Nalar Suci, Akhir Sesi yang Bersemi

 

Kita masuk surga karena Allah kasihan pada kita; karena Dia memberikan belas kasih-Nya yang tak bertepi. Jika dengan Tuhan saja kita butuh belas kasih, apalagi dengan sesama manusia dalam perjalanan mencari ilmu?

[Jombang, Pak Guru NINE] - Rabu pagi, 11 Februari 2026. Matahari baru saja menyembul malu-malu di ufuk timur Jombang, namun denyut nadi kehidupan di SMAN 2 Jombang sudah terasa begitu kental. Sebagai guru pengampu Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, jam pertama dan kedua di kelas XII-3 bukan sekadar tugas rutin, melainkan sebuah ruang sakral untuk menitipkan pesan terakhir sebelum mereka terbang meninggalkan sarang.

Saya sengaja melangkah lebih awal menuju kelas. Ada harmoni yang selalu membuat rindu: suara lantunan ayat suci Al-Quran yang dibaca bersama-sama oleh para murid. Tradisi ini bukan hanya ritual pembuka, melainkan upaya menyinkronkan frekuensi hati antara guru, murid, dan Sang Pencipta. Di tengah gemuruh teknologi yang semakin cepat, momen tenang ini adalah jangkar yang menjaga kewarasan kita.

Presensi dan Filosofi Husnul Khatimah

Setelah lantunan ayat suci mereda, saya memulai dengan hal yang paling administratif namun esensial: mengecek kehadiran. Di lembar presensi, ada beberapa nama yang berselimut keterangan sakit, izin, atau tanpa kabar. Di sinilah saya berhenti sejenak, menatap mata mereka satu per satu.

Saya mengingatkan mereka bahwa kehadiran bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan wujud integritas. Bagi murid kelas XII yang sudah berada di ambang kelulusan, presensi adalah syarat mutlak. Namun lebih dari itu, saya mengajak mereka memaknai proses ini dengan kacamata yang lebih luas: Husnul Khatimah.

"Anak-anakku," ujar saya pelan namun mantap, "tuntaskanlah perjalanan kalian di sekolah ini dengan akhir yang baik. Perbaikilah hubungan dengan guru-guru kalian. Bukan karena kita ingin menjilat, tapi agar ada aliran doa dan kasih sayang yang tulus dari mereka. Saat sidang pleno kelulusan nanti, kita ingin para guru memberikan penilaian dengan rasa belas kasih, bukan dengan catatan buruk yang memberatkan."

Saya kemudian menarik analogi yang lebih dalam—sebuah analogi eskatologis. Saya sampaikan bahwa kelak, jika kita diizinkan menginjakkan kaki di surga, itu bukan semata-mata karena tumpukan amal ibadah kita yang mungkin masih compang-camping, juga bukan hanya soal keadilan matematis Tuhan. Kita ini hamba yang penuh cacat, dosa, dan maksiat. Kita butuh Rahman dan Rahim-Nya. Kita masuk surga karena Allah kasihan pada kita; karena Dia memberikan belas kasih-Nya yang tak bertepi. Jika dengan Tuhan saja kita butuh belas kasih, apalagi dengan sesama manusia dalam perjalanan mencari ilmu?

Ijtihad: Memadukan Dalil dan Akal Sehat

Memasuki inti materi, hari itu kami membedah tentang Ijtihad. Dalam struktur hukum Islam, Al-Quran adalah fondasi utama, disusul oleh Al-Hadits sebagai pilar kedua. Namun, dinamika zaman terus bergerak melampaui teks-teks tersebut. Di sinilah Ijtihad hadir sebagai napas intelektual umat Islam.

Saya menguraikan perangkat metodologi yang digunakan para ulama, mulai dari Ijma’ (kesepakatan ulama) hingga Qiyas (analogi). Kami juga mendiskusikan Istihsan (pertimbangan kebaikan), Istishab (melanjutkan ketetapan hukum yang ada), Maslahah Mursalah (kepentingan umum), hingga Urf (adat kebiasaan).

Namun, ada satu poin krusial yang saya tekankan dengan suara lebih tegas: Jangan pernah mengabaikan akal sehat.

Argumentasi saya logis dan lugas: beragama tanpa akal sehat adalah jalan pintas menuju jurang ekstremisme. Allah menganugerahkan akal bukan untuk diparkir, melainkan untuk menjadi kompas dalam memahami wahyu. Salah satu benih kekerasan atas nama agama lahir dari cara beragama yang kaku dan bertentangan dengan nalar kemanusiaan.

"Kalian harus berani menolak doktrin yang mengajarkan kebencian. Jika ada yang mengatakan hanya kelompoknya yang masuk surga sedangkan yang lain najis dan sesat, di situlah akal sehat kalian harus bekerja. Agama hadir untuk merahmati semesta, bukan untuk menyempitkan dunia dengan dinding eksklusivisme."

Diskusi mengalir hangat. Pertanyaan-pertanyaan retoris saya lempar ke udara, disambut dengan argumen-argumen cerdas dari para murid. Kami bersepakat bahwa hasil ijtihad bisa berbeda-beda antarulama, dan di situlah letak indahnya keberagaman. Menjadi cerdas berarti menjadi bijaksana dalam menyikapi perbedaan.

Pertemuan Terakhir: Kejutan di Ujung Jam

Tak terasa, jarum jam melompat ke angka 08.20 WIB. Waktu saya habis. Saat saya mulai merapikan laptop dan berkas administrasi, seorang murid maju mendekat dengan raut wajah yang sulit diartikan.

"Pak, boleh kita foto bersama? Seluruh kelas, Pak," pintanya.

Saya tersenyum, mengira itu hanya permintaan dokumentasi biasa. Namun, kalimat berikutnya membuat jantung saya seolah berhenti berdetak sejenak.

"Ini buat kenang-kenangan, Pak. Ini adalah pembelajaran terakhir Bapak di kelas kami. Setelah ini, kami sudah fokus ujian dan tidak ada jadwal pertemuan lagi."

Saya tertegun. Ada rasa haru yang mendadak menyeruak. Ternyata, tanpa saya sadari, ini adalah curtain call—tirai penutup dari seluruh rangkaian diskusi kami selama setahun ini. Di depan kelas XII-3, kami pun berkumpul. Kamera ponsel menangkap tawa kami, sementara video dokumentasi merekam pesan-pesan terakhir saya untuk mereka.

Dalam rekaman video itu, saya katakan dengan tulus bahwa mereka adalah anak-anak hebat. Saya titipkan doa agar masa depan mereka cerah, agar mereka tidak hanya menjadi orang yang pintar secara intelektual, tapi juga lembut secara hati dan kokoh secara iman.

Hari itu, Rabu yang semula saya kira biasa saja, berubah menjadi momentum penuh kekeluargaan yang bermakna mendalam. Kami tidak hanya berbagi teori tentang ijtihad, tapi kami baru saja mempraktikkan satu hal penting dalam hidup: menghargai waktu dan merayakan perpisahan dengan senyuman.

Selamat berjuang, anak-anakku. Kejarlah cita-citamu, namun jangan pernah tinggalkan akal sehat dan kasih sayang dalam setiap langkahmu. Di SMADA Jombang ini, kita telah menanam benih; semoga di masa depan, kalianlah yang akan memanen keberkahannya.[pgn]

Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang

Posting Komentar

0 Komentar