![]() |
| Sebagai putra daerah Jombang, ada rasa penasaran yang menggelitik. Saya bisa membayangkan bagaimana ngremo-nya Ludruk, tapi Gambus Misri? Saya buta sama sekali. |
[Pacarpeluk, Pak Guru NINE] - Sejarah
seringkali menyapa kita melalui pintu yang tak terduga. Kadang ia datang lewat
buku teks yang kaku, namun tak jarang ia menyelinap lewat senandung lagu yang
akrab di telinga. Bagi saya, perjumpaan dengan sejarah kesenian Jombang,
khususnya Gambus Misri, adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh kelokan;
bermula dari sebuah artikel lawas, melintasi viralnya sebuah syiir, hingga
bermuara pada undangan pementasan malam ini.
Memori saya melayang ke
tahun 1997. Saat itu, sebagai siswa yang sedang menimba ilmu di MAKN/MAN PK Jember, saya menemukan sebuah artikel yang ditulis oleh sang
Guru Bangsa, Gus Dur. Dalam tulisannya yang bernas, Gus Dur membedah sosiologi
pesantren dengan pisau analisis kebudayaan. Ia mengulas Ludruk—kesenian yang
bagi saya sudah "mendarah daging" sebagai tontonan masa kecil. Namun,
di paragraf yang sama, Gus Dur menyebut satu nama yang asing bagi imajinasi
saya kala itu: Gambus Misri.
Sebagai putra daerah
Jombang, ada rasa penasaran yang menggelitik. Saya bisa membayangkan bagaimana ngremo-nya Ludruk, tapi Gambus Misri? Saya buta sama
sekali. Di era itu, akses informasi tidak sederas sekarang. Nama itu kemudian
mengendap di dasar ingatan, menjadi sebuah misteri yang belum terpecahkan:
sebuah teater tutur yang konon lahir dari rahim pesantren, namun tak pernah
sekalipun mampir di pelupuk mata saya.
Waktu bergulir, dan
misteri itu perlahan menemukan kuncinya melalui fenomena yang unik. Pasca
wafatnya Gus Dur, masyarakat kita dibuai oleh rekaman suara yang melantunkan Syi'ir Tanpo Waton. Suaranya yang berat dan liriknya
yang menyentuh relung hati membuat banyak orang—termasuk saya—meyakini bahwa
itu adalah suara Gus Dur. Syiir itu menjadi "lagu wajib" di berbagai
pengajian dan surau.
Belakangan, fakta sejarah
meluruskan persepsi kita. Syiir tersebut sejatinya adalah karya KH. Mohammad
Nizam As-Shofa dari Sidoarjo, yang diciptakan tahun 1987 sebagai media dakwah
tasawuf. Gus Dur memang mengapresiasinya, namun beliau bukanlah pencipta maupun
penyanyi aslinya. Namun, kejutan sejarah tidak berhenti di situ.
Adalah Mbah Nun (Emha
Ainun Nadjib), dalam sebuah pengajian Padhang mBulan, yang
membuka "kotak pandora" memori saya. Dengan jeli, Mbah Nun
mendedahkan bahwa irama magis yang membalut Syi'ir Tanpo Waton
itu ternyata bukanlah komposisi baru. Melodi itu adalah adaptasi dari lagu
pembuka pertunjukan Gambus Misri legendaris asal Jombang, grup "Bintang
Sembilan".
Informasi ini seperti puzzle terakhir yang melengkapi kepingan rasa penasaran
saya sejak 1997. Berbekal akses internet yang kini ada di genggaman, saya
berselancar mencari bukti. Benar saja, di YouTube, saya menemukan rekaman lawas
penampilan Gambus Misri "Bintang Sembilan". Di sana, dengan iringan
musik gambus yang rancak, para pemain menyanyikan lagu "Selamat
Datang" dengan nada yang persis sama dengan syiir yang selama ini kita
senandungkan:
Selamat
datang kami ucapkan
Para
hadirin yang budiman
Berdoa
kami bersama kawan
Semoga
diberi keselamatan
Handai
dan taulan bersama-sama kita doakan
Agar
persembahan dapat diterima
Asalkan
hati tulus dan nyata
Darah saya berdesir.
Ternyata, selama ini kita telah "merayakan" Gambus Misri tanpa
menyadarinya. Kita menikmati buahnya (irama), namun melupakan pohonnya
(kesenian aslinya). Irama itu telah bermetamorfosis, membuktikan bahwa seni
tradisi memiliki daya lenting yang luar biasa untuk tetap hidup, meski dalam
wujud yang berbeda.
Namun, menonton di layar
kaca tidaklah cukup. Seni pertunjukan adalah tentang "rasa" yang
hadir dalam satu ruang dan waktu. Hingga detik ini tulisan ini dibuat, saya
belum pernah duduk di depan panggung Gambus Misri, menghirup atmosfernya, dan
melihat langsung ekspresi para pemainnya. Ada kerinduan untuk memvalidasi
pengalaman digital itu menjadi pengalaman empiris yang nyata.
Gayung pun bersambut.
Kabar gembira itu datang dalam wujud undangan: "Rekonstruksi &
Dokumentasi Pertunjukan Tradisi Gambus Misri Bintang Sembilan"
dengan lakon Fajar Islam. Ini bukan sekadar pementasan biasa; ini
adalah upaya memanggil kembali "ruh" kesenian yang nyaris hilang.
Mengapa kita harus hadir?
Karena kebudayaan tidak bisa hanya didiskusikan di ruang seminar atau ditonton
lewat layar gawai. Kebudayaan membutuhkan "inang" untuk tetap hidup,
dan inang itu adalah apresiasi kita—kehadiran fisik kita. Malam ini, Jumat, 6
Februari 2026, Gedung Kesenian Jombang bukan sekadar tempat pertunjukan,
melainkan menjadi mesin waktu yang akan membawa kita menyelami kembali kekayaan
intelektual dan spiritual leluhur santri Jombang.
Saya mengajak Anda, para
sahabat, handai taulan, dan generasi muda Jombang. Mari kita buktikan bahwa
kita bukan generasi yang ahistoris. Mari kita menjadi saksi mata bahwa Gambus
Misri bukan sekadar catatan kaki dalam artikel Gus Dur, melainkan sebuah
warisan yang masih bernapas.
Jangan biarkan panggung
itu sepi. Datanglah. Karena budaya akan terus hidup, jika—dan hanya jika—kita
mau datang dan menyaksikan. Sampai jumpa di Gedung Kesenian Jombang nanti
malam![pgn]
Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang – Pemerhati Kebudayaan

0 Komentar