Ketika Tugas, Amanah, dan Tantangan Baru Menyapa

Di salah satu grup WA, saya membaca informasi tentang Kompetisi Guru Inspiratif Astra Honda 2025. Seseorang seakan menantang saya untuk ikut serta. Spontan saya jawab, “Siap! Insyaallah saya akan ikut.” 

[Pacarpeluk, Pak Guru NINE] - Senin, 25 Agustus 2025, menjadi hari yang begitu membekas dalam jejak perjalanan hidup saya. Di pagi yang cerah itu, saya berdiri di antara riuh rendah persiapan sebuah acara penting: pelantikan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Kabupaten Jombang masa bakti 2025–2030. Sebagai ketua panitia, saya ikut memastikan segala rangkaian kegiatan berjalan sesuai harapan. Alhamdulillah, acara yang dihelat di ruang Bung Tomo Gedung Pemkab Jombang itu berlangsung sukses, penuh khidmat, dan meninggalkan kesan mendalam bagi semua yang hadir.

Namun, lebih dari sekadar bertugas sebagai panitia, hari itu juga menandai babak baru bagi saya pribadi. Saya resmi dilantik sebagai salah satu pengurus, tepatnya diamanahi sebagai Koordinator Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Amanah ini menambah daftar ladang pengabdian saya selain di Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) Kabupaten Jombang, MGMP PAI SMAN Jombang, dan masyarakat desa tempat saya tinggal. Setiap amanah, bagi saya, bukanlah beban, melainkan jalan baru untuk belajar, berbagi, dan memberi arti.

Menariknya, di sela hiruk-pikuk persiapan acara pelantikan itu, sebuah kabar lain datang lewat notifikasi WhatsApp. Di salah satu grup, saya membaca informasi tentang Kompetisi Guru Inspiratif Astra Honda 2025. Seseorang seakan menantang saya untuk ikut serta. Spontan saya jawab, “Siap! Insyaallah saya akan ikut.” Mungkin terdengar sederhana, tetapi jawaban itu seperti mengikat komitmen batin bahwa saya harus menapaki tantangan baru ini dengan sungguh-sungguh.

Selepas acara pelantikan yang berjalan lancar, saya menyempatkan diri membaca lebih detail informasi tentang kompetisi tersebut. Rupanya, Yayasan Astra Honda Motor (AHM) mengadakan program apresiasi bagi guru-guru yang dianggap inspiratif, dengan hadiah utama berupa sepeda motor dan dana pembinaan. Namun lebih dari sekadar hadiah, yang menarik perhatian saya adalah semangat di balik program ini: memberikan penghargaan kepada guru yang tak hanya mengajar, tetapi juga menyalakan harapan, menanamkan nilai, dan memberi teladan di masyarakat.

Membaca mekanisme dan syaratnya, saya pun berbisik dalam hati: “Bismillah, saya ikuti. Tapi saya tidak berani menyebut diri sebagai guru inspiratif. Biarlah orang lain yang menilai, biarlah juri yang menentukan.” Sebab inspirasi bukan sesuatu yang diklaim, melainkan yang dirasakan oleh orang lain.

Mengapa Program Ini Penting?

Jika kita cermati, kompetisi semacam ini bukan sekadar lomba mencari siapa yang paling hebat. Ia adalah sarana untuk mengangkat kisah nyata perjuangan guru, terutama di tengah tantangan dunia pendidikan yang terus berubah. Guru inspiratif bukan hanya mereka yang mencetak prestasi akademik murid, tetapi juga yang mampu menjadi suluh di kegelapan, membimbing dengan ketulusan, bahkan di tengah keterbatasan.

Program seperti Guru Inspiratif Astra Honda 2025 setidaknya menghadirkan tiga makna penting.

Pertama, pengakuan sosial. Guru seringkali bekerja dalam senyap. Dedikasi mereka jarang terekam sorotan publik. Lewat program ini, kisah perjuangan guru diangkat dan diakui. Itu artinya, profesi guru tidak hanya dihargai lewat gaji dan administrasi, tetapi juga melalui penghormatan moral.

Kedua, dorongan inovasi. Salah satu syarat kompetisi adalah adanya bukti inovasi pembelajaran. Hal ini mendorong guru untuk tidak berhenti pada rutinitas mengajar, tetapi berani bereksperimen dengan metode baru, memanfaatkan teknologi, atau mengembangkan media pembelajaran kreatif. Pada akhirnya, siswa yang merasakan manfaatnya.

Ketiga, sinergi masyarakat. Uniknya, pendaftaran guru dalam kompetisi ini harus diusulkan oleh orang lain: murid, wali murid, rekan sejawat, atau masyarakat. Artinya, keberhasilan seorang guru bukanlah miliknya sendiri, melainkan hasil interaksi dengan lingkungannya. Ada dimensi kebersamaan yang ditekankan di sini: guru menjadi inspirasi bukan karena klaim pribadi, tetapi karena kesaksian orang-orang di sekitarnya.

Dari Jombang untuk Indonesia

Sebagai seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang beraktivitas di sekolah negeri, organisasi profesi, ormas Islam, hingga komunitas desa, saya melihat bahwa inspirasi guru sejatinya berakar dari keikhlasan dalam berkhidmat. Guru tidak selalu harus berada di panggung besar untuk memberi dampak. Kadang, inspirasi itu hadir dari hal-hal sederhana: mendampingi murid yang hampir putus asa, mendengar keluh kesah wali murid, atau menyapa hangat tetangga yang butuh bimbingan.

Di titik ini, saya sadar bahwa mengikuti kompetisi bukan semata demi hadiah, melainkan sebagai ajang refleksi. Bagaimana saya bisa mengemas pengalaman pengabdian ini menjadi cerita yang memberi semangat bagi yang lain? Bagaimana teknologi yang saya kelola dapat memperluas manfaat bagi sesama guru? Dan bagaimana amanah di AGPAII, MUI, serta MGMP bisa selaras dengan tujuan besar mencerdaskan kehidupan bangsa?

Jawaban dari pertanyaan itu akan saya tuangkan dalam makalah dan video yang harus diserahkan. Tentu tidak mudah, tetapi bukankah setiap guru sejati selalu siap belajar?

Bagi saya, Senin, 25 Agustus 2025 bukan hanya catatan tentang pelantikan dan jabatan baru, melainkan juga titik awal tantangan baru: menuliskan kisah sebagai seorang guru yang terus belajar menginspirasi. Apakah saya layak disebut guru inspiratif? Itu biarlah orang lain yang menilai. Yang jelas, saya ingin terus berusaha menjadi guru yang menghadirkan manfaat nyata, walau sekecil apapun.

Karena pada akhirnya, guru inspiratif bukanlah mereka yang dielu-elukan, tetapi mereka yang mampu menyalakan cahaya—meski kadang cahaya itu hanya berupa lilin kecil—yang menerangi jalan murid-muridnya menuju masa depan.[pgn]

Nine Adien Maulana, GPAI SMAN 2 Jombang – Direktur PGN Institute Yayasan Bakti Syukur Khodijah

 

Baca juga!

Meneguhkan Kiprah Guru PAI Jombang Melalui AGPAII

Guru PAI Jombang Menyatukan Langkah dan Menguatkan Pengabdian

Posting Komentar

0 Komentar