Menemukan "Bestie" di Labirin Tiktok

 

"BESTIE" (Bedah Islam, Senandung, & Trivia Edukatif) lahir dari tanggung jawab seorang guru untuk mengisi ruang digital dengan konten edutaintment.  Ini adalah sebuah program live Tiktok yang tidak hanya menawarkan tontonan, tetapi juga tuntunan dengan gaya yang akrab di telinga generasi masa kini.

[Jombang, Pak Guru NINE] - Ramadan selalu datang dengan dua wajah di era modern: kesyahduan ibadah yang personal dan keriuhan jagat digital yang tak pernah tidur. Di satu sisi, kita merindukan momen sujud yang khusyuk; di sisi lain, jempol kita sering kali terjebak dalam labirin scrolling tanpa henti yang justru menguras energi spiritual. Pertanyaannya, mungkinkah layar smartphone yang sering dituding sebagai distraksi justru menjadi jembatan menuju takwa?

Jawabannya adalah adaptasi. Dakwah tidak boleh hanya berdiam di mimbar kayu yang kaku; ia harus berani berselancar di atas algoritma. Inilah yang melatarbelakangi lahirnya sebuah oase digital bertajuk "BESTIE" (Bedah Islam, Senandung, & Trivia Edukatif). Sebuah program live Tiktok yang tidak hanya menawarkan tontonan, tetapi juga tuntunan dengan gaya yang akrab di telinga generasi masa kini.

Jembatan Otoritas dan Kedekatan

Daya tarik utama dari program ini terletak pada sosok di balik layarnya. Pak Guru Nine (Nine Adien Maulana) bukan sekadar content creator. Ia adalah seorang pendidik di SMAN 2 Jombang sekaligus Sekretaris Dewan Pimpinan MUI Kabupaten Jombang. Pengalaman akademik yang dimilikinya menjadi jaminan bahwa konten yang disampaikan memiliki landasan akademis dan religius yang kuat.

Namun, keistimewaan Pak Guru Nine adalah kemampuannya menanggalkan "jubah" formalitas yang seringkali membuat anak muda merasa berjarak dengan agama. Ia hadir sebagai "Bestie"—seorang kawan perjalanan yang memahami kegelisahan Gen Z, mulai dari urusan hati hingga problematika sosial di media sosial. Dengan gaya bahasa yang ringan namun argumentatif, ia membuktikan bahwa bicara agama bisa semenyenangkan menyeruput es teh saat berbuka.

Kurikulum 30 Hari

Program "BESTIE" tidak berjalan secara acak. Ia disusun dengan logika spiritual yang sistematis, mengikuti ritme Ramadan dalam tiga fase besar.

·         Fase Rahmat (10 Hari Pertama): Fokus pada pembenahan diri dan fondasi dasar. Topik seperti "New Year, New Me: Ramadan Edition" dan "Detox Sosmed" mengajak audiens untuk membersihkan niat. Ini adalah fase "fondasi", di mana kita diajak untuk melihat ke dalam diri sebelum melangkah lebih jauh.

·         Fase Maghfirah (10 Hari Kedua): Memasuki fase pengampunan, bahasan mulai menyentuh aspek relasi sosial. "Circle Pertemanan: Surga atau Neraka?" dan "Ghibah: Dosa Enak yang Mematikan" adalah refleksi tajam tentang bagaimana cara kita berinteraksi dengan sesama.

·         Fase Itqun Minan Nar (10 Hari Terakhir): Fase puncak ini diarahkan pada pembersihan jiwa dan persiapan kemenangan. Topik berat seperti "Palestina & Solidaritas Umat" hingga "Itikaf Gen Z" dikemas sedemikian rupa agar tetap relevan dengan konteks kekinian.

Struktur ini menunjukkan bahwa Ramadan bersama Pak Guru Nine bukan sekadar mengisi waktu luang (ngabuburit), melainkan sebuah perjalanan transformasi mental dan spiritual yang terencana.

Edutainment: Antara Senandung dan Logika

Mengapa harus ada sesi karaoke religi dan trivia berhadiah? Di sinilah letak kecerdasan komunikasinya. Manusia, terutama anak muda, membutuhkan jeda dan apresiasi. Dengan menghadirkan Senandung Religi, agama tidak lagi dipandang sebagai sekumpulan larangan, melainkan sebuah harmoni yang menenangkan jiwa.

Sementara itu, Trivia Edukatif dengan berbagai doorprize menarik berfungsi sebagai stimulus kognitif. Ini adalah cara persuasif untuk memastikan bahwa informasi yang disampaikan benar-benar diserap oleh audiens. Logikanya sederhana: ketika belajar terasa seperti bermain, maka ilmu akan menetap lebih lama di ingatan.

Menuju Ramadan Berisi

Kita sering mengeluh betapa cepatnya Ramadan berlalu tanpa kesan yang mendalam. Tahun 1447 H / 2026 M ini, kita memiliki pilihan untuk mengubah narasi tersebut. Media sosial, khususnya TikTok, tidak lagi harus menjadi tempat "puasa jempol" dalam artian meninggalkannya secara total, melainkan tempat "hijrah konten".

Setiap sore pukul 16.30 - 17.30 WIB untuk menemani waktu ngabuburit, atau pukul 20.30 - 21.30 WIB setelah Tarawih, akun @pakgurunine akan menjadi ruang diskusi yang terbuka bagi siapa saja. Ini adalah ajakan untuk tidak menjadi penonton pasif di dunia digital, tetapi menjadi bagian dari komunitas yang tumbuh bersama.

Ramadan yang asyik adalah Ramadan yang memberikan ruang bagi kegembiraan, dan Ramadan yang berisi adalah Ramadan yang meninggalkan jejak makna di hati. Bersama program "BESTIE", mari kita buktikan bahwa dari balik layar ponsel yang kecil, bisa lahir perubahan besar dalam diri kita. Sampai jumpa di kolom komentar, wahai para pencari cahaya! [pgn]

Posting Komentar

0 Komentar