
akses informasi, di era modern ini seseorang baru bisa dikatakan cerdas jika ia
mampu memilah berbagai informasi yang diterimanya. Kemudahan ini bisa berbalik
menjadi bencana jika tidak ada kemauan untuk menyaring tumpukan informasi, yang
berpotensi melahirkan penyebaran pandangan radikalisme atau hoaks. Oleh
karenanya, sangat diperlukan saringan untuk memilah apa yang didapat guna
memastikan bahwa informasi tersebut benar adanya. Puasa di bulan Ramadan bukan
sekadar menahan dahaga, tetapi juga mempuasakan lisan digital—jempol kita. Saring
sebelum sharing adalah wujud nyata dari budi pekerti dan tabayyun di dunia
maya.
SMAN Ploso pernah menjadi
titik awal saya belajar menjadi seorang pendidik. Kini, saya kembali ke titik
nol tersebut untuk mengajak anak-anak muda hebat ini menjadi pionir kebaikan.
Saya ingin menanamkan keyakinan bahwa mereka tidak perlu menunggu menjadi ustaz
kondang untuk menyebarkan cahaya Islam. Cukup dengan menahan diri menyebarkan
hoaks, memberikan komentar yang menyejukkan, atau membagikan satu pesan
penyemangat—itu semua adalah dakwah yang mulia.
Di forum itu, saya tidak datang hanya
sebagai pemateri, tetapi sebagai kakak, orang tua, dan alumni guru SMAN Ploso
yang rindu. Mari kita ubah layar kaca di saku kita menjadi etalase kebaikan
sejati. Sampai jumpa besok
malam, SMAN Ploso. Mari kita penuhi beranda semesta dengan
kesejukan![pgn]
Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN Ploso (2006-2012) – Kreator Bestie di Live Tiktok @pakgurunine

0 Komentar