Harapan Indah di Balik Penghematan Energi

 

Sebuah kebijakan publik yang baik seharusnya tidak hanya lahir dari niat yang mulia, tetapi juga dari empati terhadap realitas di lapangan.

[Jombang, Pak Guru NINE] – Bagi saya, pagi hari di Jombang bukan sekadar rutinitas; ia adalah orkestra knalpot dan kepulan asap yang membelah udara kota ini. Namun, di bulan Maret 2026 ini, sebuah narasi baru sedang mencoba menyelusup di antara deru mesin: himbauan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk beralih ke pedal sepeda. Secara filosofis, kebijakan ini adalah tindak lanjut himbauan Presiden untuk melakukan penghematan energi. Namun, sebagai guru di SMAN 2 Jombang yang bersentuhan langsung dengan denyut harian masyarakat, saya melihat kebijakan ini memerlukan lebih dari sekadar semangat; ia memerlukan logika teknis yang presisi agar tidak berakhir sebagai beban baru yang kontraproduktif.

Kita harus jujur bahwa krisis energi dan kenaikan harga BBM adalah realitas yang mencekik. Langkah daerah seperti Kota Mojokerto dengan "Bike to Work" setiap Jumat, atau Kabupaten Bangkalan yang berani melarang kendaraan bermotor pada hari tertentu, adalah bentuk ijtihad kebijakan yang patut diapresiasi. Ini adalah upaya mengetuk kesadaran kolektif kita tentang emisi gas buang. Namun, dukungan saya terhadap kebijakan ini bukan tanpa catatan. Sebuah kebijakan publik yang baik seharusnya tidak hanya lahir dari niat yang mulia, tetapi juga dari empati terhadap realitas di lapangan.

Argumentasi pertama saya berakar pada rasionalitas geografis. Himbauan bersepeda harus memiliki batas maksimal jarak tempuh yang jelas. Meminta seorang ASN yang tinggal lintas kecamatan—misal dari ujung utara Jombang menuju pusat kota—untuk mengayuh sepeda sejauh belasan kilometer adalah sebuah kebijakan yang mengabaikan hukum biologi. Jika tidak ada ketentuan batas jarak, kita hanya akan menciptakan barisan abdi negara yang tiba di kantor dalam keadaan fisik yang sudah teruras habis.

Bagi seorang guru, tantangan ini jauh lebih nyata. Bayangkan saya atau rekan-rekan guru lainnya harus masuk kelas tepat pukul 07.00 WIB. Jika kami tiba di sekolah dalam keadaan ngos-ngosan dan mandi keringat karena kelelahan mengayuh, apakah transfer ilmu bisa berjalan dengan prima? Profesionalisme menuntut kebugaran, bukan kelelahan yang dipaksakan. Oleh karena itu, fleksibilitas hari juga menjadi kunci. Menetapkan hari Jumat sebagai hari bersepeda adalah pilihan yang paling logis. Hari Jumat memiliki ritme kerja yang lebih dinamis dan lentur, berbeda dengan Senin hingga Kamis yang sarat dengan jadwal pelayanan publik yang kaku.

Namun, mari kita tarik perspektif ini lebih luas. Masalah penghematan energi melalui sepeda hanyalah puncak gunung es dari rapuhnya sistem transportasi kita. Setiap pagi, hati saya miris melihat murid-murid SMP dan SMA melaju dengan motor. Kita semua tahu rahasia umum ini: sebagian besar dari mereka belum memiliki SIM. Mereka terjepit dalam dilema moral; melanggar hukum demi akses pendidikan karena jarak sekolah yang jauh dan tiadanya alternatif angkutan. Pihak sekolah seringkali hanya bisa "berpura-pura tidak tahu" demi kelancaran proses belajar. Ini adalah sebuah paradoks pendidikan yang harus segera diakhiri.

Di sinilah kita perlu menoleh ke arah daerah lain sebagai referensi dalam penyediaan moda transportasi publik yang nyaman dan terintegrasi. Misal, di Tuban ada program "Si Mas Ganteng" (Transportasi Masyarakat Tuban yang Elegan, Aman, Nyaman, dan Terintegrasi). Ini adalah bukti nyata bahwa negara bisa hadir memberikan solusi konkret. Dengan armada gratis bagi pelajar yang berbasis aplikasi digital, pemerintah tidak hanya menghemat energi, tetapi juga menyelamatkan nyawa generasi muda dari kecelakaan lalu lintas dan mendidik mereka untuk taat hukum sejak dini.

Pertanyaannya kemudian: "Mengapa Jombang belum bisa?"

Padahal, benih solusinya sudah ada. Kita bisa melihat bagaimana Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso menyediakan Kereta Kelinci dan Bus Santri untuk mobilitas internal mereka. Ini bukti bahwa kesadaran akan transportasi massal itu ada, namun yang kita butuhkan sekarang adalah political will dari Pemerintah Kabupaten Jombang dan DPRD untuk mengadopsi solusi ini dalam skala yang lebih besar.

Jika pemerintah benar-benar serius ingin menghemat energi, maka sepeda hanyalah solusi jangka pendek yang bersifat individual. Solusi jangka panjang yang argumentatif dan berdampak masif adalah penyediaan moda transportasi publik yang nyaman dan memadai bagi ASN maupun pelajar serta masyarakat umum. Investasi pada transportasi massal bukanlah pemborosan; ia adalah investasi pada kedisiplinan, keselamatan, dan efisiensi ekonomi keluarga.

Sebagai penutup, kebijakan bersepeda bagi ASN harus kita dukung sebagai langkah awal yang inspiratif, namun ia jangan sampai berhenti di situ. Kita butuh keberanian untuk bermimpi lebih besar: Jombang yang tidak lagi dipenuhi anak sekolah tanpa SIM di atas motor, Jombang yang ASN-nya berangkat dengan angkutan umum yang bermartabat, dan Jombang yang memimpin revolusi energi dengan tindakan nyata, bukan sekadar himbauan di atas kertas. Saatnya kita bergerak, dari sekadar mengayuh pedal menuju pembangunan sistem yang berkeadilan. Karena penghematan energi yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu berpindah tempat tanpa harus mengorbankan martabat dan keselamatan.[pgn]

Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang – Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

Posting Komentar

0 Komentar