Transformasi Kelas PAI dari Teks ke Pengalaman Bermakna

 

Pada akhirnya, transformasi kelas PAI bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal keberanian guru mengubah mindset. AI, Wordwall, dan IFP hanyalah alat. Ruh pembelajaran tetap berada di tangan guru yang visioner, reflektif, dan adaptif.

[Pacarpeluk, Pak Guru NINE] - Perubahan zaman selalu menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka peluang. Dalam konteks pendidikan, terutama Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAIBP), perubahan itu menuntut keberanian guru untuk beradaptasi tanpa kehilangan ruh nilai yang diajarkan. Sebagai guru PAIBP di SMAN 2 Jombang, sejak dulu saya menyadari bahwa kelas PAI hari ini tidak cukup jika hanya diisi dengan ceramah dan buku teks. Peserta didik hidup di era digital yang sarat visual, interaksi cepat, dan tantangan kompetitif. Jika pembelajaran agama ingin tetap bermakna, maka ia harus hadir dengan cara yang dipahami dan dirasakan oleh generasi tersebut.

Berangkat dari kesadaran itu, saya mulai mengeksplorasi pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran PAI. Dengan bantuan ChatGPT, Gemini AI, dan Canva AI, saya terbantu mampu menyusun materi dan soal secara cepat, sistematis, dan kontekstual. Platform Wordwall kemudian menjadi media utama untuk mengemas konten tersebut dalam bentuk game edukatif yang menarik. Semua itu dioptimalkan melalui Interactive Flat Panel (IFP) yang tersedia di sekolah, sehingga perangkat teknologi tidak sekadar menjadi pajangan mahal, melainkan sarana belajar yang hidup dan bermakna.

Langkah ini bukan sekadar mengikuti tren, tetapi berangkat dari filosofi pendidikan Islam yang sangat kuat. Rasulullah Saw. bersabda, “Yassirû walâ tu‘assirû, wa basyshirû walâ tunaffirû”—permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari. Pesan ini menegaskan bahwa pembelajaran agama seharusnya menghadirkan rasa senang, harapan, dan kedekatan, bukan ketakutan atau kebosanan. Gamifikasi pembelajaran menjadi jalan untuk mewujudkan semangat tersebut dalam konteks kelas modern.

Secara pedagogis, pendekatan ini memiliki landasan teoritis yang kokoh. Karl Kapp menjelaskan bahwa gamifikasi—penggunaan elemen permainan seperti poin, level, dan tantangan—mampu meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar. Teori konstruktivisme Vygotsky menekankan bahwa peserta didik membangun pemahaman melalui interaksi aktif dengan lingkungan dan alat bantu. Sementara konsep flow dari Mihaly Csikszentmihalyi menggambarkan kondisi ketika siswa larut sepenuhnya dalam aktivitas belajar karena adanya keseimbangan antara tantangan dan kemampuan. Wordwall, dengan berbagai templatenya, sangat memungkinkan terciptanya kondisi flow tersebut.

Dalam praktik yang saya lakukan, ekosistem digital pembelajaran PAI dapat disederhanakan menjadi tiga unsur utama. Pertama, AI seperti ChatGPT dan Gemini AI berperan sebagai “otak” yang membantu guru menyiapkan konten secara instan. Guru cukup menuliskan prompt yang tepat, misalnya meminta soal tentang materi fikih atau akidah, lalu mengferivikasinya terlebih dahulu dan menyesuaikannya dengan kebutuhan kelas. Kedua, Wordwall menjadi “wadah” interaktif yang menyajikan konten tersebut dalam bentuk permainan edukatif seperti Whack-a-mole, Match Up, atau Maze Chase. Ketiga, IFP berfungsi sebagai “wajah” pembelajaran, menghadirkan interaksi fisik melalui layar sentuh yang responsif dan menarik.

Keunggulan Wordwall terletak pada fleksibilitas dan efisiensinya. Dalam waktu kurang dari lima menit, guru dapat membuat game edukatif yang siap digunakan. Desainnya sangat kompatibel dengan layar sentuh IFP, sehingga siswa dapat berinteraksi langsung, bergerak, dan terlibat secara aktif. Pembelajaran PAI yang sebelumnya identik dengan duduk diam dan mencatat, berubah menjadi pengalaman belajar yang dinamis dan penuh energi.

Implementasi di kelas dapat dilakukan dalam berbagai skenario. Pada pembelajaran klasikal kompetitif, siswa dipanggil maju untuk menjawab soal langsung di IFP. Teman-temannya menjadi pendukung yang memberi semangat. Suasana kelas menjadi hidup, adrenalin positif meningkat, dan perhatian siswa terjaga. Pada skenario lain, Wordwall dapat digunakan dalam mode turnamen kelompok. Guru bertindak sebagai host, sementara siswa menjawab melalui gawai masing-masing. Skor tampil secara real-time, menumbuhkan semangat kompetisi yang sehat dan kolaboratif.

Namun, esensi pembelajaran PAI tidak berhenti pada permainan. Setelah game selesai, guru melakukan refleksi dan evaluasi. Fitur leaderboard digunakan sebagai bentuk apresiasi, sementara analisis soal membantu mengidentifikasi materi yang masih sulit dipahami. Diskusi penutup diarahkan pada hikmah dan nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, gamifikasi tidak menghilangkan kedalaman makna, justru menjadi pintu masuk menuju pemahaman yang lebih kuat dan membekas.

Pengalaman inilah yang kemudian mengantarkan saya untuk berbagi praktik baik dalam Webinar NGOPAI (Ngobrol Pendidikan Agama Islam) yang diselenggarakan oleh Kabid PAIS Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur pada Rabu, 24 Desember 2025. Melalui forum ini, saya akan mempresentasikan dan mempraktikkan langsung materi “Gamifikasi Pembelajaran PAI melalui Wordwall” secara virtual melalui Zoom, khususnya bagi para guru PAIBP di Jawa Timur.

Pada akhirnya, transformasi kelas PAI bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal keberanian guru mengubah mindset. AI, Wordwall, dan IFP hanyalah alat. Ruh pembelajaran tetap berada di tangan guru yang visioner, reflektif, dan adaptif. Jika dimanfaatkan dengan tepat, gamifikasi dapat menjadikan PAI sebagai mata pelajaran yang dinanti—ruang belajar yang menyenangkan, bermakna, dan mampu menanamkan nilai-nilai Islam secara lebih hidup di hati generasi masa depan.[pgn]

Nine Adien Maulana, GPAI SMAN 2 Jombang-Kabid TIK DPD AGPAII Jombang

Posting Komentar

0 Komentar