Mengurai Salah Kaprah Ucapan Selamat Idul Fitri

 

Bagi siapa pun yang memahami bahasa Arab, meski hanya permukaannya saja, akan segera tahu bahwa Minal ‘Aaidiin wal Faaiziin sama sekali tidak mengandung kata "maaf" (afw) maupun "lahir batin".


[Pacarpeluk, Pak Guru NINE] - Gema takbir baru saja meluruh, menyisakan keheningan yang syahdu sekaligus riuh rendah kegembiraan di setiap sudut negeri. Ramadan telah menunaikan tugasnya sebagai madrasah spiritual, dan kini kita berdiri di ambang 1 Syawal 1447 H. Di momen ini, ada satu "soundtrack" yang jauh lebih populer daripada lagu religi mana pun: ucapan "Minal ‘Aaidiin wal Faaiziin" yang biasanya langsung disusul dengan kalimat "Mohon maaf lahir dan batin."

Sebagai seorang pendidik, saya sering kali terjebak dalam rasa penasaran yang menggelitik. Setiap kali murid-murid datang menyalami saya dengan ucapan tersebut, saya mencoba melakukan survei kecil-kecilan. Saya bertanya sederhana, "Apa arti kalimat yang baru saja kamu ucapkan?" Dengan mantap dan tanpa ragu, mereka menjawab, "Artinya mohon maaf lahir batin, Pak!"

Di situlah saya tersenyum kecut. Fenomena ini mengingatkan saya pada analogi anak SD yang baru belajar bahasa Inggris. Karena sering melihat keset di depan pintu bertuliskan "Welcome", mereka berkesimpulan bahwa bahasa Inggrisnya "keset" adalah "welcome". Inilah yang kita sebut sebagai salah kaprah—sebuah kekeliruan yang dilakukan secara masif, berulang-ulang, hingga akhirnya dianggap sebagai sebuah kebenaran kolektif.

Mari kita bedah secara logis dan linguistik. Bagi siapa pun yang memahami bahasa Arab, meski hanya permukaannya saja, akan segera tahu bahwa Minal ‘Aaidiin wal Faaiziin sama sekali tidak mengandung kata "maaf" (afw) maupun "lahir batin". Secara harfiah, kalimat itu berarti "(Semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang."

Lantas, dari mana asal-usulnya? Jika kita melacak literatur klasik, ucapan ini sebenarnya adalah potongan kecil dari doa yang jauh lebih panjang dan indah:

“Taqabbalallaahu minnaa wa minkum, taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidiin wal faaiziin, wal maqbuuliin kullu ‘ammin wa antum bi khair.”

Artinya: “Semoga Allah menerima (amal ibadah Ramadan) kami dan kamu. Wahai Allah Yang Maha Mulia, terimalah! Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk orang-orang yang kembali (kepada fitrah) dan orang-orang yang menang serta diterima (amal ibadahnya). Setiap tahun semoga kamu senantiasa dalam kebaikan.”

Sayangnya, dalam tradisi lisan kita, doa yang komprehensif ini mengalami "penyusutan" yang kurang pas. Ibarat seseorang yang ingin mengenalkan seekor kuda, namun ia hanya memotong ekornya saja. Ia membawa potongan ekor itu keliling kampung dan berteriak, "Inilah kuda!" Tentu saja, orang yang pernah melihat kuda sungguhan akan tertawa. Mengucapkan Minal ‘Aaidiin wal Faaiziin tanpa konteks doa di depannya secara tata bahasa (grammatical) adalah kalimat yang menggantung (tidak mufidah). Ada sesuatu yang "disembunyikan" atau mahdzuf di sana.

Jika kita ingin menengok bagaimana para sahabat Nabi Muhammad SAW merayakan Idul Fitri, kita akan menemukan tradisi tahni'ah (ucapan selamat) yang lebih subtansial. Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari mencatat riwayat dari Jubair bin Nufair yang menyatakan bahwa para sahabat jika bertemu di hari raya akan saling mengucapkan: "Taqabbalallahu minnaa wa minkum" (Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian).

Kalimat ini jauh lebih logis dan menyentuh esensi. Mengapa? Karena kekhawatiran terbesar seorang mukmin setelah sebulan penuh berpuasa bukanlah apakah ia sudah dimaafkan oleh tetangganya, melainkan apakah investasi spiritualnya—puasa, tarawih, dan sedekahnya—diterima oleh Allah SWT. Ucapan ini adalah sebuah doa peneguh, sebuah harapan agar lelahnya kita selama Ramadan tidak menjadi sia-sia.

Namun, apakah ini berarti kita harus menjadi "polisi bahasa" yang kaku di hari raya? Tentu tidak. Di sinilah uniknya Islam di Indonesia. Kita memiliki kreativitas budaya yang luar biasa, mulai dari tradisi mudik hingga Halal Bi Halal—sesuatu yang bahkan tidak ditemukan akarnya di tradisi Arab, namun memiliki nilai kemanfaatan sosial yang tinggi.

Sikap moderat adalah kunci. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah ditanya soal ucapan selamat hari raya ini. Beliau menjawab dengan sangat bijak bahwa masalah tahni'ah adalah masalah adat atau budaya. Selama di dalamnya mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan syariat, maka diperbolehkan. Siapa yang mau mengikuti tradisi sahabat, ia punya panutan. Siapa yang mengikuti tradisi lokal yang baik, ia pun memiliki landasan.

Persoalannya bukan pada "boleh atau tidak" mengucapkan Minal ‘Aaidiin wal Faaiziin. Masalahnya adalah pada pembodohan makna. Kita boleh tetap melestarikan budaya, namun jangan sampai kita kehilangan akal sehat untuk membedakan antara doa "menjadi orang yang menang" dengan permohonan "maaf lahir batin".

Mari kita jadikan Idul Fitri tahun ini sebagai momentum untuk mencerdaskan diri. Jika Anda lebih nyaman menggunakan ucapan populer tersebut karena alasan keakraban budaya, silakan. Namun, setidaknya pahamilah maknanya yang benar: sebuah doa agar kita kembali suci dan meraih kemenangan spiritual.

Akan jauh lebih indah dan bermakna jika kita mulai membiasakan diri kembali ke akar tradisi yang diajarkan para sahabat: "Taqabbalallahu minnaa wa minkum." Kalimat ini pendek, padat, secara struktur kalimat sudah sempurna, dan secara sanad sangat kuat.

Maka, mulai sekarang, jangan lagi menganggap "Welcome" adalah "Keset". Jangan lagi menganggap "Minal 'Aidin" adalah "Mohon Maaf". Mari kita rayakan kemenangan ini dengan hati yang lapang, maaf yang tulus, dan pengetahuan yang lurus. Karena kemenangan yang sesungguhnya bukan hanya saat kita kembali ke fitrah, tapi saat kita mampu menjaga kejujuran—bahkan dalam hal sekecil ucapan selamat.[pgn]

Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang – Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

Posting Komentar

0 Komentar