[Jombang, Pak Guru NINE] - Ada kalanya sebuah tugas datang dengan
perubahan yang tidak terduga. Namun, justru dari perubahan itulah muncul
kesempatan untuk menyampaikan pesan kebaikan melalui cara yang berbeda.
Pengalaman itulah yang saya rasakan ketika mendapat amanah melaksanakan
kegiatan MUI Goes to School di SMA Abi Huroiroh, Perak, Jombang, tepat pada
Kamis, 22 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional.
Awalnya, kegiatan MUI Goes to School
dirancang sebagai acara presentasi tersendiri. Namun, karena kunjungan ke SMA
Abi Huroiroh bertepatan dengan pelaksanaan upacara peringatan Hari Santri
Nasional, pihak sekolah menghendaki agar materi tersebut disampaikan melalui
amanat Pembina Upacara.
Informasi itu disampaikan oleh KH.
Ilham Rohim, Sekretaris Umum DP MUI Kabupaten Jombang.
“Ustadz, pihak SMA Abi Huroiroh
menghendaki materi MUI Goes to School disampaikan dalam pidato amanat upacara
Hari Santri. Jadi besok njenengan harus siap menjadi pembina upacara.”
Saya menjawab singkat, “Siap!”
Saya pun segera menyesuaikan materi
presentasi menjadi naskah pidato amanat upacara. Materi yang semula disiapkan
untuk disampaikan dengan bantuan papan panel digital harus diringkas menjadi
naskah sekitar dua halaman kertas A4, dengan durasi kurang lebih tujuh menit.
Tantangannya bukan hanya memadatkan isi, melainkan memastikan pesan-pesan
penting tetap tersampaikan secara jelas, runtut, dan mudah dipahami oleh
peserta upacara dari berbagai jenjang pendidikan.
Dalam kesempatan itu, saya
menghubungkan peran MUI dan edukasi keagamaan dengan tema Hari Santri Nasional
2026: “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.”
Pesan yang ingin saya tegaskan
sederhana, tetapi penting: santri dan pelajar masa kini tidak cukup hanya
memiliki semangat belajar atau kebanggaan terhadap identitas keagamaannya.
Mereka juga perlu membangun karakter, memperluas wawasan, menjaga kesehatan,
menghormati perbedaan, serta memiliki keberanian untuk menolak hal-hal yang
merusak masa depan.
Salah satu bentuk kepedulian tersebut
adalah memahami risiko penyalahgunaan vape sebagai sarana mengonsumsi zat-zat
terlarang. Edukasi seperti ini penting agar remaja tidak mudah terpengaruh oleh
tren atau tekanan pergaulan. Mereka perlu dibekali kemampuan berpikir kritis
sehingga dapat membedakan antara sesuatu yang sekadar populer dan sesuatu yang
benar-benar bermanfaat.
Ketika upacara dimulai, suasana
berlangsung sederhana, tertib, dan khidmat. Kegiatan tersebut diikuti oleh para
murid MI, MTs, dan SMA yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Abi Huroiroh. Berdiri di hadapan peserta upacara dari berbagai kelompok usia
memberikan ruang untuk menyampaikan pesan yang dapat menjangkau mereka semua:
masa depan bangsa dibangun melalui pendidikan, akhlak, kedisiplinan, dan
kepedulian yang ditanamkan sejak dini.
Dengan gaya khas seorang orator, saya
menyampaikan amanat yang telah dipersiapkan. Saya ingin agar pidato itu tidak
berhenti sebagai rangkaian kata yang didengar sesaat, tetapi menjadi ajakan
untuk melakukan sesuatu. Sebab, upacara bukan sekadar rutinitas seremonial. Di
dalamnya terdapat kesempatan untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air, menghargai
perjuangan para pendahulu, dan memperbarui komitmen untuk mengisi kemerdekaan
dengan karya nyata.
Suasana semakin meriah ketika upacara
berakhir. Para murid yang telah bersiap kemudian menampilkan permainan drum
band dengan membawakan beberapa lagu, di antaranya Mars Hari Santri dan
Syubbanul Wathan. Irama musik yang menggema menghadirkan semangat kebersamaan
sekaligus mengingatkan bahwa tradisi pesantren dan kecintaan kepada Tanah Air
dapat berjalan beriringan.
Bagi saya, semangat santri tidak
seharusnya hanya muncul dalam lagu, pakaian, atau peringatan tahunan. Semangat
itu perlu hidup dalam perilaku sehari-hari: tekun menuntut ilmu, santun dalam
berbicara, jujur dalam bertindak, menghargai sesama, dan berani bertanggung
jawab. Kebanggaan terhadap sejarah harus diteruskan menjadi kontribusi nyata
bagi masa depan.
Ada pemandangan lain yang turut memberi
warna pada kegiatan hari itu. Seusai upacara, para murid menikmati menu Makan
Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan lebih awal daripada biasanya. Dalam
suasana peringatan Hari Santri, hidangan tersebut terasa seperti kenduri atau
kundangan bersama—sebuah momen sederhana yang menghadirkan kebersamaan dan
kegembiraan.
Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa
pendidikan generasi muda memerlukan perhatian yang menyeluruh. Ilmu dan
karakter perlu berjalan bersama dengan kepedulian terhadap kesehatan serta
pemenuhan kebutuhan gizi. Anak-anak yang dipersiapkan menjadi generasi unggul
membutuhkan bukan hanya nasihat yang baik, tetapi juga lingkungan yang
mendukung tumbuh kembang mereka.
Pengalaman MUI Goes to School di SMA
Abi Huroiroh Perak Jombang mengajarkan saya bahwa dakwah dan pendidikan dapat
hadir melalui banyak pintu. Kadang melalui presentasi di ruang belajar, kadang
melalui dialog di musala, dan kadang melalui amanat singkat di tengah upacara
bendera. Bentuknya boleh berbeda, tetapi tujuannya tetap sama: menebarkan
pengetahuan, menumbuhkan kesadaran, dan menggerakkan kebaikan.
Hari Santri bukan hanya momentum untuk
mengenang perjuangan, melainkan panggilan untuk meneruskan perjuangan dengan
cara yang sesuai dengan tantangan zaman. Jika para pendahulu berjuang
mempertahankan kemerdekaan, generasi sekarang perlu berjuang membangun kualitas
manusia, menjaga persatuan, menguasai ilmu pengetahuan, dan menggunakan
kemajuan untuk kemaslahatan bersama.
Mari jadikan semangat Hari Santri
sebagai energi untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan memberi manfaat.
Sebab, santri yang menguatkan negeri bukan hanya santri yang bangga pada masa
lalunya, tetapi juga santri yang siap bekerja nyata demi masa depan bangsanya.
Santri
Menguatkan Negeri, Menuju Indonesia Emas! .[pgn]
Nine Adien Maulana,
Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

0 Komentar