[Jombang, Pak Guru NINE] - Pendidikan bukanlah
sebuah bejana yang sekadar harus diisi, melainkan api yang harus dinyalakan.
Keyakinan inilah yang saya bawa saat melangkah masuk ke gerbang SMKN 2 Jombang
pada Kamis pagi, 29 Januari 2026. Jarum jam menunjukkan pukul 09.30 WIB ketika
saya berdiri di hadapan puluhan rekan sejawat—para penjaga nyala api
literasi—dalam sebuah forum yang diinisiasi oleh Komunitas Belajar (Kombel)
"Rubik". Nama komunitas ini sungguh filosofis; mengingatkan kita
bahwa untuk menyatukan warna pendidikan yang beragam, diperlukan ketangkasan
strategi, kesabaran, dan tentu saja, inovasi yang tiada henti.
Sebagai seorang guru
Pendidikan Agama Islam, saya sering merenung: bagaimana cara membawa
pesan-pesan langit ke dalam realitas digital yang serba cepat ini? Jawabannya bukan
dengan menjauhi teknologi, melainkan dengan memanusiakannya. Di sinilah narasi
"Berbagi Praktik Baik" ini bermula. Saya melihat antusiasme yang luar
biasa di mata para guru SMKN 2 Jombang. Ada rasa lapar akan perubahan, sebuah
energi kolektif yang meyakinkan saya bahwa transformasi pendidikan di Jombang
bukan sekadar jargon, melainkan sebuah gerakan nyata.
Langkah pertama dalam
transformasi ini adalah menata kembali "rumah digital" kita: Google
Classroom. Kita seringkali hanya menjadikan platform ini sebagai gudang
penyimpanan file yang dingin dan kaku. Namun, dalam sesi ini, saya mengajak
rekan-rekan untuk melihatnya dengan kacamata baru. Kami membedah sistematika
alur yang lebih integratif, di mana setiap penugasan memiliki napas narasi, dan
setiap umpan balik menjadi jembatan komunikasi yang hangat. Google Classroom
yang tertata adalah fondasi bagi kemandirian siswa. Tanpa sistematika yang
baik, teknologi hanya akan menjadi tumpukan sampah digital yang membingungkan.
Memasuki pukul 10.30 WIB,
suasana semakin meriah saat kami menyelami samudra gamifikasi melalui Wordwall.
Saya melempar sebuah argumen: Mengapa siswa bisa betah berjam-jam menatap layar
game, namun merasa lelah dalam lima menit membaca buku teks? Jawabannya ada
pada engagement. Melalui gamifikasi, kita tidak sedang
mereduksi esensi keilmuan menjadi sekadar main-main, melainkan kita sedang
meminjam kegembiraan bermain untuk mempermudah pemahaman konsep yang rumit.
Saat para guru mencoba membuat kuis interaktif, aula tersebut berubah menjadi ruang
bermain yang penuh tawa namun tetap sarat makna.
Puncak dari petualangan
intelektual kami adalah saat bersentuhan dengan kecerdasan buatan melalui Canva
AI. Di sini, saya ingin mematahkan mitos bahwa menjadi kreatif itu harus sulit.
Dengan kekuatan AI, seorang guru kini memiliki "asisten desainer"
pribadi di ujung jari mereka. Kami mempraktikkan bagaimana menyulap narasi
pelajaran menjadi visual game yang memukau dalam hitungan detik. Canva AI bukan
datang untuk menggantikan imajinasi guru, melainkan untuk membebaskan imajinasi
tersebut dari belenggu keterbatasan teknis. Ketika teknologi bertemu dengan
kasih sayang seorang pendidik, yang lahir adalah sebuah maha karya
pembelajaran.
Pertemuan yang berakhir
pada pukul 12.00 WIB ini meninggalkan kesan yang mendalam. Digitalisasi bukan
tentang seberapa canggih perangkat yang kita miliki, melainkan seberapa besar
keinginan kita untuk menjangkau dunia siswa kita. Komunitas "Rubik"
telah membuktikan bahwa saat kita berani mengacak zona nyaman kita untuk mencari
susunan yang tepat, kita akan menemukan harmoni pendidikan yang indah.
Saya pulang membawa satu keyakinan baru: bahwa di tangan guru-guru yang penuh semangat seperti di SMKN 2 Jombang, teknologi akan selalu memiliki "ruh". Kita tidak hanya sedang mencetak lulusan yang cakap secara digital, tetapi kita sedang menanam benih karakter melalui media yang mereka cintai. Karena pada akhirnya, setiap klik, setiap slide, dan setiap game yang kita buat, adalah bentuk cinta kita yang paling modern kepada para pencari ilmu.[pgn]

0 Komentar