[Jombang, Pak Guru NINE] - Hembusan angin sejuk di Pendopo
Kecamatan Perak, Jombang, pada Minggu, 8 Maret 2026, seolah menjadi saksi bisu
atas sebuah momentum spiritual dan organisatoris yang amat krusial. Hari itu,
umat Islam di Kecamatan Perak kembali menata arah kompas moralnya melalui
perhelatan Musyawarah Kecamatan (Muscam) Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia
(DP MUI) Kecamatan Perak.
Acara yang dipandu dengan apik dan
khusyuk oleh Sekretari Umum DP MUI Kabupaten Jombang, KH. Ilham Rohim, ini
bukanlah musyawarah biasa. Kehadirannya menjadi magnet bagi para tokoh agama,
dibuktikan dengan hadirnya jajaran pimpinan teras DP MUI Kabupaten Jombang.
Tampak hadir memberikan restu dan dukungan moral yakni Ketua Umum, Sekretaris
Umum, Sekretaris, Bendahara Umum, Bendahara, hingga jajaran pengurus Komisi Fatwa
DP MUI Kabupaten Jombang.
Dalam sambutannya yang sarat akan makna
perpisahan sekaligus harapan, Ketua DP MUI Kecamatan Perak masa khidmat
sebelumnya, KH. Nur Raichan, menghaturkan rasa terima kasih yang mendalam atas
sinergi umat selama kepemimpinannya. Di penghujung kalimatnya, terselip sebuah
doa dan harapan besar agar tongkat estafet perjuangan ini sudi dilanjutkan oleh
sosok ulama kharismatik, KH. Mohammad Haris Munawir. Harapan ini selaras dengan
sambutan Sekretaris Kecamatan Perak, Abdul Wahid, yang menegaskan pentingnya
sinergi antara ulama (tokoh agama) dan umara (pemerintah) demi
ketenteraman masyarakat.
Melalui dinamika musyawarah yang
menjunjung tinggi adab dan kedewasaan berorganisasi, kepengurusan lama pun
dinyatakan demisioner. Sidang berlanjut pada pembentukan tim formatur. Dengan
hati yang tertaut pada kepentingan umat dan bimbingan cahaya ilahi, tim
formatur secara mufakat dan aklamasi menetapkan KH. Mohammad Haris Munawir
sebagai Ketua Umum DP MUI Kecamatan Perak yang baru.
Menelusuri Akar Sang
Nakhoda Baru
Terpilihnya KH. Mohammad Haris Munawir
bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah dari rekam jejak pengabdian dan
kedalaman keilmuan yang tak terbantahkan. Sosok yang akrab disapa Gus Haris ini
lahir pada 12 Agustus 1965 di Dusun Pedes, Desa Sukorejo, Perak, dari rahim
keluarga pesantren. Beliau adalah putra sulung pasangan KH Munawir Soleh dan Hj
Jariyah Rohmad, pengasuh Pondok Pesantren Pedes.
Gus Haris adalah perpaduan antara
ketekunan akademis dan kedisiplinan spiritual. Setelah menamatkan SDN Sukorejo
(1977), ia menempa diri di lingkungan Ponpes Mambaul Maarif Denanyar hingga
lulus MAN 4 pada 1985. Dahaganya akan ilmu tak berhenti di situ. Ia melanjutkan
rihlah ilmiahnya ke Pondok Pesantren Darussalam, Kencong, Kepung, Kediri
asuhan KH Imam Faqih Asy’ari—seorang ulama besar yang merupakan murid langsung
dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan didikan Pesantren Lirboyo.
"Belajar di
pondok salaf itu seperti mengulang sekolah, tapi fokus pada pendidikan agama.
Seratus persen agama," kenang Gus Haris tentang masa-masa
penempaannya hingga tahun 1992.
Di bawah kepemimpinan KH. Mohammad Haris Munawir, umat Islam di kecamatan Perak kini memiliki nakhoda yang berakar kuat pada tradisi salaf, namun memiliki visi menembus masa depan. Ini adalah undangan bagi seluruh elemen masyarakat—mari kita rapatkan barisan, merajut ukhuwah, dan bersama-sama menyongsong hari esok yang lebih bermartabat di bawah bimbingan para ulama.[pgn]

0 Komentar