[Jombang, Pak Guru NINE] - Mendidik anak tidak
selalu tentang memaksanya berjalan di jalur yang kita rancang dengan sempurna,
melainkan tentang kesabaran menemaninya menemukan jalan di mana ia bisa
bertumbuh menjadi manusia yang bertanggung jawab. Pelajaran berharga ini baru
benar-benar kami pahami melalui perjalanan panjang nan berliku bersama putra
sulung kami, Caraka Shankara.
Diawali Kekecewaan
Kisah ini bermula dari
sebuah kekecewaan. Layaknya remaja pada umumnya yang memiliki ambisi besar,
Caraka sempat menelan pil pahit ketika impiannya untuk lolos Seleksi Penerimaan
Murid Baru di SMAN 5 Taruna Brawijaya Kediri harus kandas. Sebagai konsekuensi
dari realita tersebut, ia pun harus berdamai dengan keadaan dan mengikuti
arahan saya untuk mendaftar di SMAN 2 Jombang, kebetulan tempat di mana saya
sendiri mengabdi sebagai pendidik.
Akhirnya, ia resmi
menjadi bagian dari sekolah ini. Namun, siapa sangka bahwa penerimaan ini
hanyalah babak pembuka dari sebuah dinamika hidup yang akan menguras energi
lahir dan batin kami. Selama tiga tahun Caraka berseragam putih abu-abu di SMAN
2 Jombang, jantung saya dan istri seolah diajak menaiki wahana rollercoaster tanpa henti. Sebagai orang tua yang
memahami betul kemampuan akademiknya, kami sepakat untuk tidak menuntut
kesempurnaan yang tidak realistis. Harapan kami sebenarnya teramat sederhana:
ikutilah proses belajar-mengajar dengan wajar. "Berperilakulah yang
pantas sebagai seorang murid SMAN 2 Jombang!" adalah mantra
yang tak pernah lelah kami rapalkan setiap kali menasihatinya.
Ujian
Kesabaran
Sayangnya, masa remaja
seringkali membawa gejolak pemberontakan. Caraka selalu ingin tampil beda, dan
celakanya, "beda" dalam konteks ini bukanlah sebuah inovasi,
melainkan ketidakdisiplinan. Di sekolah yang difavoritkan oleh masyarakat
Jombang ini, kedisiplinan dan semangat belajar Caraka justru berada di titik
nadir. Ia pun dengan cepat masuk ke dalam "radar" para guru sebagai
salah satu murid istimewa yang membutuhkan bimbingan ekstra tegas.
Sebagai seorang ayah
sekaligus guru di sekolah yang sama, ini adalah ujian kesabaran yang luar biasa
tajam. Ruang guru, yang seharusnya menjadi tempat saya berdiskusi, perlahan
berubah menjadi ruang yang menyesakkan dada. Tiap kali rekan-rekan sejawat mulai
berbagi cerita tentang murid-murid "istimewa", nama Caraka nyaris tak
pernah absen. Rasa malu dan sedih tentu tak bisa disembunyikan, tetapi lari
dari kenyataan bukanlah pilihan. Alhamdulillah, dalam badai emosi itu, saya dan
istri mampu saling menguatkan, menghadapi semuanya dengan sabar meski diiringi
derai air mata dan doa yang bersandar penuh kepada-Nya.
Untuk menjaga kewarasan,
saya membiarkan rekan-rekan guru bebas berbicara dan mengevaluasi
murid-muridnya, sementara saya memilih menarik diri dan mencari suaka di
laboratorium Fisika. Di sanalah, di sela-sela jam istirahat, saya mengalihkan
segala kepenatan dengan merangkai kata. Semua energi negatif saya sublimasikan
menjadi karya positif berupa esai opini, narasi berita, hingga naskah khotbah
yang rutin saya unggah di blog pribadi, www.pakgurunine.com.
Laboratorium itu menjadi saksi bisu bagaimana seorang ayah menyembuhkan lukanya
sendiri melalui literasi.
Selepas
Kelulusan
Waktu berlalu, dan syukur
tak terhingga kami panjatkan ketika Caraka akhirnya berhasil menyelesaikan masa
studinya. Namun, kejutan belum berakhir. Di saat mayoritas teman-teman
sebayanya begitu bersemangat mendaftar ke Perguruan Tinggi Negeri, Sekolah
Kedinasan, atau institusi bonafide lainnya, Caraka justru mengambil sikap yang
sangat kontras. Ia tidak tertarik untuk segera melanjutkan studi. Ia memilih
sebuah jalan yang berbeda: mendahulukan kerja dan mencari penghasilan.
Secara logis, memaksakan
kehendak kepada anak yang belum berminat dan siap secara mental untuk kuliah
adalah sebuah blunder pendidikan. Memaksa Caraka duduk di bangku kuliah saat
hatinya menolak hanya akan melahirkan pemborosan waktu dan konflik batin yang
tak berkesudahan. Tuhan pun mengabulkan jalan yang ia pilih. Melalui proses
yang tak terduga dan berjalan begitu cepat, Caraka diterima bekerja di PT Roman
Ceramic International di Kawasan Ngoro Industrial Park (NIP) Mojokerto. Ia kini
tengah menjalani masa kontrak magang selama 6 bulan dengan antusiasme yang luar
biasa.
Edukasi
Alami
Di sinilah letak
keindahan skenario Allah SWT. Apa yang tidak berhasil dibentuk secara ideal
oleh institusi pendidikan formal, kini sedang ditempa dengan sempurna oleh
kerasnya dunia kerja. Sejak bekerja di pabrik keramik tersebut, Caraka
mengalami proses edukasi alami yang membahagiakan.
Kedisiplinan yang dulu
seolah mustahil ia miliki, kini perlahan bangkit. Ancaman pemotongan gaji
akibat keterlambatan sukses memaksanya bangun pagi dengan penuh kesadaran.
Durasi keluyuran dan begadang hingga larut malam pun berkurang drastis,
tergerus oleh rutinitas 8 jam kerja (pukul 07.30 - 15.30 WIB). Saat kembali ke
kamar kos, rasa lelah membuatnya memilih untuk beristirahat.
Kamar kosnya kini menjadi
laboratorium kehidupan. Keputusannya membawa peralatan memasak sendiri adalah
media belajarnya untuk mempraktikkan manajemen waktu dan kemandirian finansial.
Inilah masa belajar Caraka yang sesungguhnya; sebuah ruang di mana ia menempa
diri secara mandiri karena tuntutan dan tanggung jawab lingkungan kerja.
Refleksi
Syukur
Melihat perubahan
sikapnya yang perlahan namun pasti menuju ke arah yang jauh lebih baik, hati,
perasaan, dan pikiran kami diliputi ketenangan yang luar biasa. Kegembiraan ini
pun menular hingga ke kakek, nenek, dan keluarga besar. Semuanya mendukung pilihan
Caraka dengan penuh kasih sayang—mulai dari memberi uang saku, membelikan
peralatan masak, menyiapkan masker pelindung, hingga rajin menelepon sekadar
untuk mengingatkan. Alhamdulillah, semesta seolah bersorak mendukung
transformasinya.
Saya dan istri berkali-kali
merefleksi diri. Andai saja ego kami menang dan kami memaksanya mendaftar
kuliah, kami yakin ketenangan ini belum akan kami rasakan. Kami mungkin masih
akan terus berjuang dan dirundung kekalutan. Caraka telah membuktikan argumen
logis bahwa pendidikan tidak selalu harus dibatasi oleh dinding kampus.
Kami kini berpikir
positif bahwa nilai bekerja yang dijalani Caraka sepadan dengan proses
belajarnya; ini adalah sebuah "kuliah" di dalam dunia kerja yang
sesungguhnya. Meskipun saat ini ia menempuh jalan yang berbeda, jauh di lubuk
hati kami tetap berharap kelak—ketika semuanya sudah memungkinkan dan Caraka
benar-benar telah siap serta matang—ia tetap bisa mengenyam pendidikan tinggi
dan mendapatkan legalitas administratif berupa ijazah minimal sarjana. Aamiin.[pgn]
Nine Adien Maulana, ayah Caraka Shankara, Taliya Kayana dan Wacana Bawana

0 Komentar