Perjalanan Menuju EJIES 2026 Bersama Kelas CINTA

 

Klik tautan ini untuk menuju video deck vlog Kelas Cinta yang dibuat oleh Nine Adien Maulana sebagai salah syarat untuk mengikuti kompetisi inovasi pendidikan EJIES 2026!  


[Jombang, Pak Guru NINE] - Pernahkah kita menatap layar laptop, membuka Google Classroom, dan merasa hampa? Pasca-pandemi, akselerasi transformasi digital memang telah memaksa sekolah kita untuk beradaptasi dengan cepat. Pemerintah pun berbaik hati membekali kita dengan ekosistem digital melalui akun belajar.id secara cuma-cuma. Namun, mari jujur pada diri sendiri. Sering kali, kemudahan antarmuka ini justru melahirkan masalah baru di lapangan. Ruang kelas maya yang seharusnya menjadi arena berekspresi dan bereksplorasi, tak jarang menyusut fungsinya sekadar menjadi "gudang digital". Sebuah tempat di mana kita sekadar melempar tumpukan modul PDF dan menagih tugas secara acak.

Kondisi nir-struktur ini pada akhirnya memicu cognitive overload atau beban kognitif berlebih pada anak-anak kita. Alih-alih berfokus pada kedalaman materi, energi mental mereka justru terkuras habis hanya untuk meraba-raba navigasi aplikasi yang membingungkan. Di SMAN 2 Jombang , saat mengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAIBP) , saya merasakan betul resonansi dari tantangan ini. Pembelajaran agama sangat rentan terjebak pada pendekatan dogmatis yang hanya mengedepankan hafalan teks semata (surface learning). Murid mungkin fasih melafalkan dalil saat ujian, namun gagap saat harus menginternalisasikan nilai-nilai tersebut di tengah realitas kehidupan sehari-hari. Keresahan inilah yang kemudian memantik nyali saya untuk merumuskan langkah konkret: mendaftarkan sebuah inovasi dalam ajang East Java Innovative Education Summit (EJIES) 2026.

Keikutsertaan dalam EJIES 2026 sejatinya bukanlah sekadar tentang ambisi mengejar piala atau sertifikat. Ini adalah sebuah manifesto untuk mengembalikan "ruh pedagogis" ke dalam pelukan teknologi. Dari kontemplasi yang panjang dan studi literatur , lahirlah inovasi "Kelas CINTA: Transformasi Google Classroom Menjadi Ruang Pembelajaran Mendalam". CINTA di sini sama sekali bukan sebatas akronim pemanis bibir, melainkan sebuah sintaks pembelajaran terstruktur yang memadukan keandalan filosofi Experiential Learning dan Contextual Teaching and Learning (CTL).

Sintaks inovatif ini mengubah total arsitektur LMS kita. Di Kelas CINTA, belajar tidak pernah dimulai dari menghafal teori, tetapi dari "Cermati Fenomena" di mana murid diajak mengobservasi realitas. Kemudian, wawasan mereka diperluas melalui "Integrasi Ilmu", meruntuhkan dinding pemisah yang seolah mendikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Barulah pada tahap "Nalar Islami", dalil dihadirkan sebagai pisau analisis yang tajam, bukan sekadar teks mati. Pemahaman ini lalu diejawantahkan dalam "Tindak Nyata" berbasis proyek, di mana murid menciptakan karya—seperti poster digital atau video singkat—yang mengasah kreativitas dan problem solving. Seluruh rangkaian ini ditutup manis melalui "Apresiasi & Refleksi" untuk mengunci pengetahuan kognitif menjadi karakter afektif yang tangguh. Melalui alur ini, kecakapan abad 21 (4C) benar-benar terintegrasi secara organik.

Argumentasi logis dari efektivitas inovasi ini sangatlah sederhana: anak-anak zaman sekarang tidak butuh lagi disuapi materi secara satu arah (spoon-feeding). Mereka butuh peta jalan (roadmap) yang jelas di ruang maya. Ketika arsitektur Google Classroom ditata dengan hierarki topik CINTA yang mutlak , kemandirian belajar murid (self-regulated learning) tumbuh pesat. Mereka menavigasi proses belajarnya secara otonom. Yang paling mengharukan adalah melihat munculnya Aha! moment di mata mereka, sebuah titik terang ketika mereka menyadari bahwa hukum agama adalah solusi riil atas kerusakan sosial.

Saya sangat optimistis membawa Kelas CINTA ke panggung EJIES 2026 karena inovasi ini menawarkan kekuatan absolut pada aspek skalabilitas. Ini adalah inovasi dengan zero-cost replication. Kita tidak butuh infrastruktur mewah, hosting berbayar, atau aplikasi premium. Cukup bermodalkan akun belajar.id , setiap guru di pelosok negeri ini bisa mengadopsi dan memodifikasi sintaks ini. Inovasi ini bahkan sangat fleksibel untuk menyeberang dan diterapkan oleh guru lintas disiplin ilmu.

Pada akhirnya, melangkah ke EJIES 2026 adalah wujud ikhtiar untuk bertransformasi seutuhnya. Sebuah upaya melepaskan diri dari sekadar menjadi pentransfer informasi yang lelah dengan tumpukan manajemen kelas maya yang berantakan, menjadi fasilitator peradaban sejati.[pgn]

Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Siap menyimak,membaca dan mendukung kegiatan....terImakasih dan apresiasi yang setinggi tingginya atas informasi,atahan dan penguatan bapak.EJIES Bagi saya adalah tantangan baru untuk membangun kreatifitas untuk menyajikan proses pembelajaran yg lebih baik .semangat dengan selangkah kreatifitas pembelajaran, dan pembelajaran terbaik adalah PEMBELAJARAN YANG MAMPU MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN

    BalasHapus
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)