Ulul Albab Quest: Dari Ayat, Akal, hingga Layar Digital

 

Ulul Albab Quest: Game Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas XI semester ganjil di SMAN 2 Jombang

[Jombang, Pak Guru NINE] - Sebuah karya sering kali lahir bukan semata dari ambisi, melainkan dari kepercayaan orang lain yang lebih dulu melihat potensi. Itulah yang saya rasakan ketika Bu Mamik Rosita, Pengawas PAI Kankemenag Jombang, dengan penuh keyakinan mendorong saya untuk mengikuti Lomba Game Pembelajaran PAI. Dorongan itu terdengar sederhana, namun sesungguhnya menjadi pemantik keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman sebagai guru Pendidikan Agama Islam.

Berangkat dari niat menghadirkan pembelajaran PAI yang lebih relevan dengan dunia kekinian peserta didik, saya mendaftarkan sebuah karya berjudul Ulul Albab Quest pada jenjang SMA. Meskipun saya awam dalam bidang koding dan pemrograman, namun dengan bantuan kecerdasan buatan, saya percaya diri dan optimis bahwa game pembelajaran berbasis web/HTML ini akan bisa kompetitif dengan yang lain. Pada titik itu, saya belajar bahwa ketika guru berani mencoba, peluang kebaikan sering kali datang tanpa diminta.

Ulul Albab Quest saya rancang berbasis materi PAI dan Budi Pekerti kelas XI semester ganjil. Fondasi utamanya adalah QS. Ali Imran [3]: 190–191 dan QS. Ar-Rahman [55]: 33, diperkaya dengan hadits-hadits yang relevan dengan tema berpikir kritis dan semangat mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi. Ayat-ayat tersebut bukan sekadar teks suci, melainkan pesan peradaban. Di dalamnya tersimpan dorongan kuat agar manusia menggunakan akalnya, membaca tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, serta berani menembus batas demi kemaslahatan hidup.

Melalui game ini, saya ingin menyampaikan satu gagasan sederhana namun mendasar: Islam tidak pernah anti terhadap iptek. Justru, sejak wahyu pertama, Islam telah meletakkan fondasi epistemologis bahwa berpikir adalah bagian dari ibadah. Maka, Ulul Albab Quest dirancang bukan hanya untuk menguji hafalan, tetapi untuk menantang nalar, melatih analisis, dan menumbuhkan kesadaran bahwa iman dan intelektualitas harus berjalan beriringan.

Dalam proses pengembangannya, saya memanfaatkan alat bantu kecerdasan buatan seperti ChatGPT, Gemini AI, dan Canva AI. Bagi saya, AI bukan ancaman bagi profesi guru, melainkan alat bantu kreatif yang, jika digunakan secara bijak, mampu memperkaya pengalaman belajar. Guru tetap menjadi arsitek nilai, sementara teknologi berperan sebagai instrumen. Kolaborasi keduanya membuka peluang lahirnya pembelajaran PAI yang lebih kontekstual, interaktif, dan bermakna bagi generasi digital.

Babak final lomba ini terasa semakin istimewa karena melibatkan banyak pendidik hebat dari berbagai daerah. Dari Kabupaten Jombang sendiri, ada tiga peserta yang berhasil menembus final: saya dari SMAN 2 Jombang, Ninik Yusrotul ‘Ula dari SMKN Kabuh, dan Sulianto, S.Pd. dari SMK Sehat Insan Perjuangan. Fakta ini seolah menegaskan bahwa Jombang bukan hanya dikenal sebagai kota santri, tetapi juga sebagai ruang subur bagi lahirnya inovasi pendidikan Islam.

Menindaklanjuti surat resmi Kepala Bidang PAI Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur tentang Kampanye Karya Final, proses penilaian dilakukan secara terbuka dan objektif pada 29–30 Desember 2025. Hasilnya, untuk jenjang SMA, saya memperoleh Juara 3, bersanding dengan karya-karya luar biasa dari Surabaya dan Probolinggo. Sementara itu, pada jenjang SMK, dua rekan dari Jombang juga berhasil meraih Juara 2 dan Juara 3. Sebuah capaian kolektif yang patut disyukuri bersama.

Meski belum berada di posisi puncak, capaian ini saya terima dengan rasa syukur yang mendalam. Menjadi juara tiga di penghujung tahun 2025 adalah kebahagiaan tersendiri. Lebih dari sekadar prestasi, ia menjadi penanda bahwa ikhtiar kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan selalu menemukan jalannya. Pengalaman ini sekaligus menjadi bekal moral dan spiritual untuk menata resolusi kebaikan dan prestasi di tahun 2026.

Ucapan terima kasih yang tulus saya sampaikan kepada Bu Mamik Rosita yang berkali-kali dengan sabar mengingatkan saya untuk melengkapi detail-detail penting demi penampilan karya yang meyakinkan di hadapan dewan juri. Terima kasih juga saya haturkan kepada Arka Dewa Widiananda, Ketua OSIS SMAN 2 Jombang, Anindya Zulfa Ayla Callysta siswa kelas XI-3, serta istri saya, Hikmatun Ni’mah, yang telah memberikan dukungan melalui video testimoni. Dukungan itu bukan sekadar formalitas, melainkan energi emosional yang menguatkan langkah saya.

Apresiasi yang sama juga saya tujukan kepada rekan-rekan guru SMAN 2 Jombang, khususnya tergaung dalam MGMPS PAI dan Budi Pekerti, serta keluarga besar MGMP PAI SMAN Kabupaten Jombang di bawah komando KH. Mokh. Fakhruddin Siswo Pranoto. Dukungan mereka menegaskan bahwa inovasi pendidikan lahir dari ekosistem yang sehat: saling percaya, saling menyemangati, dan saling mendoakan.

Pada akhirnya, Ulul Albab Quest bukan sekadar game pembelajaran. Ia adalah refleksi kegelisahan sekaligus harapan: bahwa pembelajaran PAI harus terus bergerak, berdialog dengan zaman, tanpa kehilangan ruh keilahiannya. Dari ayat-ayat Al-Qur’an, akal yang berpikir, hingga layar digital, saya belajar satu hal penting—bahwa jalan pengabdian seorang guru selalu terbuka luas bagi mereka yang mau belajar, berkolaborasi, dan terus melangkah dengan niat yang lurus.[pgn]

Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang – Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

Posting Komentar

0 Komentar