[Jombang, Pak Guru NINE] - Setiap pagi, saat kaki
melangkah melewati gerbang SMAN 2 Jombang, saya disambut oleh harmoni yang
ganjil namun indah. Di satu sisi, ada keriuhan khas remaja—sapaan takzim, tawa
di selasar, dan deru motor yang parkir rapi. Namun di sisi lain, ada keheningan
yang sibuk: jempol-jempol muda yang menari lincah di atas layar kaca. Mereka
adalah digital natives, generasi yang menghirup udara digital
sejak embusan napas pertama. Sebagai guru, saya sering merenung di depan kelas,
memandangi wajah-wajah cerdas itu; apakah ruang kelas berdinding beton ini
masih cukup luas untuk menampung semesta luas yang ada di kantong seragam
mereka?
Belakangan ini, sebuah
wacana menggelitik nalar kita: memberlakukan satu hari sekolah daring dalam
sepekan. Sontak, kekhawatiran menyeruak. Istilah learning loss atau
hilangnya pengetahuan menjadi hantu yang menakutkan bagi para kritikus. Namun,
mari kita tarik napas sejenak, menepi dari kegaduhan, dan bersikap
proporsional.
Secara matematis dan
pedagogis, kekhawatiran akan penurunan kemampuan akademik yang drastis terasa
sedikit berlebihan. Kebijakan ini direncanakan hanya satu hari dalam sepekan,
tepatnya di hari Jumat. Dari Senin hingga Kamis, dialektika antara guru dan
murid tetap berdenyut kencang di ruang kelas. Empat hari tatap muka yang
intensif adalah fondasi kokoh yang tidak akan runtuh hanya karena satu hari
kita berpindah ke ruang virtual. Sebaliknya, satu hari ini justru bisa menjadi
jeda yang kontemplatif, sebuah ruang bernapas bagi pendidikan yang lebih
mandiri.
Mengapa hari Jumat? Mari
kita bedah anatomi waktu sekolah kita. Senin hingga Kamis adalah waktu
"tempur". Kurikulum yang padat menuntut konsentrasi tingkat tinggi
baik bagi guru maupun murid. Sementara itu, hari Jumat secara tradisional telah
menjadi hari yang lebih lentur dan penuh warna spiritualitas. Kita mengenal
Jumat Sehat dengan senamnya, Jumat Religi dengan lantunan doa, hingga Jumat
Bersih yang menjaga marwah lingkungan sekolah.
Bayangkan jika kegiatan
ini dikonversi ke dalam moda daring dengan penugasan yang kreatif. Murid tidak
kehilangan esensi karakter; mereka justru diajak membumikan nilai-nilai
tersebut di lingkungan terkecilnya: rumah. Mereka bisa melakukan olahraga
mandiri, mengisi jurnal refleksi ibadah secara digital, atau melakukan aksi
kebersihan di rumah sendiri. Inilah wujud nyata pendidikan karakter yang tidak
lagi terkurung oleh pagar sekolah, melainkan menyatu dengan denyut kehidupan
keluarga.
Bagi saya, kebijakan ini
bukan sekadar urusan teknis, melainkan "pemantik wajib" bagi
transformasi kompetensi. Pandemi telah usai, namun zona nyaman seringkali
membuat kita kembali ke pola lama yang statis. Satu hari daring dalam sepekan
memaksa kita secara sistematis untuk mengakrabi Learning Management System
(LMS), perangkat konferensi video, hingga alat kreasi konten berbasis AI.
Ini bukan lagi soal
pilihan, melainkan kebutuhan mingguan. Guru ditantang untuk merancang modul
interaktif. Alih-alih hanya ceramah yang terkadang melenakan di hari Jumat yang
singkat, guru mulai mengeksplorasi penggunaan gamification, video
pembelajaran, dan asesmen digital yang variatif. Secara administrasi,
digitalisasi ini justru meringankan beban kerja manual yang repetitif,
memungkinkan kita fokus pada tugas utama: mendidik dengan hati.
Lantas, bagaimana dengan
murid-murid kita? Bagi para penduduk asli dunia digital ini, satu hari daring
justru menyelaraskan cara mereka belajar dengan cara mereka hidup. Kita sedang
membantu mereka memperkuat literasi digital. Mereka diajak belajar mengelola
waktu, menyaring limpahan informasi di internet, dan menggunakan perangkat
teknologi untuk tujuan produktif, bukan sekadar menggulir layar media sosial
tanpa henti.
Ada sebuah soft skill krusial yang tumbuh di sini: kemandirian
belajar (self-regulated learning). Pembelajaran daring melatih
disiplin diri dan otonomi. Murid belajar mencari sumber belajar mandiri—sebuah
bekal berharga yang akan mereka bawa hingga ke jenjang perguruan tinggi dan
dunia kerja yang semakin tanpa batas. Melalui model blended
learning ini, mereka mendapatkan variasi stimulus. Mereka bisa
mengulang video penjelasan guru berkali-kali di rumah tanpa rasa sungkan,
sesuatu yang mustahil dilakukan dalam durasi jam pelajaran yang terbatas di
kelas.
Dari perspektif ekosistem
pendidikan yang lebih luas, sekolah sedang bertransformasi menjadi institusi
yang tangkas dan modern. Investasi besar pemerintah dalam perangkat digital dan
jaringan tidak akan lagi menjadi pajangan yang mubazir di laboratorium
komputer, melainkan menjadi jembatan interaksi yang hidup.
Secara operasional,
kebijakan ini adalah langkah konkret yang ramah lingkungan dan ekonomis.
Efisiensi penggunaan listrik, air, dan penurunan emisi karbon karena
berkurangnya mobilitas selama satu hari adalah kontribusi nyata dunia pendidikan
terhadap isu global. Lebih dari itu, kita sedang membangun "imunitas"
sistem. Dengan rutin berlatih satu hari daring dalam sepekan, sekolah membangun
ketangguhan. Jika di masa depan terjadi disrupsi atau situasi darurat,
ekosistem kita sudah siap 100% tanpa hambatan teknis yang berarti.
Menutup perenungan ini,
saya melihat satu hari daring bukan sebagai cara untuk menjauhkan guru dari
murid, melainkan cara baru untuk saling menemukan. Kebijakan satu hari sekolah
daring adalah jembatan yang menghubungkan realitas pendidikan tradisional kita
dengan visi Indonesia Cerdas. Momentum ini akan mengubah teknologi dari sekadar
"alat bantu" menjadi "napas" dalam ekosistem pembelajaran
yang lebih inklusif dan efektif.
Di SMAN 2 Jombang, saya
ingin melihat murid-murid saya tidak hanya mahir menghafal teori, tapi juga
cakap menavigasi masa depan di ujung jari mereka. Karena pada akhirnya,
pendidikan bukan hanya soal berada di dalam ruangan yang sama, tapi soal
bagaimana jiwa-jiwa kita tetap terhubung dalam semangat pencarian ilmu, di mana
pun raga kita berada.[pgn]
Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang – Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

0 Komentar