Dakwah Digital: Menyambung Spirit Nabi di Era Media Sosial

 

Di tengah arus deras media sosial, kemampuan membuat konten dakwah yang menarik, singkat, dan relevan memang menjadi kebutuhan mendesak. Dakwah tidak lagi hanya di mimbar atau majelis taklim, melainkan juga di layar kecil yang setiap hari diakses jutaan orang.

[Jombang, Pak Guru NINE] - Rabu siang, 27 Agustus 2025, aula PLHUT Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang berubah menjadi ruang yang penuh semangat baru. Komisi Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jombang menggelar sebuah acara penting: Workshop Pembuatan Konten Dakwah berbasis gambar, video, maupun audio. Acara yang dimulai pukul 13.00 WIB ini menghadirkan wajah-wajah muda penuh antusias, para pelajar terpilih dari SMA dan MA se-Kabupaten Jombang dan delegasi MUI Kecamatan sekabupaten Jombang.

Dua narasumber utama, Desi Umiyati Kulsum, S.AP dan Mukhtar Bagus Purnomo, SE, yang sama-sama merupakan pengurus Komisi Informasi dan Komunikasi MUI, berbagi pengalaman sekaligus memberikan pelatihan praktis. Di tengah arus deras media sosial, kemampuan membuat konten dakwah yang menarik, singkat, dan relevan memang menjadi kebutuhan mendesak. Dakwah tidak lagi hanya di mimbar atau majelis taklim, melainkan juga di layar kecil yang setiap hari diakses jutaan orang.

Acara ini juga dihadiri jajaran pengurus harian Dewan Pimpinan MUI Kabupaten Jombang. Hadir H. Ilham Rohim (Sekretaris Umum), H. Harly Yusuf Wibisono (Bendahara Umum), serta Nine Adien Maulana (Sekretaris), yang mendampingi jalannya kegiatan. Semua tampak mendukung penuh inisiatif dakwah digital ini.

Namun momen yang paling mengesankan terjadi ketika Ketua Umum MUI Kabupaten Jombang, Dr. KH. M. Afifuddin Dimyathi, Lc., M.A., membuka kegiatan dengan sebuah pengantar yang mendalam. Beliau membacakan ayat-ayat dari Surah Nuh [71]: 2–4, sebuah potongan kisah abadi tentang dakwah Nabi Nuh kepada kaumnya:

“Wahai kaumku, sesungguhnya aku ini adalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu. (yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya, dan taatlah kepadaku. Niscaya Dia akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkanmu sampai pada batas waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah itu, apabila telah datang, tidak dapat ditunda. Seandainya kamu mengetahui(-nya).”

Ayat ini seolah menegaskan, bahwa dakwah pada dasarnya adalah komunikasi. Bahkan jauh sebelum ada kamera, mikrofon, atau algoritma media sosial, para nabi telah menguasai teknik menyampaikan pesan dengan efektif. Dari ayat tersebut, ada empat teknik pembuatan konten dakwah yang bisa kita jadikan pegangan.

Pertama, konten harus jelas siapa pembuatnya. Nabi Nuh dengan rendah hati tetapi tegas memperkenalkan dirinya: “Sesungguhnya aku ini adalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu.” Artinya, dalam dunia digital pun, transparansi dan kredibilitas pembuat konten tidak boleh diabaikan. Jangan sampai konten dakwah justru kehilangan nilai karena tidak jelas siapa yang membuat dan bertanggung jawab atas isinya.

Kedua, isi konten hendaknya singkat, padat, dan langsung menyentuh inti. Nabi Nuh merangkum pesan fundamental dakwahnya dalam tiga poin: “Sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya, dan taatlah kepadaku.” Inilah prinsip komunikasi yang relevan dengan era digital: audiens lebih menyukai pesan yang ringkas, tidak bertele-tele, dan mudah dipahami.

Ketiga, gunakan teknik ganjaran atau iming-iming positif. Nabi Nuh menyampaikan kabar gembira: “Niscaya Dia akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkanmu sampai pada batas waktu yang ditentukan.” Di dunia konten digital, ini berarti menghadirkan narasi yang memberi harapan, motivasi, dan optimisme kepada audiens. Pesan dakwah akan lebih diterima ketika mengandung janji kebaikan dan manfaat nyata.

Keempat, jangan lupa menyertakan peringatan atau teknik koersif. Nabi Nuh mengingatkan: “Sesungguhnya ketetapan Allah itu, apabila telah datang, tidak dapat ditunda.” Dakwah yang hanya berisi janji manis tanpa peringatan sering kehilangan daya. Sebaliknya, konten yang hanya menakut-nakuti tanpa memberikan harapan bisa menimbulkan resistensi. Keseimbangan keduanya menjadi kunci.

Workshop ini pada hakikatnya bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi juga latihan spiritual: bagaimana memaknai kembali warisan dakwah para nabi dan menghidupkannya dalam dunia digital. Jika Nabi Nuh menggunakan kalimat singkat, penuh otoritas, tetapi juga sarat kasih sayang, maka para pelajar Jombang hari ini belajar bagaimana mengekspresikan nilai yang sama melalui infografis, video pendek, podcast, atau bahkan reels yang hanya berdurasi beberapa detik.

Dakwah digital tidak bisa dipandang sepele. Generasi muda saat ini lebih banyak mengakses gawai ketimbang duduk di majelis ilmu. Jika ruang itu tidak diisi oleh konten positif dan penuh makna, maka ia akan diambil alih oleh arus informasi yang tak selalu sehat. Maka inisiatif MUI Jombang menghadirkan pelajar sebagai motor dakwah digital patut diapresiasi. Mereka adalah generasi yang bukan hanya menjadi konsumen konten, melainkan juga produsen pesan-pesan kebaikan.

Dalam perspektif yang lebih luas, kegiatan seperti ini adalah jawaban atas tantangan zaman. Dakwah harus adaptif. Islam tidak pernah kaku pada bentuk, melainkan menekankan substansi. Jika dulu dakwah disampaikan lewat lisan, tulisan, dan mimbar, kini waktunya memperluas cakrawala ke layar digital yang selalu berada di genggaman tangan.

Semoga dari aula sederhana di PLHUT Jombang ini lahir para content creator muda yang bukan hanya kreatif, tetapi juga penuh hikmah. Mereka akan menjadi penerus estafet dakwah dengan gaya baru, tanpa kehilangan ruh lama: kejujuran, kepadatan pesan, janji kebaikan, dan peringatan penuh kasih.

Karena pada akhirnya, dakwah bukan hanya tentang teknologi, melainkan tentang hati yang ingin menyampaikan kebenaran. Media boleh berubah, tetapi spiritnya tetap sama: menyampaikan peringatan dengan cara yang jelas, bijak, dan menyentuh nurani manusia.[pgn]

 

Baca juga!

Workshop Pelajar Kreator Dakwah: Mewarnai Ruang Digital dengan Konten Sehat

Posting Komentar

0 Komentar