![]() |
Jika saya ditanya lebih suka memilih lima hari sekolah atau enam hari sekolah, jawaban saya tegas: saya lebih suka memilih lima hari sekolah. |
[Jombang, Pak Guru
NINE] - Tadi malam saya
menulis sebuah esai berjudul “6 Hari Sekolah: Antara Kenyataan, Harapan, dan
Solusi” sebagai respons terhadap aspirasi masyarakat yang menginginkan sekolah
kembali ke pola enam hari belajar. Dalam esai itu, saya berusaha bersikap
moderat dan obyektif dengan
mengurai sejarah, melihat dinamika, serta menawarkan solusi. Namun, sebagai
seorang aparatur sipil negara (ASN) yang juga guru, saya merasa wajar bila punya
pandangan subjektif. Apalagi saya sendiri adalah pelaku kebijakan di lapangan
yang merasakan langsung dampaknya.
Jika saya ditanya lebih suka memilih
lima hari sekolah atau enam hari sekolah, jawaban saya tegas: saya lebih suka memilih
lima hari sekolah. Mengapa? Karena bagi saya lima hari sekolah sama dengan lima
hari bekerja. Pola ini lebih manusiawi,
memberi ruang lebih bagi guru maupun siswa untuk bernapas.
Jika
ditinjau dari sudut pandang praktis, lima hari sekolah menghadirkan sejumlah
kelebihan yang patut dipertimbangkan. Pertama, dari aspek beban kerja. Guru
maupun siswa bekerja intensif selama lima hari, kemudian memiliki dua hari
penuh untuk beristirahat. Pola ini sejajar dengan sistem kerja di banyak
institusi modern yang mengedepankan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan
pribadi (work-life
balance). Dengan adanya jeda pada hari Sabtu dan Ahad, guru dapat
menyelesaikan urusan rumah tangga, memperhatikan kesehatan fisik maupun mental,
sekaligus menikmati kebersamaan dengan keluarga.
Kedua,
keberadaan libur dua hari berturut-turut memberi kesempatan untuk membangun
relasi sosial dan kultural. Banyak keluarga yang baru dapat berkumpul pada
akhir pekan, karena pada hari kerja masing-masing sibuk dengan rutinitas. Di
sisi lain, kegiatan sosial kemasyarakatan, keagamaan, maupun olahraga di
lingkungan masyarakat sering terjadwal pada Sabtu dan Ahad. Pola lima hari
sekolah memungkinkan warga sekolah untuk tetap aktif dalam ruang sosial
tersebut, tanpa harus terbentur kelelahan akibat jadwal belajar yang panjang.
Selain itu, perlu dipahami
bahwa meskipun pola enam hari diberlakukan kembali, dalam praktiknya sekolah
tetap berwajah full
day school. Siswa dan guru sering kali tetap pulang sore karena
adanya tambahan pelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian,
perubahan jumlah hari tidak serta-merta mengurangi kepadatan aktivitas. Yang
berubah hanya kalender, bukan substansi kegiatan. Oleh karena itu,
mempertahankan lima hari sekolah menjadi pilihan yang lebih rasional:
intensitas belajar tetap berjalan, sementara ruang istirahat tetap terjaga.
Dalam konteks yang lebih luas,
dua hari libur tidak hanya penting untuk urusan pribadi, tetapi juga untuk
pengabdian sosial. Banyak guru yang selain mengajar, juga aktif di berbagai
organisasi masyarakat, keagamaan, maupun profesi. Ruang akhir pekan menjadi
peluang berharga untuk menjalankan amanah tersebut. Kehadiran guru di tengah
masyarakat merupakan bentuk pendidikan nonformal yang tak kalah penting
dibanding pembelajaran di kelas.
Tentu, tidak dapat dipungkiri
bahwa ada sebagian masyarakat yang merasa keberatan dengan sistem lima hari,
misalnya karena faktor teknis transportasi, durasi belajar yang lebih panjang,
atau keterbatasan fasilitas sekolah. Namun, solusi dari masalah ini bukanlah
dengan menambah satu hari sekolah, melainkan dengan memperbaiki kualitas
pembelajaran. Kurikulum dapat diatur agar lebih padat namun efektif, sehingga
jam belajar lebih bermakna. Fasilitas sekolah perlu ditingkatkan agar mampu
menunjang kegiatan belajar panjang. Selain itu, komunikasi antara sekolah dan
orang tua perlu diperkuat, sehingga ada kesepahaman dalam mendukung
perkembangan anak.
Jika fokus diarahkan pada
kualitas, bukan kuantitas, maka sistem lima hari sekolah akan lebih mudah
diterima. Guru dapat menyiapkan pembelajaran yang kreatif, siswa dapat belajar
dengan lebih fokus, dan orang tua dapat tetap berperan aktif dalam pendidikan
anak. Pada akhirnya, pendidikan menjadi sinergi antara sekolah, keluarga, dan
masyarakat.
Dengan segala pertimbangan
tersebut, lima hari sekolah sejatinya bukan hanya soal efisiensi waktu,
melainkan juga strategi untuk menyeimbangkan peran manusia sebagai individu,
anggota keluarga, pekerja profesional, dan bagian dari masyarakat. Pola ini menghadirkan
keseimbangan antara kewajiban dan kebutuhan, antara akademik dan kehidupan
nyata.
Polemik lima atau enam hari
sekolah seharusnya tidak membuat masyarakat terjebak pada nostalgia atau
perdebatan administratif semata. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa
setiap hari sekolah, baik jumlahnya lima maupun enam, benar-benar bermakna.
Namun, jika harus memilih, pola lima hari sekolah tampaknya lebih selaras
dengan tuntutan zaman. Sistem ini mampu menjaga keseimbangan hidup, memperluas
ruang pengabdian sosial, serta memberikan pengalaman belajar yang lebih utuh
bagi generasi muda.[pgn]
Nine Adien Maulana, GPAI SMAN 2 Jombang
Baca juga!
0 Komentar