![]() |
| Silakan sampaikan kritik yang tajam pada kebijakannya, namun bungkuslah dengan adab dan akhlak yang mulia. |
KHOTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ
الَّذِيْ هَدَانَا لِسَبِيْلِ الرَّشَادِ، وَأَمَرَنَا بِحِفْظِ الْأَلْسِنَةِ
عَنِ الْفَسَادِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعِبَادِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَعَادِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ،
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ
اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Hadirin Sidang Jumat yang
Dirahmati Allah,
Puji dan syukur senantiasa kita
panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat yang tak terhingga, terutama
nikmat iman, Islam, serta kesehatan, sehingga kita dapat melangkahkan kaki
menuju masjid yang mulia ini untuk menunaikan kewajiban shalat Jumat. Shalawat
serta salam senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, keluarga,
sahabat, dan umatnya yang setia hingga akhir zaman.
Melalui mimbar yang mulia ini, khatib
mengajak diri khatib pribadi dan jamaah sekalian: Marilah kita senantiasa
meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti yang
sesungguhnya, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,
termasuk takwa dalam mengendalikan lisan dan menjaga adab berbicara dalam
kehidupan kita sehari-hari.
Jamaah Jumat yang Dimuliakan
Allah,
Akhir-akhir ini, ruang publik kita
diramaikan dengan dinamika kebebasan berpendapat yang sering kali keluar dari
batas kepantasan. Kita menyaksikan dengan dada yang sesak, aksi sebagian
aktivis, pemuda, dan mahasiswa terpelajar yang menyampaikan pendapatnya dengan
gaya bahasa yang sangat sarkas, bahkan cenderung melecehkan pribadi seorang
Presiden Republik Indonesia dan simbol-simbol negara.
Seringkali, dengan nada jumawa, mereka
menjelek-jelekkan pemerintah melalui program-program prioritas yang sedang
berjalan. Melalui retorikanya, mereka merasa paling tahu segala problematika
bangsa ini beserta solusinya. Merasa seperti orang yang paling benar dan suci,
padahal kita harus sadar, tidak ada manusia yang sempurna dan luput dari segala
kekurangan. Seorang pemimpin adalah manusia biasa yang memiliki kelebihan dan
juga kelemahan.
Kritik adalah vitamin bagi sebuah
bangsa. Islam sama sekali tidak melarang umatnya untuk memberikan nasehat atau
kritik kepada pemimpin. Namun, Islam memberikan batasan, etika, dan adab yang
sangat agung dalam menyampaikan sesuatu.
Hadirin yang Berbahagia,
Mari kita renungkan sejenak,
bagaimanakah petunjuk Allah SWT dalam Al-Qur'an tentang adab berbicara dan bernasehat.
Salah satu prinsip komunikasi yang diajarkan dalam Al-Qur'an adalah Qaulan Layyina (perkataan yang lemah lembut).
Hal ini terekam jelas dalam firman
Allah SWT tatkala mengutus Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. untuk mendakwahi
Fir'aun, seorang raja yang bukan hanya tiran dan zalim, tetapi juga dengan
sombongnya mengaku sebagai Tuhan. Allah berfirman dalam QS. Thaha [20]: 44:
فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ
اَوْ يَخْشٰى ٤٤
"Berbicaralah kamu berdua
kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar
atau takut.”
Ayat
ini mengajarkan kepada Nabi Musa dan Harun a.s. bagaimana cara menghadapi
Fir'aun: yaitu dengan kata-kata yang halus dan ucapan yang lemah lembut.
Seseorang yang dihadapi dengan cara demikian, akan terkesan di hatinya dan akan
cenderung menyambut baik dan menerima dakwah serta ajakan yang diserukan
kepadanya.
Tujuan dakwah dan kritik bukanlah untuk
mempermalukan, bukan untuk menjatuhkan kehormatan, dan bukan pula untuk
mempertontonkan kehebatan sang pengkritik. Tujuannya adalah la'allahu yatadzakkaru au yakhsya—agar yang dikritik
menyadari kesalahannya dan kembali takut kepada Allah. Jika pesan disampaikan
dengan sarkasme, caci maki, dan pelecehan, maka ruang dialog akan tertutup.
Yang diserang bukan lagi kebijakannya, melainkan ego dan gengsinya.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Coba kita perbandingkan dengan akal
sehat kita. Jika kepada Fir'aun—seorang makhluk yang paling melampaui batas dan
mengaku sebagai Tuhan—Allah SWT saja memerintahkan Nabi Musa untuk menggunakan
bahasa yang lembut (qaulan layyina), lalu mengapa kita
merasa berhak menggunakan bahasa yang kasar, kotor, dan melecehkan kepada
sesama muslim, kepada sesama anak bangsa, terlebih kepada pemimpin negara yang
telah berusaha bekerja untuk rakyatnya?
Cara yang bijaksana ini juga diajarkan
kepada baginda Nabi Muhammad SAW, sebagaimana firman-Nya dalam QS. An-Nahl
[16]: 125:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ
بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ
اَحْسَنُۗ
“Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara
yang baik.”
Sebaliknya, jika nasehat dan kritik itu
disampaikan dengan kekerasan, caci maki, dan bentakan, maka jangankan hati akan
takluk dan tunduk, justru ia akan menentang dan menjauh. Allah SWT telah
memperingatkan hal ini dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 159:
وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ
الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ
"Sekiranya engkau bersikap
keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu."
Hadirin yang Dimuliakan Allah,
Selain petunjuk agar bersikap santun,
Allah juga mengajarkan pilihan kata-kata yang memuliakan. Sebagaimana
dikisahkan dalam Al-Qur'an (QS. An-Nazi'at [79]: 18-19), Nabi Musa diajarkan
untuk bertanya dengan penuh kehormatan kepada Fir'aun:
فَقُلْ هَلْ لَّكَ اِلٰٓى اَنْ
تَزَكّٰىۙ ١٨ وَاَهْدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ فَتَخْشٰىۚ ١٩
Maka katakanlah (kepada
Firaun), ”Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (dari kesesatan), dan
engkau akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar engkau takut kepada-Nya?”
Lihatlah keindahan susunan kata
tersebut! Musa tidak mengatakan "Hai Fir'aun yang zalim, engkau sesat dan
masuk neraka!". Melainkan Musa menawarkan, "Maukah engkau membersihkan
diri?". Inilah adab, inilah akhlak, inilah ruhul Islam!
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin memberikan peringatan keras tentang
bahaya lisan (Afatul Lisan). Beliau menjelaskan bahwa caci maki dan
perkataan kasar (al-fuhsy wa al-baza'ah) seringkali
bersumber dari hati yang dijangkiti penyakit kesombongan (takabbur). Merasa diri paling pintar, paling bersih,
dan berhak menghina orang lain. Padahal Rasulullah SAW telah bersabda dengan
tegas:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Oleh karena itu, hadirin sekalian, mari
kita jadikan agama ini sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk
berdemokrasi dan menyampaikan aspirasi. Silakan sampaikan kritik yang tajam
pada kebijakannya, namun bungkuslah dengan adab dan akhlak yang mulia. Jangan
biarkan idealisme pemuda kita dirusak oleh hilangnya adab ketimuran dan akhlak
keislaman.
Semoga Allah SWT senantiasa melembutkan
hati kita, membimbing lisan kita untuk selalu menuturkan qaulan layyina (perkataan yang lemah lembut), qaulan sadida (perkataan yang benar), dan menjauhkan kita
dari lisan yang mencaci maki. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
KHOTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا
كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ،
اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
وَحَافِظُوا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوا
أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى
بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا:
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَارْضَ
اَللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ
بَلْدَتَنَا هٰذِهِ بَلْدَةً طَيِّبَةً آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَسَائِرَ بِلَادِ
الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، يَا رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ
الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Nine Adien Maulana, Guru PAIBP SMAN 2 Jombang-Sekretaris DP MUI Kabupaten Jombang

0 Komentar