![]() |
| Dalam dunia literasi grafis, desain bukan sekadar estetika, melainkan penyampai pesan. Sebuah media publikasi pejabat tinggi seharusnya membawa misi branding yang kuat dan komunikatif. |
Spanduk Bisu dan Retorika Visual yang 'Lugu'
[Jombang, Pak Guru NINE] - Jumat 10 April 2026, suasana SMAN 2 Jombang mendadak lebih riuh
dari biasanya. Kehadiran Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan,
membawa energi tersendiri bagi kami, para pendidik dan tentu saja para murid.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi sorotan nasional hari itu hadir
di depan mata. Menu Chicken Katsu dengan kesegaran
salad sayur dan pencuci mulut lima butir kelengkeng menjadi bukti nyata
perhatian negara pada gizi generasi penerus.
Sebagai guru, hati saya menghangat melihat binar mata
murid-murid di GOR Indoor Cak Durasim saat Pak Menko membagikan komputer tablet
sebagai apresiasi keberanian mereka. Namun, di sela-sela kegembiraan itu,
pandangan saya sebagai pegiat literasi visual terusik oleh pemandangan di
beberapa spot sekolah dan jalanan kota: spanduk banner berwarna
latar biru muda yang bertebaran.
Spanduk itu nampak sangat sederhana. Ada foto Pak Menko di sisi
kanan, logo kementerian di tengah, dan tulisan kapital "MENKO PANGAN
ZULKIFLI HASAN". Tak ada kalimat "Selamat Datang", tak ada pesan
edukasi pangan, tak ada narasi penyambutan. Ia seolah "bisu" di
tengah keriuhan acara yang begitu penting.
Dalam dunia literasi grafis, desain bukan sekadar estetika,
melainkan penyampai pesan. Sebuah media publikasi pejabat tinggi seharusnya
membawa misi branding yang kuat dan komunikatif. Namun, apa yang
saya lihat adalah sebuah anomali. Spanduk itu terjebak dalam keluguan desain
yang tidak jelas tujuannya: apakah ini papan nama jalan, poster kampanye yang
tertinggal, atau sambutan resmi?
Ketidakmampuan tim kreatif dalam mengemas pesan secara
naratif-grafis membuat citra seorang pejabat tinggi terkesan datar. Branding
bukan tentang seberapa besar foto yang terpampang, melainkan seberapa dalam
makna yang tersampaikan melalui harmoni antara teks dan gambar.
Dugaan saya mengenai kurang piawainya tim media kreatif dalam
mengemas citra ini bukan tanpa alasan. Kita tentu masih ingat kejadian beberapa
bulan lalu di Sumatra yang sempat viral, saat Pak Menko memanggul sekarung
beras di lokasi bencana. Bagi masyarakat awam, itu mungkin terlihat heroik.
Namun bagi mereka yang peka terhadap strategi komunikasi, tindakan itu terasa
sangat "diarahkan" dan kurang spontan.
Ada perbedaan tipis namun krusial antara "aksi nyata"
dan "aksi yang disetting". Ketika sebuah pencitraan dilakukan tanpa
rasa kreatif yang tinggi, hasilnya justru menjadi polemik. Alih-alih membangun
empati, narasi visual yang dipaksakan seperti itu justru melahirkan sentimen
negatif karena dianggap kurang tulus atau terlalu teatrikal. Keluguan dalam
mengonsep aksi inilah yang akhirnya merugikan citra pejabat itu sendiri.
Tawaran Solusi
Membangun citra seorang menteri di era digital memerlukan lebih
dari sekadar desain standar percetakan pinggir jalan. Tim protokoler dan media
kreatif harus mulai beralih dari gaya komunikasi "informatif-kaku"
menuju "naratif-inspiratif". Berikut adalah beberapa tawaran solusi
untuk memperbaiki kualitas komunikasi visual pejabat publik:
Pertama, Hierarki Pesan yang Jelas.
Setiap media luar ruang harus memiliki kata kerja atau kalimat sapaan yang
menghubungkan pejabat dengan audiensnya. Jika tujuannya menyambut, tuliskanlah
sambutan yang hangat. Jika tujuannya edukasi, berikan infografis ringkas yang
mencerahkan.
Kedua, Narrative Branding. Jangan hanya
menjual wajah, tapi juallah cerita. Alih-alih memanggul beras yang terkesan
dipaksakan, tim kreatif bisa mengemas narasi tentang "dialog hangat di
meja makan" bersama warga terdampak. Visual yang menangkap momen emosional
jauh lebih kuat daripada aksi fisik yang tampak diatur.
Ketiga, Simplicity with Soul. Sederhana itu
baik, tapi "lugu" itu berbahaya. Desain yang minimalis tetap harus
memiliki "nyawa" melalui tipografi yang tepat, pemilihan warna yang
filosofis, dan peletakan elemen yang tidak saling bertabrakan.
Akhirnya, kunjungan Pak Zulkifli Hasan ke
Jombang adalah momen berharga bagi pendidikan dan ketahanan pangan kita. Namun,
sangat disayangkan jika substansi acara yang hebat tersebut harus dibungkus
dengan kemasan visual yang kurang istimewa.
Sudah saatnya tim kreatif di lingkaran kekuasaan menyadari bahwa
di era sekarang, mata publik sangatlah kritis. Kita tidak kekurangan orang
pintar untuk mendesain, namun kita mungkin kekurangan orang yang mampu
menggabungkan estetika desain dengan kedalaman literasi. Citra seorang pemimpin
adalah cermin dari bagaimana tim di belakangnya bekerja. Jangan biarkan
keluguan visual mengaburkan niat baik yang ingin disampaikan kepada rakyat.
Sebab, dalam selembar spanduk, ada martabat lembaga yang sedang dipertaruhkan.[pgn]
Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang-Pemerhati Literasi Naratif dan Grafis

0 Komentar