Menyelaraskan Nalar Kritis dan Adab di Ruang Publik

Jika untuk mendakwahi seorang tiran yang level keburukannya setara Fir'aun saja Allah menitahkan penggunaan bahasa yang lemah lembut dan tidak provokatif, lantas dari mana kita mendapatkan pembenaran untuk menggunakan caci maki, umpatan, dan bahasa sarkas kepada pemimpin kita sendiri? 

 

[Pacarpeluk, Pak Guru NINE] - Kamis pagi, 25 Juni 2026, sebuah pesan WA singkat dari pengurus Masjid Nurul Iman Bedahlawak, Tembelang, Jombang, berhasil menyentak ingatan saya yang hampir memudar. Pesan tersebut mengabarkan pengingat yang sangat penting: esok hari, Jumat, 26 Juni 2026, adalah giliran saya mengemban amanah sebagai khotib sekaligus imam salat Jumat di masjid tersebut.

Jujur saja, janji yang saya sanggupi di awal tahun 2026 untuk mengisi satu jadwal khotbah ini telah tenggelam di balik tumpukan rutinitas. Karena memang sifatnya tidak rutin, jadwal ini sepenuhnya luput dari perhatian saya. Andai sang pengurus tak berbaik hati menyapa dan mengingatkan, niscaya saya akan alpa dan abai. Alhamdulillah, Allah SWT masih menjaga saya melalui teguran halus ini, memberikan saya ruang dan waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Awalnya, niat hati ingin merakit sebuah naskah khotbah yang benar-benar baru. Namun, saat menelusuri catatan, ingatan saya tertuju pada materi khotbah yang baru saja saya sampaikan sepekan lalu, tepatnya pada 19 Juni 2026, di Masjid Baitul Muslimin. Setelah saya baca ulang, esensi pesan di dalamnya justru terasa semakin relevan, hidup, dan menemukan urgensinya di tengah fenomena sosial belakangan ini. Karenanya, saya memutuskan untuk menggunakan dan mengembangkan kembali naskah tersebut untuk mimbar Jumat nanti.

Kehilangan Kemudi Adab

Keputusan ini tidak lepas dari keprihatinan mengamati hiruk-pikuk linimasa dan ruang publik kita akhir-akhir ini. Kita disuguhi pemandangan riuh rendahnya aksi penyampaian pendapat oleh sebagian aktivis mahasiswa yang kian kehilangan kompas kesantunan. Dengan mengatasnamakan kritik, bahasa yang dilontarkan kepada Presiden Republik Indonesia seringkali tergelincir menjadi kalimat-kalimat yang sangat sarkastik, cenderung melecehkan ranah pribadi, bahkan tak segan merendahkan simbol negara.

Sikap jumawa seringkali mengiringi rentetan kritik terhadap program-program prioritas pemerintah yang sedang berjalan. Dalam balutan retorika yang berapi-api, muncul sebuah ego yang merasa paling memonopoli kebenaran; merasa paling tahu akar segala problematika bangsa berikut solusinya. Padahal, jika kita mau menundukkan hati sejenak, kita semua tahu bahwa tak ada satu pun manusia—baik pemerintah yang memegang kebijakan maupun pengkritik yang lantang bersuara—yang luput dari celah kekurangan.

Di sela-sela keseharian saya mendampingi dan mendidik para murid di SMAN 2 Jombang, saya sangat menyadari bahwa nalar kritis dan energi meletup anak muda adalah aset bangsa yang harus dirawat. Namun, nalar kritis yang tidak dibingkai dengan adab akan berubah menjadi panah beracun yang sekadar merusak harmoni. Kebebasan berekspresi seharusnya tidak membebaskan kita dari kewajiban menjaga martabat dan kesopanan dasar sebagai manusia berbudaya.

Qaulan Layyina

Berangkat dari kegelisahan inilah, panduan Al-Qur'an tentang seni berkomunikasi harus kembali digaungkan. Allah SWT telah menitipkan sebuah formula komunikasi yang teramat indah, presisi, dan logis melalui konsep Qaulan Layyina (Perkataan yang Lemah Lembut), sebagaimana termaktub dalam QS. Thaha [20]: 44:

﴿ فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى ٤٤ ﴾

"Berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut."

Mari kita bedah keagungan ayat ini dengan argumentasi yang jernih. Konteks ayat ini adalah perintah langsung dari Allah SWT kepada dua utusan agung-Nya, Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. Siapakah lawan bicara mereka? Fir'aun. Seorang tiran paling kejam dalam sejarah kemanusiaan, diktator zalim yang dengan tingkat kesombongan paripurna berani memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan.

Logika teologisnya menampar kita dengan keras: Jika untuk mendakwahi seorang tiran yang level keburukannya setara Fir'aun saja Allah menitahkan penggunaan bahasa yang lemah lembut dan tidak provokatif, lantas dari mana kita mendapatkan pembenaran untuk menggunakan caci maki, umpatan, dan bahasa sarkas kepada pemimpin kita sendiri? Apakah pemimpin kita saat ini lebih buruk dari Fir'aun? Tentu tidak. Dan apakah kita yang bertindak sebagai pengkritik ini lebih mulia dan lebih suci dari Nabi Musa? Tentu sangat jauh dari itu.

Tanpa Merendahkan

Tafsir Kemenag memberikan pencerahan mendalam terkait hal ini. Pendekatan Qaulan Layyina bukanlah simbol kelemahan nyali, melainkan manifestasi strategi komunikasi tingkat tinggi. Seseorang yang didekati dengan kelembutan, hatinya akan terkesan. Ia akan memberikan ruang bagi telinganya untuk mendengar dan nalarnya untuk memproses teguran, karena ia tidak merasa gengsi atau harga dirinya sedang dilucuti di depan umum.

Sebaliknya, kekerasan verbal dan caci maki tidak akan pernah melahirkan ketundukan. Hal ini ditegaskan Allah dalam QS. Ali 'Imran: 159, bahwa sikap keras dan hati yang kasar hanya akan membuat orang lain menjauh. Kritik yang dibalut dengan kebencian dan sarkasme pada akhirnya hanya menjadi panggung pamer ego sang pengkritik, sementara pesan kebenarannya menguap tertiup angin penolakan.

Dalam Al-Qur'an, tata krama menyampaikan kebenaran ini ditekankan melalui prinsip-prinsip berikut:

·       Kedepankan Hikmah: Sampaikan teguran dengan cara yang elegan, pelajaran yang baik, dan bantahan yang terhormat (QS. An-Nahl: 125).

·       Berorientasi pada Kesadaran: Tujuan utama mengkritik adalah mengajak lawan bicara membersihkan diri dari kesalahan, bukan mempermalukannya agar kita terlihat unggul (QS. An-Naziat: 18-19).

Melalui mimbar Jumat di Masjid Nurul Iman hari ini, terselip harapan yang besar agar pesan ini membumi. Semoga masyarakat kita, khususnya generasi muda, kembali menemukan kontrol dirinya di ruang publik. Menyampaikan kebenaran dan mengkritik kebijakan adalah bagian dari kepedulian terhadap bangsa. Namun, jadikan adab, kebijaksanaan, dan Qaulan Layyina sebagai pakaiannya. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa tajam kalimat kita yang mampu merubah keadaan, melainkan seberapa dalam kebaikan niat kita mampu menembus relung hati lawan bicara.[pgn]

Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang


Posting Komentar

0 Komentar