![]() |
| Melalui piranti papan digital (IFP) yang ada di sekolah itu, saya membuka tayangan slide pertama dengan sebuah pertanyaan ringan yang sengaja saya rancang untuk memancing senyum audiens. |
[Jombang, Pak Guru NINE] - Pagi itu, Senin, 30 Maret 2026, jarum
jam baru saja menunjuk pukul 09.00 WIB. Namun, kehangatan sudah begitu terasa
memenuhi setiap sudut SDN Balonggemek 2, Megaluh, Jombang. Bukan sekadar
hangatnya sinar matahari pagi yang menyapa, melainkan hangatnya ikatan
silaturahmi yang terpancar dari wajah-wajah ceria para dewan guru, wali murid,
hingga anak-anak murid kelas 1 hingga 6. Suasana bulan Syawal 1447 H masih pekat mengudara. Di momen yang Idul Fitri nan penuh keberkahan ini, saya
mendapat amanah istimewa untuk berdiri di hadapan keluarga besar sekolah ini,
berbagi wawasan dan refleksi dalam acara Pengajian Halal Bi Halal.
Melihat audiens yang begitu
beragam—dari anak-anak berseragam rapi yang duduk bersila dengan wajah lugunya,
hingga para orang tua dan pendidik yang menyimak penuh perhatian—saya menyadari
bahwa materi kajian ini harus membumi namun tetap bergizi tinggi. Oleh karena
itu, saya mengemas tayangan presentasi pagi itu dengan sebuah judul yang
merangkum esensi pertemuan kami: “Halal Bi Halal: Ilmu, Adab, dan Ukhuwah”.
Melalui piranti papan digital (IFP) yang ada di sekolah itu, saya membuka tayangan slide
pertama dengan sebuah pertanyaan ringan yang sengaja saya rancang untuk
memancing senyum audiens. "Bapak, Ibu, dan adik-adik semua, kalau
mendengar ucapan minal ‘aaidiin wal faaiziin, apa yang biasanya
terlintas di pikiran kita?" Serempak, ruangan itu bergema dengan jawaban
khas masyarakat kita, "Mohon maaf lahir batin!"
Di titik inilah pilar ilmu mulai
saya gelitik. Saya mengajak mereka bernalar sejenak melalui analogi sederhana.
Fenomena ini, kata saya, layaknya anak-anak SD yang baru belajar bahasa
Inggris. Ketika mereka melihat keset bertuliskan "Welcome" di depan
pintu yang difungsikan untuk membersihkan sepatu, mereka pun menyimpulkan bahwa
bahasa Inggrisnya "keset" adalah "welcome". Sebuah salah
kaprah yang karena dilakukan secara masif, akhirnya dianggap sebagai sebuah
kebenaran mutlak.
Saya jelaskan dengan bahasa yang santai
bahwa minal ‘aaidiin wal faaiziin sejatinya adalah potongan doa yang
berarti "(semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali dan menang",
dan sama sekali tidak memiliki kaitan makna linguistik dengan permohonan maaf.
Jika kita ingin merujuk pada teladan tahniah (ucapan selamat) yang
memiliki sanad riwayat kuat dari para sahabat Nabi, maka kalimat yang diucapkan
adalah Taqabbalallaahu minnaa wa minkum (Semoga Allah menerima amal
ibadah Ramadhan kami dan kamu). Penjelasan ini tentu bukan untuk menghakimi
tradisi yang ada, melainkan sebuah upaya akademis untuk meluruskan pemahaman
agar ibadah kita berlandaskan ilmu yang benar.
Lalu, bagaimana dengan tradisi Halal Bi
Halal itu sendiri? Di sinilah pilar adab berbicara. Saya membangun
argumentasi logis bahwa Islam adalah agama yang sangat moderat dan adaptif
terhadap budaya lokal. Halal Bi Halal memang murni hasil kreasi budaya
Nusantara. Anda tidak akan menemukannya di negara-negara Timur Tengah. Namun,
esensinya—yakni berlapang dada, meminta maaf, dan menyambung tali
silaturahmi—adalah implementasi nyata dari perintah syariat. Membudayakan yang
syar'i melalui kearifan lokal adalah bentuk adab sosial yang luar biasa indah.
Memasuki pilar ketiga, yakni ukhuwah,
suasana balai pertemuan menjadi lebih hening dan reflektif. Melalui tayangan
infografis, saya mengutip keindahan Surah An-Nur ayat 22: “...dan hendaklah
mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah
mengampunimu?” Ayat ini memberikan ketukan psikologis yang sangat mendalam.
Bagaimana mungkin kita sebagai manusia biasa mengharapkan ampunan dari Allah
Yang Maha Luas, sementara kita sendiri begitu pelit dan angkuh untuk memaafkan
kesalahan saudara kita?
Bagi orang dewasa, gengsi seringkali
menjadi tembok tebal yang menghalangi kata maaf. Oleh karenanya, saya ingatkan
kembali sebuah peringatan keras dari Rasulullah SAW dalam riwayat Muslim
tentang "Orang Bangkrut" di hari kiamat. Bukankah sangat merugi jika
kita datang membawa segunung pahala salat dan puasa, namun ludes dibagikan
kepada orang-orang yang pernah kita zalimi dan belum kita mintai maaf di dunia?
Terlebih lagi, hadits tentang tertundanya ampunan Allah di hari Senin dan Kamis
bagi dua orang yang sedang bermusuhan hingga mereka berdamai, menjadi renungan
tajam bagi kami semua pagi itu. Islam mengajarkan shafhal jamiil, memaafkan
dengan cara yang indah tanpa mengungkit kesalahan masa lalu.
Acara pagi itu pun ditutup dengan doa
bersama dan tradisi saling bersalaman serta makan bakso
bersama-sama yang
terasa jauh lebih bermakna dari tahun-tahun sebelumnya. Halal Bi Halal di SDN
Balonggemek 2 hari ini bukan lagi sekadar rutinitas jabat tangan tanpa makna,
melainkan sebuah momentum kesadaran kolektif. Kesadaran untuk berilmu sebelum
berucap, beradab dalam melestarikan budaya, dan menjaga ukhuwah demi meraih
rida-Nya. Taqabbalallaahu minnaa wa minkum.[pgn]
Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang – Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

0 Komentar